Setelah menikah tak setetespun kebahagiaan yang ia rasakan. Ia melalui hari-harinya bersama seorang suami yang kejam dan otoriter. Hanya penderitaan dan caci maki yang ia terima. Hanya karena salah masak, ia menerima tamparan dari suaminya. Ia tidak bisa melampiaskan amarahnya pada suaminya karena suaminya akan lebih marah. Ia hanya bisa memendamnya dalam hati.
Ditengah dirinya yang merasa teraniaya, ia harus tetap melayani suaminya walaupun bukan berdasarkan rasa cinta. Suaminya selalu memukul. Tetapi sesakit apapun ia tidak menjerit, ia hanya menangis. Karena ia malu bila didengar tetangga. Pernah suatu hari ia dicambuk memakai ikat pinggang karena tidak mau melayani suaminya. Badannya memar dan tidak dapat bergerak karena terlalu sakit.
Semakin lama kebiadaban suaminya semakin nampak. Hanya karena ia tidak sempat membersihkan kertas-kertas yang menjadi mainan anak-anaknya, ia dimarahi suaminya. Suaminya menyuruhnya memakan semua kertas-kertasnya, dan menodongkan golok ke leher Yun In. Yun In pasrah. Akhirnya suaminya tidak jadi membacoknya.
Bukan hanya Yun In, tetapi anak-anaknya pun menjadi korban kekejaman ayahnya. Pada suatu hari mereka sekeluarga ingin pergi makan malam bersama keluar, Ay chen, salah satu dari anaknya tidak ikut. Lalu akhirnya Ay Chen tinggal dirumah. Pada saat mereka pulang Ay Chen terlalu lama membukakan pintu. Akhirnya Ay Chen ditampar dan di bilang pelacur.
Walaupun ia mengalami banyak tekanan, cacian, makian dan perlakuan kasar ia tetap sabar dan tidak pernah menyesal akan pernikahannya sejak tahun 1970 Itu. Hal yang paling menyakitkan adalah karena ternyata suaminya telah menikahi perempuan lain di Batam dan berniat membawa istri barunya itu tinggal bersama-sama dengan mereka. Yun In tidak setuju dan meminta cerai. Karena suaminya tidak ingin menceraikan, akhirnya suaminya tidak jadi membawa istri barunya itu.
Karena kesulitan keuangan suaminya menyuruh Yun In untuk bekerja di Kali Jodo sebagai pelacur. Yun In tidak setuju, akhirnya ia pun mendapat pukulan dari suaminya. Setelah itu ia mulai menyadari bahwa ia terlalu tersiksa dengan perlakuan suaminya. Ia juga akhirnya harus mengurus anak dari istri baru suaminya.
Akhirnya pada suatu hari kondisi kesehatan suaminya mengalami penurunan. Karena kebenciannya Yun In mengusir suaminya dan mengungkapkan kemarahannya bahwa ia tidak akan pernah memaafkan suaminya bahkan sampai liang kubur.
Suami Yun In tinggal dipinggir jalan sampai pada suatu saat kondisinya semakin lemah. Akhirnya Yun In membawa suaminya pulang. Pada saat dirumah, mereka mendapatkan kunjungan dari teman-temannya. Itulah sat pertama kalinya suami Yun In mengucapkan kata maaf karena telah menyiksa dan memukul Yun In. merekapun didoakan. Walaupun kaget, Yun In merasa iba dan bisa mengucapkan kata pengampunan, tetapi masih menyimpan benci dalam hati.
Ditengah kebencian yang belum padam, anak-anak Yun In tetap berusaha untuk berada disamping ayah mereka yang semakin kritis. Mereka berdoa supaya Tuhan mengampuni kesalahan papa mereka.
Sepeninggal sang suami, Yun In dan anak-anaknya belum sepenuhnya memaafkan sang ayah. Pada kesempatan yang berbeda terjadi sesuatu yang luar biasa dalam hidup keluarga Yun In. Yun In berdoa untuk dipulihkan dan mengampuni suaminya. Setelah itu Yun In merasakan damai sejahtera yang luar biasa. Ay Chen, sang anak berdoa untuk bisa mengampuni ayahnya. Dan dalam doanya ia melihat ayahnya menangis, lalu setelah ia melepaskan pegampunan, ia melihat ayahnya tersenyum.
“Seandainya papa saya masih bisa denger, saya ingin bilang, saya juga sayang sama dia.” Kata Ay Chen sambil menangis
Akhirnya Yun In dan keluarganya dapat merasakan kebahagiaan yang sempurna. Karena mereka telah mengampuni.
“Arti Yesus buat saya adalah segala-galanya, karena Dia saya ada damai sukacita, karena Dia, saya bisa hidup seperti ini didunia ini.” Ungkap Yun In dengan penuh sukacita.
Sang anak yang ditinggal ibu kandungnya pun mengungkapkan isi hatinya bahwa kerinduannya adalah ingin bertemu dengan keluarga kandungnya. (Kisah ini ditayangkan pada 10 Agustus 2010 dalam acara Solusi Life di O’Channel).
Berawal dari teman yang menceritakan bahwa dia melihat Evert di mall bersama wanita lain, membuat istri Evertlandus curiga. Dia mencoba memeriksa handphone Evert yang tidak pernah dihapus SMS-nya. Kecurigaan ini diperkuat dengan salah satu SMS yang mengungkapkan kata ‘sayang’ dari suami Debby, Evertlandus. “Akhirnya saya tanya sama suami saya. Saya sebut nama cewek ini (yang ada di handphone tersebut).” kisah Debby, istri Evert. Lalu Evertlandus menceritakan bahwa cewek ini cuma curhat dan tidak ada apa-apa di antara mereka. Untuk membuktikannya, Evert menelepon si cewek di depan istrinya.
“Istri saya marah-marah dengan wanita itu. Saya kemudian bilang kepada wanita itu kalau kami tidak bisa berhubungan lagi.” kisah Evertlandus kemudian. “Tetap aja. Saya kayaknya nggak percaya. Saya pikir suami saya ini pasti selingkuh. Oh, liat aja. Kalau lu bisa, saya juga bisa. Itu yang tertanam di pikiran saya.” timpal Debby kemudian.
Kecemburuan itu sudah membutakan mata hati istrinya. Demi membalas Evert, sebuah tindakan konyol pun dilakukan sang istri. “Ya, tadinya memang urusannya itu cuma urusan pekerjaan. Karena sering bersama, ya ga tahu kenapa, kenapa saya bisa gitu ya, saya tertarik sama cowok itu dan akhirnya melakukan hubungan yang terlarang.” tutur Debby kemudian.
Di lain sisi, Evert pun curiga kepada istrinya. Istrinya yang tidak pernah membuatkan teh maupun menyediakan roti untuknya, mau menyediakan teh dan roti untuk laki-laki tersebut. Sang istri pun pandai menutupi perselingkuhannya. Ajakan Evert dan temannya untuk ikut ke Bandung tidak digubrisnya. Dia malah bersenang-senang dengan pria selingkuhannya.
Ketika Evert sudah pulang dari Bandung, Evert semakin merasa curiga. Pasalnya adalah ketika dia menggedor pintu rumah yang terkunci, lama tidak ada yang membuka. Akhirnya agak lama baru Debby membuka pintu. Mengingat peristiwa itu, Debby masih ingat rasa takut ketahuan oleh suaminya karena perselingkuhan yang dia lakukan.
Saat itu Debby menjelaskan bahwa dia habis mandi, dan sekarang laki-laki yang membantunya beres-beres rumah orangtuanya lagi mandi. Di situlah Evert mulai berpikir, “Wah, sudah terjadi ini.” Evert saat itu menahan dirinya dan mengatakan bahwa mereka sedang ada masalah rumah tangga dan meminta laki-laki itu untuk tidak datang dulu ke rumah mereka. Evert takut dia bisa membunuh laki-laki tersebut.
Kebusukan itu akhirnya Evert bongkar di depan keluarga sang istri. Belum puas sampai di situ, Evert melakukan tindakan gila lainnya. Dia menginterogasi istrinya dan menanyakan berapa kali mereka melakukan hubungan terlarang itu. Istrinya mengatakan bahwa sudah tiga kali mereka berhubungan intim, tapi Evert tidak percaya. Meskipun tembok yang dipukul oleh Evert, namun istrinya menangis juga. Evert kemudian menyuruh istrinya agar menelepon laki-laki selingkuhannya tersebut, kalau tidak dia akan mati malam ini.
Malam itu juga, Debby menelepon dan meminta laki-laki selingkuhannya untuk datang karena ada suatu urusan yang ingin dibicarakan. Saat itu juga, Debby mengakui kesalahannya dan dia tidak mau mengulanginya lagi. Debby ingin agar semuanya berjalan lancar dan suaminya tidak marah-marah lagi, namun ditolak mentah-mentah oleh Evert.
Akhirnya laki-laki itu datang, Evert mengunci pintu rumahnya. Pertama-tama, dia bilang bahwa laki-laki itu seperti pagar makan tanaman. Dia juga menanyakan berapa kali mereka berhubungan intim. Ketika dijawab tiga kali, Evert tidak percaya. Laki-laki itu dipukul olehnya. Pukulan itu membuatnya tangannya sakit, sehingga dia pun menggunakan kaki dan lutut untuk menghajar perut laki-laki tersebut.
“Saya rencana mau bunuh dia sih, saya mau hajar pakai besi. Akhirnya, saya telepon adik saya itu. ‘Eh, lu mau liat ga nih, laki-laki yang tiduri bini gua…’ Adik saya suruh saya tahan di situ. Tak lama kemudian kakak saya telepon. ‘Siapa tuh, kunci dia di kamar, biar kita kuliti dia, kita potong-potong dia’. Kalau saya lepasin dia ke tangan kakak dan adik saya, matilah dia.”
Namun, ketika adik dan kakaknya datang, dia tidak membiarkan mereka masuk. Evert menyuruh agar lelaki itu tetap di dalam rumah dan tidak keluar rumah. Setelah itu, Avert meminta nomor telepon keluarga si laki-laki selingkuhan istrinya, namun dia tidak mau memberikannya. Alasannya, ”Bang, jangan. Ayah saya lagi sakit, nanti kalau dia denger yang begini dia bisa mati.”
“Aku tidak mau tau, kasih ga nomor keluarga lu…” tanya Evert kepada laki-laki itu.
Saat itulah adik Evert masuk. “Adik saya ke dapur dan mengambil pisau. Terus dia disamperin..” Dia menyorongkan pisau itu ke laki-laki tersebut dan meminta nomor telepon yang diminta. “Dari tadi kenapa…” katanya setelah memukul kepala laki-laki dengan menggunakan helm.
Akhirnya Evert menelepon keluarga laki-laki itu. Meskipun tidak bisa menghubungi ayahnya, akhirnya Evert berbicara dengan kakak perempuannya. Mereka datang ke rumah Evert. Evert juga memanggil RT setempat dan meminta laki-laki tersebut untuk tidak datang di sekitar rumah / RT tempat mereka tinggal. Perjanjian ini dibuat hitam di atas putih, jadi kalau masih berhubungan, Evert akan lapor polisi.
Setelah semuanya selesai, mereka pun pulang ke rumah. “Saya sudah tidak mikirin malu, saat itu sudah tidak ada malu di hati saya terhadap kondisi ini.” Sebaliknya, Debby sangat merasa malu atas kejadian tersebut.
Kejadian tersebut membuat Debby memutuskan untuk berpisah dengan suaminya. “Karena saya pikir, buat apa lagi saya pertahankan? Kan, saya sudah ketahuan selingkuh, saya sudah tidur dengan laki-laki lain.” Namun lain dengan yang ada di pikiran Evertlandus.
“Buat saya, tidak ada kata perceraian, semua masalah kita selesaikan bersama. Bahwa pernikahan saya buat sekali seumur hidup.” Perkataan Evert seperti itu, membuat istrinya begitu menyesal dan sedih sekali. Kenapa ya saya melakukan hal seperti itu, begitu kata hati Debby.
Memang Evert bisa menerima kejadian ini, namun tetap ada yang tersisa di hatinya. Hal ini membuat Debby ingin menjauh sebentar dan kembali ke rumah orangtuanya. Evert marah-marah, semua barang Debby dikeluarkan dan Debby disuruh pergi dari sana. Debby yang duduk di bawah lantai, hanya bisa menangis menerima lemparan barang-barang dari suaminya.
“Saya merasa puas kalau melihat dia menangis, saya puas kalau bisa menyakiti dia. Saya ingin dia merasakan sakit seperti saya. Saya memang tidak pernah pukul dia, kalau saya kesel banget, saya pukul tembok.” itulah perasaan Evert saat itu. Susah bagi Evert untuk menghapus luka batin yang dideritanya.
Evert mencoba berbagai cara. Ketika di tempat tidur, Evert memeluk istrinya, tapi ada perasaan tidak nyaman. “Tapi saya merasa jijik aja gitu, saya merasa kok bekas orang ya? Terkadang juga terbayang di pikiran saya bahwa dia tidur dengan laki-laki lain. Saya kok bisa seperti ini ya? Saya komplain dengan Tuhan.”
Selama 1 tahun itu Evert menyimpan rasa sakit di hatinya, meskipun sebagai seorang hamba Tuhan, susah baginya untuk mengampuni perselingkuhan sang istri. Apalagi ketika dia sedang mempersiapkan materi tentang pengampunan, terjadi pertentangan dalam batinnya. Dia sampai-sampai membenturkan kepalanya.
Kemudian ada suara dalam hatinya. “Saya tidak tuntut kamu sempurna kok…Kamu mau naik kelas.” Meskipun sangat menyadari hal itu, tapi Avert tetap saja menderita. “Iya, saya sakit lho. Saya nggak kuat menahan. Tuhan, saya bisa gila nih. Lebih baik saya mati aja deh. Saya berharap kepala saya pecah.”
Dengan segala keputusasaan, Evert tetap pergi ke acara tersebut. Di atas sepeda motor yang setia membawanya ke tempat tujuan, Evert terus bicara dengan Tuhan tentang apa yang harus dia khotbahkan. Dia meminta bisa mengampuni istrinya, agar tidak ada rasa sakit.
”Jadi, ketika saya berkhotbah, Tuhan mengingatkan jika ada orang yang menyakitinya, ampunilah dia, doakanlah dia, berkati dia, Tuhan ingatkan yang lebih mengena kepada saya adalah jika engkau memberikan persembahan kepada-Ku tapi punya masalah dengan saudaramu. Pulanglah, bereskan masalah itu terlebih dahulu.”
Selesai ibadah, Evert menemui sang istri. Evert berdoa dan mengatakan kepada istrinya bahwa dia mengampuni istrinya. Sejak saat itu, damai sejahtera ada pada keluarga mereka. Rumah tangga mereka dipulihkan. (Kisah ini ditayangkan pada acara Solusi Life di O Chanel tanggal 11 Agustus 2010)
Berpetualang mencari cinta dengan para pria asing telah membawa Magda jatuh ke dalam dunia yang paling hina dan menjijikkan. Dengan semua orang asing yang dikenalnya, Magda pasti melakukan hubungan seks. Layaknya suami isri, hubungan itu dilakukan Magda tanpa suatu beban dan hanya dianggap sebagai bagian dari hidupnya saja, hanya untuk memuaskan keinginan biologisnya saja. Ada sekitar sepuluh pria asing yang pernah tidur dengannya.
Hal tersebut bermula dari suatu obsesi yang tak dapat dibendungnya sejak berusia 25 tahun. Magda ingin sekali memiliki suami orang asing karena secara fisik mereka menarik bagi Magda. Magda senang dengan gaya hidup modern dan Magda merasa bangga bisa memiliki pacar orang asing.
Di usia itulah untuk pertama kalinya Magda menjalin cinta dengan pria asing. Bahkan setelah tiga bulan berpacaran, Magda rela mengorbankan hal yang sangat berharga dalam dirinya. Saat itu memang Magda menangis karena merasa ada sesuatu yang hilang dalam dirinya. Magda ingin menunjukkan kepada pria itu bahwa dirinya sudah berkorban banyak dan berharap agar pria asing ini tidak meninggalkan dirinya setelah pengorbanan yang dilakukannya.
Hidup serumah tanpa ikatan pernikahan dijalani oleh Magda. Di tahun keempat, ketakutan sempat mengancam kehidupannya. Magda sempat hamil. Saat itu yang terpikir olehnya hanyalah bagaimana mencari jalan selamat saja, mencari aman jangan sampai orang tuanya tahu tanpa ia sendiri berpikir untuk bertanggung jawab. Aborsi pun menjadi pilihan. Saat melakukannya pun Magda tidak merasa menyesal.
Sungguh perbuatan yang sangat biadab. Magda berharap semua pengorbanan yang dilakukannya dapat berakhir di pelaminan. Namun semuanya sia-sia. Setelah delapan tahun hidup tanpa kepastian, Magda memutuskan meninggalkan pria tersebut.
Obsesinya yang terus mendarah daging semakin membuat Magda menjalani kehidupan yang penuh dengan seks. Karena Magda hanya berpikir kesenangan yang ia dapatkan lebih banyak daripada rasa sakit yang harus ia terima. Meskipun tujuan sampai ke pelaminan tidak tercapai, Magda terus berganti-ganti pasangan di dalam pergaulan kehidupannya. Magda tidak pernah berpikir bahwa apa yang dilakukannya itu salah di mata Tuhan.
Saat Magda berpacaran degan pria asing yang kesepuluh, sebuah konsekuensi akibat dosa seksual kembali diperhadapkan terhadap dirinya. Magda kembali hamil dan ia kembali memiliki niat untuk mengaborsi anaknya. Sedangkan pasangannya saat itu sama sekali tidak mau bertanggung jawab dan kembali ke negaranya.
Ketakutan mencengkeram kehidupan Magda. Saat Magda berniat untuk melakukan aborsi, secara tidak sengaja Magda bertemu dengan temannya dan ia menceritakan segala persoalannya. Temannya langsung menyarankan Magda agar tidak menggugurkan kandungannya karena anaknya nanti pasti cantik. Magda pun berpikir ulang untuk mengaborsi kandungannya. Karena memang setelah ia dulu melakukan aborsi untuk pertama kalinya, Magda sadar kalau hal itu tidak memecahkan masalah dan ia sempat bertekad untuk tidak melakukan aborsi lagi.
Dalam keadaan yang penuh beban, Magda hanya bisa berdoa. Sang bayi pun akhirnya lahir melalui operasi cesar. Itulah gunanya doa, sampai sekarang Magda percaya doa itu besar kuasanya. Apapun yang kita doakan, kita minta, kalau itu untuk sebuah kekuatan, Tuhan pasti kasih dan memberikan jalan keluar.
Magda akhirnya berjuang agar dapat menafkahi dirinya dan anaknya. Pengalaman masa lalu yang menyakitkan menimbulkan kebencian yang mendalam. Magda harus menyaksikan bagaimana tidak tenangnya hidup anaknya yang lahir tanpa ayah. Magda pun hidup dalam dendam, dendam yang ia pendam.
Melalui sebuah buku yang dibacanya dari seorang teman, Magda semakin mengerti apa yang telah ia lakukan selama ini salah. Buku itu membahas tentang perzinahan, dosa bila menghambakan diri terhadap uang dan Magda sadar kalau selama ini ia telah melakukan zinah. Dosa-dosa yang dulu ia lakukan selalu muncul kembali seperti film dan membuat Magda malu sampai menangis. Magda hanya berpikir bagaimana hidupnya telah menyakiti hati Tuhan.
Magda pun berdoa, meminta pengampunan atas segala dosa-dosanya dan ia menyadari apapun yang telah dilakukannya di masa lalunya, dirinya tetap berharga di mata Tuhan. Dan Magda sangat bersyukur akan hal ini karena Tuhan tetap mengasihi dirinya apa adanya.
Tidak berhenti sampai di sana, Magda akhirnya mengikuti sebuah camp atas ajakan seorang teman. Sesuatu yang sangat dahsyat akan segera terjadi di dalam hidupnya. Saat mengikuti sessi mengenai pengampunan, Magda benar-benar merasakan kebencian meluap di dalam hatinya dan ia tidak sanggup mengampuni pria yang telah menghamili dan meninggalkan dirinya. Sampai keesokan harinya Magda tetap menyimpan kebencian itu. Selama ini Magda berpikir dengan melupakan masalah dan melupakan orang yang telah menyakitinya berarti ia telah mengampuni orang tersebut. Namun ternyata Magda salah karena kebencian di hatinya masih sangat berbekas.
Magda berusaha untuk memaafkan bapak dari anaknya, tapi tidak bisa. Tetap saja Magda tidak sanggup mengampuninya. Ada satu lagu yang Magda tidak hapal benar liriknya tapi intinya berkata tentang ‘aku sayang Kristus, aku cinta Kristus’. Saat Magda menyanyikan lagu itu, ia mendengar bisikan, “Kalau kamu sayang sama Aku, maafkan dia.” Meskipun Magda benar-benar tidak tahu bagaimana ia bisa memaafkan bapak dari anaknya, namun akhirnya pengampunan itu keluar dari hati Magda. Gejolak-gejolak nafsu itu tidak lagi dirasakan Magda.
Magda telah bebas dari jeratan dosa yang telah mencengkeram hidupnya selama bertahun-tahun karena dosa tidak akan pernah membawa kedamaian. Saat ini Magda telah hidup bahagia dengan anaknya. Kepuasan pun dirasakan Magda. Saat ini Magda hanya merasakan bahwa Tuhan itu segalanya. (Kisah ini ditayangkan 3 Desember 2009 dalam acara Solusi Life di O’Channel).
Sumber Kesaksian :
Magda Paula Marpaung (jawaban.com)
Professor Irwanto adalah sesosok pria yang aktif dalam isu-isu sosial, sepert HIV / AIDS, narkoba dan penghapusan seksual komersial anak. Di dalam kondisinya yang cacat, ia dianugerahi penghargaan oleh MURI sebagai Guru Besar Penyandang Cacat pada bidang Kemanusiaan. Namun tahukah Anda bahwa kondisi cacat yang dialaminya adalah akibat dari kasus malpraktek yang berawal dari rasa sakit yang ia rasakan di dadanya?
“Sebelum tidur, saya merasakan dada saya tidak enak rasanya. Seperti ada yang menekan dan mengikat saya. Sebenarnya tidak sakit sekali, tapi seperti ada yang menekan di dada saya,” kisah Irwanto.
Berawal dari rasa sakit inilah, ia pun pergi ke rumah sakit terdekat. Sesampainya di sana, tanpa diduga, dokter langsung meminta agar Irwanto menjalani pengawasan di ICCU, karena dikuatirkan terjadi sumbatan pada jantungnya.
Semenjak awal, dokter hanya melakukan pembicaraan dengan isteri Irwanto. Kehadiran Irwanto tidak dianggap sama sekali. Tanpa berkonsultasi lansung dengan Irwanto, tindakan medis dilakukan oleh para dokter terhadap Irwanto. Ternyata, cairan infus yang dimasukkan ke dalam tubuhnya akan mengubah hidupnya untuk selama-lamanya.
Tanpa pemeriksaan kondisi klinis lebih lanjut, Irwanto langsung diberikan obat untuk mencairkan darah, koagulan yang namanya streptoginase. Satu jam setelah masuk rumah sakit dan diberikan obat dalam cairan infusnya, Irwanto merasakan sakit yang luar biasa di tengkuknya, lalu terjadi trombose, keluar darah dari gusi-gusi Irwanto dan ia langsung mengalami kelumpuhan.
Irwanto dipenuhi kebingungan, apakah yang dialaminya saat itu nyata atau tidak? Darah terus keluar dari hidung dan mulutnya. Baru beberapa saat yang lalu ia merasa dirinya baik-baik saja, lalu kemudian ia sudah seperti mayat hidup, tidak dapat menggerakkan anggota badannya sama sekali.
Saat itu, dokter yang merawat Irwanto mengajak isterinya untuk pergi ke pojokan kamar dan menjelaskan bahwa Irwanto sudah tidak memiliki pengharapan lagi. Ia akan segera meninggal. Parahnya lagi, Irwanto mendengar sendiri percakapan yang dilakukan oleh dokter dengan isterinya.
“Dokter tega-teganya memanggil isteri saya di sebuah ruang sempit dan mengatakan, ‘Ibu, saya sudah tidak dapat membantu ibu. Bapak pasti akan meninggal karena infeksinya sudah sampai ke paru-paru’,” kisah Irwanto.
Semua pikiran akan masa depan kehidupannya dan kehidupan keluarganya terus melintas di kepalanya.
“Bagaimana nanti dengan tugas-tugasku? Berapa biaya yang harus aku tanggung nanti? Anak-anakku akan makan apa nanti? Semuanya campur aduk di otak saya. Saya melihat isteri saya sudah mulai bingung menangis, anak-anak saya menangis, teman-teman saya sudah mulai bingung juga, dan saya hanya bisa bengong seperti zombi,” kisah Irwanto dengan kepiluan yang tergambar jelas di wajahnya.
Namun kematian ternyata belum berpihak pada Irwanto. Ia masih bertahan hidup meskipun mengalami kelumpuhan dari dada ke bawah. Karena kondisi tersebut, Irwanto sempat berpindah-pindah rumah sakit dan mengkonsumsi berbagai macam obat-obatan. Ketika ia memutuskan untuk berobat ke Singapura, bertolak belakang dengan semua diagnosa dokter yang telah diterimanya, dokter di Singapura menyatakan kala itu sebenarnya ia hanya menderita kelelahan semata.
“Pada tagihan obat saya, tercatat sebuah obat yang namanya streptoginase, dan obat itulah yang diduga memecahkan syaraf saya. Dan saya mulai ingat, persis pada waktru infus berisi obat itu masuk, saya sakit tengkuk, dan saya minta dioleskan obat gosok, lalu kemudian darah keluar dari mulut dan hidung saya, itulah saatnya saya mengalami kelumpuhan. Bukan karena sebab yang lain,” ujar Irwanto menceritakan awal kelumpuhan dirinya yang mengubah jalan hidupnya secara total.
Dan ternyata semua diagnosa dokter mengenai infeksi yang sudah sampai ke paru-parunya adalah sebuah kesalahan. Para dokter di Singapura bahkan mentertawakan diagnosa awal yang divoniskan pada Irwanto. Irwanto merasakan kebingungan yang tak berkesudahan akibat peristiwa ini. Hal itulah yang meyebabkan ia akhirnya menderita depresi.
Menyadari bahwa dirinya telah mengalami kelumpuhan dari dada sampai ke ujung kaki, Irwanto harus menerima kenyataan bahwa hidupnya akan berakhir di kursi roda. Irwanto pun merasa putus asa.
“Hari-hari itu saya benar-benar menderita depresi berkepanjangan. Saya tidak mau ada sinar lampu, saya tidak mau mendengar suara apapun, saya benar-benar hanya berpikir untuk mati saja waktu itu. Lalu kemudian kalau berdoa saya selalu mempertanyakan Tuhan, kenapa harus saya yang mengalami ini? Dan bukan hanya itu saja, saya juga mempertanyakan kenapa saya sekarang jadi begini?” ujar Irwanto.
Secara manusiawi, Irwanto pun mengalami keterpurukan akibat malpraktek yang menimpanya. Namun isterinya selalu ada di sampingnya untuk memberikan dukungan. Dengan setia ia terus memperhatikan Irwanto dan mendampingi Irwanto dengan penuh pengertian. Jika Irwato sudah mulai memukuli meja, tempat tidur dan badannya dengan kedua tangannya yang sudah mulai bisa digerakkan, isterinya akan langsung mengajak Irwanto untuk membaca Alkitab. Meskipun berada dalam keterpurukan yang terdalam dalam hidupnya, namun firman yang dibacakan isterinya terus didengarkan oleh Irwanto.
Dalam keputusasaannya, Irwanto bergelut dengan pilihan-pilihan yang ada di dalam benaknya. Mau tidak mau, ia harus mengambil keputusan dan respon yang tepat atas kejadian yang menimpanya.
“Pada waktu sudah diberitahu bahwa ini kesalahan dokter, saya kemudian mulai merefleksikan apa yang akan saya lakukan selanjutnya. Apakah saya mau tetap hidup sambil terus menyesali apa yang telah terjadi di belakanga, atau saya mati saja, atau pilihan lain saya memilih hidup sambil mulai melupakan apa yang telah terjadi dan fokus ke depan. Perlahan-lahan, saya mulai menemukan jawaban saya sendiri. Kalau saya selalu hidup dengan penuh beban karena dokter yang salah, hidup saya akan selalu dipenuhi dengan kemarahan. Dan setiap kali saya marah, kondisi saya drop. Suhu badan saya tiba-tiba turun, saya menjadi sangat tidak nyaman di tempat tidur, emosi saya pun mulai jelek. Lalu saya akhirnya mengambil keputusan, saya harus bisa memaafkan dokter itu. Saya terus berdoa agar saya betul-betul bisa menghilangkan segala kemarahan saya terhadap dokter itu dan mengatakan, urusan saya dengan dia selesai,” kisah Irwanto.
Semenjak saat itulah Irwanto mulai bisa menikmati latihan yang harus ia jalani untuk menggerakkan anggota-anggota tubuhnya, dan setiap kunjungannya ke dokter bisa dinikmatinya dengan baik.
Dengan semangat yang baru, Irwanto pun bangkit untuk melangkah dalam panggilannya. Irwanto sekarang dapat melihat bahwa apa yang dialaminya bukanlah suatu cobaan ataupun ujian semata, namun Tuhan hanya ingin agar ia melakukan tugas yang lain, tugas yang telah ditetapkan-Nya menjadi tujuan Irwanto hidup di duia ini.
“Tadinya saya melakukan tugas yang lain, tapi sekarang saya diberikan hak istimewa untuk melakukan pekerjaan saya saat ini. Dan buktinya dengan keadaan saya yang seperti ini, saya bisa bertemu dengan banyak orang, saya bisa memberikan inspirasi kepada banyak orang, mungkin itulah maksud dari segala peristiwa yang harus saya lewati kemarin. Bagian dari pemulihan saya justru ketika saya melakukan tugas-tugas ini, saya mendapatkan dan menemukan banyak sekali hal yang memompa semangat saya untuk bangkit kembali. Optimisme hidup saya justru bangkit karena saya ketemu langsung dengan anak-anak yang saya bantu, ketemu NGO-nya, ketemu masyarakat. Pada akhirnya saya menyadari, selain Tuhan, yang menentukan hidup saya itu adalah pilihan yang saya buat sendiri. Jadi kalau saya tidak mengusahakan apa-apa, menyerah dengan keadaan saya, maka tidak akan terjadi apa-apa,” ujar Irwanto menutup kesaksian hidupnya yang begitu menginspirasi banyak orang.
Bagi Anda yang mengalami sebuah peristiwa yang tak dapat dimengerti, jangan pernah menyerah. Teruslah bangkit, maka Anda akan menemukan pelangi dari segala peristiwa menyakitkan yang harus Anda alami. (Kisah ini ditayangkan 2 Desember 2009 dalam acara Solusi Life di O’Channel).
Pendahuluan
Saya dilahirkan dari keluarga bukan Kristen, biarpun saya sejak TK disekolahkan di sekolah Kristen. Waktu saya masih SMP teman dari Mama saya mengajak saya untuk mengikuti sekolah minggu untuk pemuda di sebuah gereja. Di sana saya banyak mendengar tentang siapa sebenarnya Yesus Kristus. Saya juga mengikuti Retreat yang diadakan dari sekolah minggu pemuda. Setelah saya beberapa bulan ikut sekolah minggu, Gereja itu mengadakan katekisasi untuk baptisan.
Biarpun saya telah mengikuti serangkaian segala kegiatan itu, hidup saya tetap saja tidak ada yang berubah, hidup penuh dengan dosa, hidup menurut keinginan saya sendiri (keinginan daging) dan saya ke Gereja cuman untuk menghilangkan masalah-masalah yang saya hadapi setiap harinya.
Saya mempunyai perasaan kalau saya sudah mengunjungi Gereja, masalah-masalah yang ada dalam pikiran saya hilang, tetapi ternyata setelah dari Geraja, tetap saja berbuat dosa secara sadar, sampai kadang-kadang tidak merasa berdosa.
Saya sampai berpikir ingin lari dari masalah yang saya hadapi. Setelah SMP saya memutuskan melanjutkan kuliah di Jerman. Saya di Jerman dari saat datang hanya ke Gereja setiap Minggu. Saya juga sering diundang ke persekutuan Koeln melalui surat persekutuan, tetapi saya tidak datang dengan alasan yang ada dalam diri saya yaitu malas dan tidak ada waktu. Saya lebih suka bergaul dengan teman-teman yang lain yang selalu bersenang-senang untuk memuaskan keinginan daging.
Teman saya di persekutuan Koeln sudah pernah mengajak saya, tetapi jawaban saya selalu tidak dengan alasan di atas. Saya kadang-kadang di rumah juga baca Alkitab, berusaha dengan usaha saya mencari dan mengenal Tuhan melalui Alkitab, tetapi banyak saya tidak mengerti. Suatu saat saya mulai tergerak hati saya untuk mencari Tuhan, maka saya akhirnya memutuskan ikut persekutuan Koeln tahun 1994. Di sana saya banyak mendengar Firman Tuhan. Saya mulai kerasan dan mulai ikut berbagai kegiatan antara lain: PA (Pemahaman Alkitab), Kebaktian dan Persekutuan Doa (PD). Firman Tuhan tersebut benar-benar menegur saya. Saya bertekad untuk tidak melakukan dosa lagi, tetapi selalu saja saya tidak bisa keluar dari dosa yang mengikat saya. Saya bimbang dan ragu, apakah Tuhan benar-benar telah mengampuni dosa-dosa saya.
Bagaimana saya menjadi parcaya?
Kira-kira bulan November 1999 ada tawaran ikut BCP ‘95 (Bible Camp Pemuridan) yang diadakan setiap 2 tahun sekali waktu liburan Paskah dan saya ikut. Awal hari-hari di sana beberapa teman saya bertanya kepada saya apakah saya ingin hidup yang kekal dan apakah saya tahu setelah saya meninggal saya pergi ke mana? Ke surga atau ke neraka? Saya pada waktu itu bingung menjawabnya, hati saya ragu-ragu, saya tidak mempunyai keyakinan.
Salah seorang teman saya membimbing saya dengan menunjukkan ayat-ayat di Alkitab dalam menbantu saya menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Dia menunjukkan salah satu dari Yohanes 3:16 yaitu: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia telah mengaruniakan Anaknya yang tunggal supaya setiap orang yang percaya beroleh hidup yang kekal.”
Pada hari ke-3 setelah KKR oleh seorang hamba Tuhan, teman saya dari persekutuan menanyakan saya, mungkin saya berminat berbincang-bincang dengan hamba Tuhan tersebut. Hati saya benar-benar bergumul waktu itu antara mau atau tidak. Tetapi saya akhirnya terdorong dari suara hati saya bahwa saya harus melakukannya.
Saya harus menunggu agar bisa berbincang dengan hamba Tuhan tersenut, lalu seorang teman saya yang lain menghampiri saya dan bertanya ingin nunggu apa? Saya menceritakan keragu-raguan dan kebimbangan saya di dalam hidup saya yang selalu saja tidak bisa lepas dari dosa, sehingga saya kuatir masuk ke neraka. Atas penjelasan saya ini teman saya tersebut berusaha menolong saya untuk bisa mengatasinya.
Teman saya tersebut mengatakan percaya kepada Tuhan itu harus disertai penyerahan hati yang sungguh / sepenuhnya kepada Tuhan. Dia juga menjelaskan pengertian dosa, akibatnya, bagaimana orang bisa dapat hidup kekal, dll. Dia juga menjelaskan Firman Tuhan dari Yohanes 3:16. Saya teringat teman saya yang pertama sebelumnya sudah pernah memberikan ayat tersebut, tapi waktu itu saya belum mengerti dengan iman. Lalu teman saya mengajak untuk menerima Tuha Yesus dan saya jawab ya, lalu saya disuruh berdoa, pertama-tama dia dulu yang berdoa mengajarkan saya.
Dia bilang supaya saya berdoa mau percaya kepada Tuhan Yesus yang mati bagi dosa-dosa saya di kayu salib dengan sepenuh hati dan mau meninggalkan dosa-dosa saya serta hidup untuk Tuhan. Saat itulah saya percaya kepada Tuhan Yesus dan menerima Dia dengan sadar secara pribadi sebagai Juruselamat dan menjadikan Dia sebagai Tuhan dalam hidup saya, bukan dosa lagi yang menguasai.
Setelah saya menjadi percaya
Setelah saya meneriman Tuhan Yesus, hidup saya sedikit demi sedikit berubah, hidup dulu yang penuh dosa, sekarang saya punya kepekaan terhadap dosa, Roh Kudus melalui Firman Tuhan berbicara di dalam (suara) hati saya.
Dalam pergaulan:
Saya sekarang bisa menghindarkan / membatasi kehidupan saya yang dulu hanya mau untuk memuaskan keinginan daging saya yang tidak ada gunanya. Firman Tuhan menjadi pegangan hidup saya dalam perkataan dan perubahan saya.
Dalam pertumbuhan rohani:
Saya sedikit demi sedikit mengalami kemajuan rohani, contohnya: kepekaan terhadap dosa yang begitu penting. Saya mau belajar Firman. Saat ini saya juga melayani untuk bawa renungan di Persekutuan Doa, renungan di Kebaktian. Sekarang ini lagi belajar gitar, coba-coba mau ikut ngiringan dalam puji-pujian dalam Kebaktian, ya karena saya terbeban ini karena tidak banyak yang bisa main musik, mengingat jumlah kami (persekutuan Koeln) yang sedikit. Jadi tugas pelayanan harus double.
Dalam penginjilan:
Saya juga terbeban terutama dengan anak-anak Indonesia yang satu asrama dengan saya. Kami setiap bulan kadang-kadang mengadakan persekutuan doa di sana, dan kami pun mengajak mereka.
Mengenai baptisan:
Mengapa saya ingin dibaptis lagi di Jerman? Karena baptisan merupakan perintah Tuhan.
Baptisan yang saya lakukan ini terdorong dari apa yang dikatakan Firman Tuhan. Saya sebelumnya juga bergumul tentang hal ini dalam doa, karena saya pernah di baptis di Indonesia denagn tidak mengerti apa-apa. Baptisan di Indonesia saya anggap tidak berlaku lagi, karena saya waktu itu belum percaya dengan iman kepada Yesus Kristus.
Baptisan juga sebagai pernyataan iman kepercayaan saya kepada Tuhan Yesus. Perlu ditekankan Baptisna bukan jaminan orang bisa masuk ke surga atau tanda bahwa seseorang sudah percaya dan menerima Yesus.
Saya telah dilahirkan anak lelaki kepada keluarga Muslim di Malaysia. Keluarga kami mempunyai tradisi keagamaan dan politik yang panjang dan penting di Malaysia. Sebagai orang-orang kenamaan di dalam sebuah negara Islam, agama Islam telah memainkan peranan utama dalam semua aspek kehidupan seharian kami.
Saya telah dibesarkan mengikut adat istiadat Islam, diajar bahasa Arab, pendidikan Al-Qur’an, upacara-upacara penyucian, doa, puasa dan sebagainya. Tetapi saya juga mempunyai kesempatan untuk kerap mengembara dan bermastautin semasa kecil di berbagai-bagai negara asing dan menimba ilmu pengetahuan mengenai kebudayaan-kebudayaan dan agama-agama yang berlainan. Saya berpeluang berkenalan dengan penganut-penganut agama Buddha, Hindu, Yahudi, Kristian dan teramat ingin tahu, yang manakah satu-satunya agama yang betul. Memang jelas tidak mungkin adanya Allah yang Esa tetapi ada pula pelbagai jalan untuk mengenal Dia kerana ajaran dan perintah-perintah setiap agama itu kerap bercanggah; maka tidak mungkinlah Allah yang sama yang memberi ajaran agama-agama tersebut kepada manusia. Renungilah alam ciptaan-Nya! Belajarlah hukum-hukum fizik. Setiap hari kita dapat menikmati seorang Pencipta dengan kebijaksaan, pengetahuan dan logik yang tidak terbatas! Selanjutnya, Pencipta ini tidak mungkin begitu mengelirukan dan kelam kabut seperti yang dilambangkan oleh agama-agama di dalam dunia ini.
Saya teringat kepada satu peristiwa ketika berumur enam tahun. Oleh kerana darjatnya ayah sering ke merata-rata tempat sehingga kadang-kadang saya tidak bertemu dengannya untuk berbulan-bulan. Pada suatu hari, saya amat merinduinya dan ingin bertemunya. Terlintas pada fikiran saya pula untuk berdoa kepada Allah agar membawa ayah pulang. Tetapi pada ketika itu, timbul pula masalah yang besar! Saya maklum akan bagaimana berdoa dalam bahasa Arab dan juga upacara penyucian tetapi saya tidak erti langsung bagaimana berdoa kepada Allah untuk keperluan yang khusus. Saya tidak mampu berdoa kepada Allah untuk hasrat itu dalam tertib yang berpatutan, disusuli dengan ayat-ayat yang betul dan teratur bentuknya. Saya hanya mengenal Allah sebagai Tuhan yang sangat, sangat jauh. Dia Tuhan Kudus yang hanya dapat dijangkau melalui pendalaman ilmiah Al-Qur’an berserta perintah-perintah di dalamnya, upacara-upacara penyucian yang betul serta Bahasa Arab yang betul. Sebaliknya, saya mempelajari bahawa agama Kristian itu sebagai agama yang mudah, berasaskan kasih dan maaf – yang sentiasa sedia menerima mereka yang lemah dan tidak layak. Saya selalu kagum apabila menonton filem-filem Kristian semasa kecil. Sebagai contoh, dalam kisah Quo Vadis, golongan orang Kristian yang ditindas dan diseksa oleh orang Rom, dengan hati yang rela sedia memaafkan perbuatan orang Rom yang keji itu. Golongan orang Kristian itu kemudiannya telah dibuang untuk dibaham singa-singa buas yang lapar di gelanggang perlawanan (amphitheater). Berhadapan dengan maut, mereka mula memuji dan menyembah Tuhan mereka. Saya dapat merasai satu tenaga kuat yang tidak dapat dijelaskan tersebar daripada kumpulan Kristian itu. Mereka lemah, namun kuat. Mereka menghadapi maut, tetapi pasti akan hidup untuk selama-lamanya. Saya sangat kagum tetapi juga keliru. Akhirnya, saya membuat keputusan untuk berdoa dengan neutral dan memohon kepulangan ayah tidak lewat dari esok.
Pada keesokan harinya, terdapat ketukan di pintu. Ketika saya membuka pintu, terlihatlah wajah ayah yang bersenyum ke arah saya. Ayah memaklumkan bahawa dia mahu memeranjatkan kami dengan kepulangannya! Alangkah gembiranya perasaan saya dan saya tahu bahawa doa saya itu telahpun dikabuli Allah. Pada waktu itu, saya sudah yakin akan kewujudan Allah. Tetapi masih terletak pada hati saya azam untuk mengetahui siapakah Allah yang sebenarnya!
Ketika di tanahair, saya dapati bahawa adat istiadat dan hukum-hukum Islam sukar dituruti. Semasa bulan Ramadan bulan puasa, saya dilarang menelan air liur. Apabila saya terkentut selepas membersihkan diri sebelum bersembahyang, haruslah membersihkan diri sekali lagi. Jika pula menguap, ayat-ayat Al-Qur’an mesti dibaca untuk mencegah diri dari dirasuk oleh makhluk halus yang masuk melalui mulut. Saya juga dilarang menyentuh anjing, mahupun bermain dengan anjing mainan. Antara barang kepunyaan saya ialah rantai leher yang terhias dengan ayat-ayat suci yang mesti ditanggalkan sebelum ke tandas. Terdapat beribu-ribu lagi perintah-perintah yang harus ditaati sehingga saya menjadi sangat takut sekiranya melakukan kesilapan dan seterusnya gagal. Maka, saya tidak dapat menemui ketenteraman jiwa.
Pada satu ketika, saya telah menerima sebuah Al-Kitab dan mula membacanya. Saya membaca keempat-empat Injil Matius, Markus, Lukas dan Yahya di dalam Perjanjian Baru. Setiap ayat yang dibaca menyeru kepada hati saya. Saya dapati bahawa di depan Allah, kita semua pendosa. Tidak kira betapa kuat dan tekunnya kita cuba memenuhi kehendak hukum-hukum itu, kita tidak mungkin akan berjaya. Ini kerana Allah itu lebih Kudus dari yang disangka. Cuma satu dosa memadai dalam hidup kita untuk membatalkan kemasukan kita ke dalam Syurga. Tambahan pula saya mengakui bahawa saya telah berdosa sekurang-kurangnya sekali di dalam hidup saya. Tetapi Allah telahpun berfirman: (Efesus 2:8) “Hal ini demikian, kerana dengan rahmat Allah, kamu diselamatkan oleh sebab kamu percaya kepada Yesus. Penyelamatan itu bukan hasil usaha kamu sendiri, melainkan kurnia Allah.”
***
Pada satu hari, ayah dan saya sakit tenat. Saya telah menemui beberapa orang doktor, tetapi mereka semua tidak berjaya menentukan jenis penyakit itu. Biarpun saya memakan semua ubat yang diberikan, saya merasa letih dari hari ke hari. Saya telah hilang berat badan sebanyak dua belas kilogram dan terasa bahawa sudah hampir tiba masanya untuk menemu ajal. Kemudian barulah saya mula berdoa kepada Allah. Saya mengaku segala dosa-dosa saya dan memohon ampun dari Allah. Saya menerima korban yang diberi Allah melalui anaknya Yesus Al-Masih dan kematian Yesus sebagai ganti saya untuk dosa-dosa saya. Walaupun saya tidak terdaya untuk makan, berdiri atau melakukan apa-apa perkara yang fizikal – saya berupaya untuk berdoa dan bersedia untuk bertemu dihakim-Nya pada Hari Kiamat buat selama-lamanya. Memanglah menjadi hasrat saya untuk ke syurga.
Setelah empat atau lima hari terlantar di dalam bilik tanpa rawatan, saya dimasukkan ke dalam hospital. Di masa yang sama, ayah dimasukkan ke dalam Unit Rawatan Rapi (ICU). Pada satu pagi, saudara-mara saya telah mengejutkan saya dari tidur dan menyampaikan berita sedih bahawa ayah telahpun meninggal dunia…
Punca rasmi kematian arwah ayah ialah kerana lemah jantung. Tetapi sebenarnya, doktor-doktor tidak dapat mengenal pasti punca penyakit yang dihidapi kedua-dua ayah dan saya. Terdapat khabar angin bahawa kami berdua telah diracun ataupun mangsa-mangsa ilmu sihir. Saya percaya bahawa saya masih hidup kerana firman-Nya di dalam Markus 16:17-18 yang berbunyi “Kepada mereka yang percaya akan diberi tanda-tanda ini: Mereka akan mengusir roh jahat demi nama-Ku; mereka akan berkata-kata dalam bahasa yang tidak diketahui. Jika mereka memegang ular atau meminum racun, mereka tidak akan mendapat celaka. Jika mereka meletakkan tangan pada orang sakit, orang sakit akan sembuh”
Beberapa tahun kemudian saya telah menghidap penyakit batin pula dan pakar psikologi tidak dapat membantu saya. Saya terkenang akan kepada Allah, yang mampu menolong dalam situasi-situasi yang rumit; Allah yang menyebabkan orang yang beriman kepada-Nya rela memaafkan musuh-musuh mereka dan menyembah Dia ketika berhadapan maut di gelanggang lawan itu (amphitheater); Allah yang mampu memulihkan apabila seorang itu terminum racun dan juga yang rela membantu ketika kemasyghulan. Secara kebetulan isteri saya telah membawa saya ke upacara ibadat seorang Evangelist (pengkhabar Berita Baik) Amerika (Ray Jennings). Di sanalah kami sekeluarga menukar kepercayaan kepada agama Kristian. Si Evangelist itu menumpangkan tangannya di atas saya lalu berdoa untuk penyembuhan saya. Dengan serta-merta, saya dipulihkan menurut firman Allah: “Kepada mereka yang percaya akan diberi tanda-tanda ini: … jika mereka meletakkan tangan pada orang sakit, orang sakit akan sembuh”
Pada hari ini saya bergerak dengan kehadiran Allah dalam hidup saya dan saya tahu bahawa Dia bersama saya. Kerana itu, saya mahu kamu tahu, wahai si pembaca Muslim, bahawa Allah yang Esa dan benar yang diperkisahkan Al-Kitab itu akan juga bersama-sama kamu apabila kamu membuat keputusan untuk mengikut cara yang ditunjukkan Isa.
Perlakuan orangtua yang dirasanya tidak adil menimbulkan tanda tanya besar di hatiRobby Gideon. Rasa sakit hati, dendam dan kemarahan akan sikap orangtuanya, membawa Robby ke jalan kelam kehidupan. Dia bukan hanya merusak dirinya sendiri, namun juga menyengsarakan istri yang menjadi teman hidupnya.
“Mainan saya, apapun bekas dari koko. Hal itu membuat saya bertanya, apakah saya ini anak pungut?” demikian Robby mengisahkan sebab dari rasa sakit hatinya.
Kebenciannya terus dibawa Robby hingga mengubahnya menjadi pribadi yang liar. Narkoba, pergaulan yang buruk dan seks bebas menjadi pelampiasan kekecewaannya.
Orangtuanya yang tidak memperdulikan dirinya, membuat Robby semakin dalam terlibat dengan dunia malam, narkoba dan balapan liar tanpa peduli bahwa masa depannya di ambang kehancuran. Hingga akhirnya Robby bertemu dengan Lydia dan menikahinya. Tapi ternyata pernikahan itu tidak mampu mengubah Robby dari kebiasaan buruknya.
“Saya memiliki wanita simpanan, bahkan tidak ada puasnya. Sudah memiliki satu, masih tambah lagi dengan simpanan kedua.”
Dendam dan kebencian membuat hati Robby semakin keras. Dibawah pengaruh narkoba, dia menciptakan neraka bagi keluarganya.
“Istri sedang hamil pun saya pukul, dan saya tendang dari belakang. Makanan tidak enak sedikit, saya hajar.”
Semua kekerasan yang dilakukannya membuat istrinya tersiksa, hingga suatu hari usaha Robby bankrut dan hal itu memaksanya harus menumpang di rumah kakak iparnya beserta istri dan anak-anaknya. Sang kakak ipar yang tidak suka dengan dirinya, membuat Robby merasa tidak nyaman tinggal di rumah itu. Robby mengajak istrinya untuk keluar dari rumah itu, namun sang istri menolak.
“Suami saya mengajak saya keluar, katanya ‘kita pergi saja dari sini.’ Tapi saya ambil keputusan untuk tidak pergi dengannya. Lalu suami saya pergi, dan tidak ada kabar hingga kurang lebih selama tiga tahun.”
Niat Robby untuk memperbaiki ekonomi keluarga membuatnya melakukan apa saja untuk mendapatkan uang. Bahkan bisnis penyeludupan barang pun di jalaninya dipulau Batam untuk meraup kekayaan. Hingga suatu hari timbul keinginan dari hatinya untuk pulang ke Jakarta dan rujuk kembali dengan istrinya. Namun ternyata istrinya telah menutup rapat-rapat pintu hatinya.
“Sekitar jam 9 malam, Robby datang dengan membawa uang yang banyak. Dia ingin mengajak saya rujuk kembali dan membawa pergi anak-anak, tapi saya tidak mau.”
Kecewa atas sikap Lidia, membuat Robby memutuskan untuk tinggal di rumah mantan simpanannya. Setiap hari dijalaninya dengan minum-minum hingga mabuk. Tetapi suatu hari tangan Tuhan menyentuh hati Robby.
“Hari itu saya mendengar sebuah lagu, dan di situ saya sadar, saya menangis dan saya bertobat. Rasanya ada sebuah dorongan yang sangat kuat membuat saya berkata, udah, gua tobat.”
Perselisihan sang istri dengan kakaknya membuat Lidia datang mencari Robby. Pertemuan itu menjadi awal bersatunya kembali keluarga mereka. Setelah keluarganya bersatu kembali, Robby lalu merintis sebuah usaha hingga mencapai kesuksesan. Namun berkat Tuhan yang melimpah membuat Robby kembali lupa diri.
“Saat sudah mulai diberkati Tuhan, suami saya berbuat konyol lagi..” demikian kenang Lidia.
Uang dan kesuksesan, seks dan narkoba, membuat Robby membuat pribadi Robby menjadi lebih kejam dari sebelumnya. Namun itu tidak berlangsung lama, suatu hari Robby mengalami kelumpuhan karena over dosis dari narkoba yang di gunakannya. Disanalah Lidia menyadari bahwa Yesus lah hanya satu-satunya pribadi yang bisa mengubah suaminya.
“Setiap sore saya bersama anak-anak bergandeng tangan berdoa agar Tuhan mengubah suami saya,” tutur Lidia.
Ternyata doa-doa mereka di dengar oleh Tuhan, perubahan demi perubahan terjadi atas kehidupan Robby. Bukan hanya sikap Robby yang berubah drastis tapi kesehatannya juga dipulihkan. Robby sepenuhnya.
“Ketika saya bisa berdiri dan berjalan, saya rasanya tidak bisa percaya. Istri saya bilang, ini mukjizat dari Tuhan.”
Inilah ungkapan syukur Robby atas karya Tuhan dalam hidupnya dan keluarganya,”Begitu luar biasanya kasih Allah. Tidak ada kata-kata yang bisa mengungkapkan semua kebaikanNya, pokoknya Tuhan itu baiknya luar biasa.”
(Kisah ini ditayangkan pada2 Desember 2009 dalam acara Solusi Life di O’Channel)
Jamrano lahir dengan ayah yang tidak ada mempunyai kasih. Ia selalu mendapat perlakuan yang kasar dari ayahnya. Bila ayahnya sedang ada masalah selalu menumpahkannya di rumah. Anak-anak adalah sasaran utama. Rano pun menjadi sasaran empuk untuk dipukul oleh sang ayah. Karena perlakuan ayahnya yang kasar, maka Rano tumbuh menjadi anak yang kasar dan keras. Rano ingin sekali memiliki ayah yang dapat dijadikan panutan dan teman bercerita. Tetapi kenyataannya ia tidak mendapatkannya. Saat itu Rano mempunyai satu keinginan. Suatu saat nanti bila ia sudah besar dan kuat, ia akan membunuh ayahnya. Hal itu ia tanamkan sejak ia kecil.
Dari saat duduk di bangku SMP, Rano sudah mengenal dan memakai narkoba dan minuman keras. Hal itu berlanjut sampai ia masuk ke STM. Kelakuannya menjadi-jadi. Ia menjadi anak yang suka memberontak. Ia bahkan sering memimpin teman-temannya untuk berkelahi dengan sekolah lain. Bahkan satu hari ia dan teman-temannya tawuran sampai tiga kali. Ia lakukan itu semua karena ingin melampiaskan amarahnya terhadap ayahnya. Dan ia merasa bangga melakukan itu semua
Pada suatu hari ia berkelahi dengan sekolah lain dan ia melukai anak dari jawara kampung lain. Saat itu Rano diincar untuk dibunuh. Pada saat ia naik bus, warga langsung menyerbu bus itu dan mengancam ingin membunuh Rano, tetapi karena Rano juga mengancam supir untuk tetap jalan, maka ia lolos dari maut.
Lolos dari kematian membuat Rano berpikir tentang hidupnya. ia merasa hidupnya tidak ada artinya. Ia berpikir hanya bila ia tidak mati muda, maka ia akan mendekam di penjara. Saat itu merasa tidak ada jalan lagi untuk meraih masa depannya. Ia sempat berpikir untuk bunuh diri. Tetapi ia kemudian berpikir bahwa bunuh diri bukanlah cara yang baik, karena bila ia mati maka ia akan masuk neraka. Pada saat itu juga ia merasa hidupnya ada di dalam sebuah lubang yang dalam, kecil, bau dan gelap. Bila saja ada yang bisa mengeluarkannya dari sana, ia akan ikut.
Ditengah kegundahannya, ia bertemu dengan kerabatnya dari luar kota. Kerabatnya mengajak ia untuk datang ke persekutuan. Di persekutuan itu, Rano bertemu dengan Tuhan. Ia merasa hancur hati saat itu. Ia mengingat semua dosa yang sudah ia lakukan, semua itu sia-sia. Ia ingin mengampuni semua orang yang telah melukai hatinya. Terutama papanya. Ia merasakan kedamaian dan kelegaan yang belum pernah ia rasakan. Kasih Tuhan yang luar biasa telah menjamah dan melembutkan hatinya.
Pertobatan telah merubah Rano menjadi lebih baik. Ia selalu berdoa untuk ayahnya. Ia mempunyai kerinduan sebagaimana Tuhan telah melembutkan hatinya, ia juga ingin ayahnya dilembutkan hatinya. Sampai pada suatu saat papanya mengalami stroke. Pada momen itulah Rano memberanikan untuk meminta maaf pada papanya. Ia mulai mengobrol dan akhirnya ia mengutarakan maksudnya untuk meminta maaf. Papanya juga akhirnya terbuka dengan masa lalunya. Pada saat itu Rano dan papanya menangis dan berpelukan. Itu adalah pelukan pertama mereka.
Akhirnya Rano berdoa untuk ayahnya dan pemulihanterjadi antara mereka. Luar biasa, hubungan ayah anak yang rusak selama 10 tahun kini telah dipulihkan oleh Tuhan. Walaupun pada akhirnya papanya menyerah dengan penyakitnya dan meninggal, tetapi tidak ada lagi penyesalan dalam hati Rano. Waktu yang sempit itu mereka gunakan sebaik-baiknya untuk saling menyayangi.
Setelah menerima Tuhan dalam hati, Rano merasa mempunyai masa depan lagi. Ia ingin hidupnya dipakai Tuhan. Didalam Tuhan ada cahaya terang yang membuatnya melihat dan ada pengharapan.(Kisah ini ditayangkan 1 Desember 2009 dalam acara Solusi Life di O’Channel).
30 September 2009, gempa berskala 7,9 richter yang menewaskan 1117 jiwa dan melukai ribuan orang lainnya. Namun di tengah-tengah kejadian yang mengerikan itu ada seorang pria, yang bernama Kaleb, selamat. Saat gempa terjadi dia sedang melihat DVD dan teman-temannya ada yang sedang masak, main laptop di dalam gedung gereja dimana dia dan teman-temannya tinggal. Ketika gempa terjadi mereka segera lari ke lantai 4 gedung gereja. Dari lantai 4 itu mereka melihat gedung-gedung naik dan mulai runtuh. Bahkan gedung-gedung di sekitar gereja mulai hancur. Mereka berada di sana sampai gempa berhenti. Pada waktu itu dia sudah pasrah seandainya gedung gereja yang dia tinggali hancur. Puji Tuhan perlindungan Tuhan nyata atas hidupnya.
Juga ada seorang wanita bernama Lenny, ketika gempa terjadi dia sedang berjualan di tokonya. Hari itu pengunjung sedang ramai berbelanja karena banyak yang masih merayakan lebaran. Sehingga dia harus berada di dapur untuk mengoreng kripik balado yang menjadi usahanya.
Tiba-tiba dia merasa ada yg bergetar di atas rumahnya seperti suara pesawat terbang yang mau jatuh. Ketikadiamenyadari bahwa itu adalah gempa dia segera berlari keluar dan berteriak kepada suaminya supaya memutuskan aliran listrik. Tetapi terlambat api sudah terlanjur melahap dapurnya. Begitu dapur terbakar, dia kebingungan mau berbuat apa. Keadaan menjadi tambah kacau karena telepon mati dan karena paniK, dia bahkan tidak bisa menekan nomor telepon temannya.
Kemudian dia segera berlari ke sebelah rumah untuk meminta bantuan ke tetangga sebelah dan meminjam tabung pemadamn kebakaran. Sampai ahirnya dia mendapatkan 7 buah tabung pemadam kebakaran. Sambil berteriak-teriak,”Tuhan tolong, Tuhan tolong!”, dia berlari-lari membawa tabung pemadam kebakaran. Kemudian bersama tetangga-tetanganya, dia berusaha memadamkan api yang membakar dapurnya. Akhirnya api bisa dipadamkan. Saat itu sempat terpikir olehnya bahwa semuanya pasti sudah habis terbakar.Dia percaya kalau bukan Tuhan yang menolong pasti semuanya sudah habis terbakar baik rumah maupun usahanya.
Dia juga mengucap syukur karena Tuhan menjagai anaknya. Hari itu sebenarnya anaknya harus pergi les dan pulang jam 6 tetapi anaknya tiba-tiba minta dijemput jam setengah lima sore. Dia sempat marah karena anaknya karena minta dijemput sebelum waktunya pulang. Dia baru menyadari bahwa Tuhan sudah mengatur segala sesuatu sehingga anaknya bisa selamat karena tempat les anaknya banyak yang hancur. Jika Tuhan tidak menolongnya mungkin dia dan keluarganya tidak selamat dari gempa tersebut.
Bagi Lenny maupun Kaleb, bencana bukanlah penghalang bagi mereka untuk membantu sesama mereka. Saat ini mereka terus membantu korban-korban lainnya di kota Padang. Mereka percaya bahwa Tuhan sedang mengerjakan yang terbaik dalam hidup mereka, juga untuk kota padang.
Siapa yang tak mengenal Kiki? Semenjak memenangkan kontes penyanyi cilik yang ditayangkan sebuah stasiun televisi swasta, nama Kiki memang semakin terkenal. Penampilan bocah 12 tahun itu telah memikat jutaan pemirsa terutama anak-anak sebayanya. Namun di balik kesuksesan Kiki, terdapat kisah sang ayah yang sangat mengenaskan.
Dahulu, ayah Kiki, Marthin Egeten diminta bantuan oleh atasannya untuk membetulkan mesin yang trouble.
“Teman saya waktu itu sempat memberi isyarat pada saya bahwa ada percikan api yang keluar dari atas. Saya kaget! Saya tidak bisa berbuat apa-apa sewaktu itu. Refleks, tangan kanan saya menutup mata saya. Saya bingung bagaimana harus keluar dari situ sewaktu itu. Saya tidak bisa keluar karena saya tutup mata saya. Dan api tetap membakar tubuh saya. Saya sudah merasakan kepanasan dan perih. Api itu tetap mengikuti saya. Saya ke kiri, api itu ke kiri. Saya ke kanan, api itu ikut ke kanan. Saya pikir saya sudah mau mati. Karena saya sudah dibuat capek, sudah dibuat lelah oleh api ini. Saya lari ke sana kemari, saya peluk kabel. Tapi tidak ada aliran listrik yang membunuh saya. Akhirnya saya pun pasrah begitu saja,” kisah Marthin bagaimana ia terserang api dan berjuang untuk keluar dari siksaan api tersebut.
Dalam keadaannya yang sudah tak berdaya, Marthin mengalami sebuah peristiwa yang aneh.
“Saya memejamkan mata, saya mendengar suatu seruan yang sepertinya keluar dari seorang wanita, ia katakan dan membangun saya dengan suara yang nyaring. Ia katakan sama saya waktu itu – ‘Tidak, kamu harus bangun. Kamu harus lawan api itu dan kamu akan diselamatkan.’ – Setelah saya buka mata saya, saya sudah bisa menangkap Cahaya. Cahaya terang. Saya kaget sewaktu itu, karena saya sudah terbaring rapi di depan panel yang terbakar tadi,” lanjut kisah Marthin.
Dalam kondisinya yang setengah sadar, teman-teman Marthin pun kemudian datang dan menolong Marthin.
“Mereka pikir saya sudah mati atau bagaimana pingsannya, waktu diangkat bagian tangan ini, tangan ini sudah matang, gosong, kulitnya terkelupas. Saya merasakan tangan, kepala, kaki itu sudah terpisah-pisah karena saking perihnya itu,” kisah Marthin.
Melihat kondisi luka bakarnya yang sangat parah, Marthin segera dilarikan ke rumah sakit. Saat istri dan ibu Marthin tiba, betapa terkejutnya mereka melihat keadaan Marthin. Akibat tegangan listrik bertegangan tinggi dan sambaran api yang begitu dahsyat membuat tubuh Marthin bagai seonggok daging asap yang hangus terbakar.
Setelah menunggu beberapa jam, tiba-tiba sebuah pernyataan dokter membuat jantung ibu dan istri Marthin seakan berhenti berdetak. “Lebih baik ibu pulang saja, membereskan rumah, karena katanya Bapak mungkin sudah tak bisa tertolong lagi. Karena luka bakarnya sudah stadium 4,” kisah istri Marthin.
Marthin sendiri mendengar perbincangan mereka, “Mereka pikir saya tidak bisa mendengar, saat itu dalam keadaan pingsan atau bagaimana. Tapi, saya masih bisa mendengar sewaktu itu. Hati saya semakin sakit. Karena… itu mengingatkan kembali perkataan saya sama istri saya bahwa saya akan melakukan tanggung-jawab sepenuhnya. “Kamu tenang saja,” – itu janji saya sama istri saya.”
Janji yang begitu manis, pupus sudah. Kini yang tersisa adalah guratan kesedihan dan ketakutan mendalam yang nampak dalam diri istri dan ibu Marthin.
“Saat itu saya belum siap untuk ditinggal oleh bapaknya Kiki. Waktu itu Kiki masih kecil, dia butuh seorang ayah. Memang sewaktu itu di pikiranku, pasti meninggal kan… Karena dari kisah teman-temannya memang tak akan ketolong lagi. Di hati saya, saya berdoa – “Tuhan, jika boleh… Tuhan kasih lagi kesempatan kami bersama. Saya akan terima dia apapun keadaannya,” tutur istri Marthin.
Dalam kondisinya yang kritis, sang ibu membacakan sebuah kisah menarik kepada Marthin. Dan hati Marthin pun tersentuh saat mendengarkannya.
“Mama saya membisikkan cerita-cerita bagaimana Tuhan Yesus dulu punya penderitaan. Dan disitulah saya terkejut dan terbangun dari kelemahan saya,” kisah Marthin.
Beberapa jam kemudian, Marthin pun menunjukkan tanda-tanda kehidupan. “Saya mulai memberikan reaksi melalui tubuh saya. Saya terbatuk, mama saya langsung berteriak. ‘Dia hidup!’- Dan dokter itupun merasa terkejut ketika ia mulai melihat denyut dan tanda nadi.”
Setelah Marthin sadar dari keadaan kritis, beberapa hari kemudian dokterpun langsung melakukan tindakan operasi. Ada bagian luka dari Marthin yang harus ditutupi dengan daging yang diambil dari tubuh Marthin sendiri.
Setelah operasi tersebut berhasil, penderitaan Marthin belum berakhir. Ia mengalami pergolakan batin saat akan melihat wajahnya sendiri.
“Setiap orang yang datang… pingsan ketika melihat saya. Saya bingung, sudah separah mana wajah saya, keberadaan saya waktu itu. Saya menguatkan hati saya, saya minta cermin. Sebenarnya mama saya tidak mau kasih, tapi saya bilang kalau saya penasaran. Kok sampai suster saja tidak mau masuk sini?. Saya pun perlahan-lahan melihat pantulan wajah saya di cermin…” kisah Marthin.
Marthin sangat terkejut melihat wajahnya yang terpantul di cermin.
“Itu sebenarnya sudah bukan orang lagi, itu sudah tengkorak. Semuanya mulai rata. Yang tinggal hanya gigi dan mata,” ujar Marthin.
Kecewa dan sedih. Semua bercampur dalam batin Marthin saat ia melihat wajahnya hancur berantakan. Ia menjadi putus asa… Sehingga berpikir lebih baik mati saja.
“Karena percuma… Saya bilang sama Tuhan, ‘Tuhan kok tidak adil ya?’ – Setiap saat saya mau keluar, saya selalu berdoa. Waktu di tempat kerja, kalau ada kesempatanpun saya berdoa, saya minta Tuhan kalau bisa saya dijauhkan dari malapetaka dari kecelakaan. Tapi kok tiba-tiba begini… Mengapa Tuhan? Mengapa bukan orang-orang yang melakukan hal-hal yang lebih jahat lagi? Saya menangis sambil mengatakan itu…” kisah Marthin.
Belum habis kepedihan batinnya, setiap hari Marthin harus menahan rasa sakit yang luar biasa saat harus bangun dari tidurnya. Marthin pun sering mengalami pendarahan sehingga ia harus sering mengalami transfusi darah agar dapat bertahan hidup.
Belum usai kepedihan Marthin, ia pun dilingkupi ketakutan akan kepergian sang istri. Bahkan ketika melihat dokter berbicara dengan sang istri, api amarah berkecamuk dalam pikiran dan batinnya.
“Dalam keadaan kelemahan itu, terpikir juga bahwa… hancurlah sudah keluarga kita. Sia-sialah keluarga kita yang sudah kita bangun bersama pada waktu yang lalu,” pikir Marthin mengenai keadaan keluarganya yang akan berubah akibat tragedi yang dialaminya.
Pikirnya, kalaupun istrinya ingin meninggalkan dia, itu adalah hak istrinya. “Tapi jujur dalam hati saya, saya tidak terima.” Tetapi istrinya sendiri tidaklah seperti itu. “Tak mungkinlah seenaknya saya cepat-cepat mencari pengganti,” bantah istrinya.
Perawatan selama 1 tahun di rumah sakit membuat keadaan Marthin semakin baik, bahkan kulit baru mulai muncul di beberapa bagian tubuhnya. Namun penderitaannya belumlah usai ketika ia kembali ke rumah. Karena untuk hal-hal kecil pun, Marthin haruslah selalu membutuhkan bantuan istrinya.
“Saya ini merasa berdosa sekali. Keadaan saya ini menjadi beban buat mereka semua. Ya, saya tidak bisa melakukan apa-apa,” tutur Marthin.
Merasa keberadaannya hanya menyusahkan keluarga membuat semangat hidup Marthin semakin padam. Bahkan saat ia mencoba memberanikan diri untuk bersosialisasi, sebuah penolakan yang menyakitkan pun harus ia terima.
“Perasaan takut, perasaan minder itu ada ya… Saya pernah mencegat mobil, tapi, sampai mobil pun gak mau berhenti. Dari jauh saya sudah kasih tanda ke angkot, tapi begitu dekat, sopir itu membuang muka seakan-akan tidak melihat apa-apa. Selama setengah jam saya berdiri di pinggiran jalan, saya menjadi malu, saya pulang. Saya merasa sedih sekali,” kisah Marthin mengenai penolakan ketika ia bergaul di tengah masyarakat.
Bahkan keceriaan dan kegembiraan anak-anak yang biasanya bermain di depan rumah Marthin berubah menjadi teriakan ketakutan saat melihat dirinya.
“Lebih baik saya mati saja, kenapa Tuhan membiarkan saya lagi hidup? Kalau saya harus berhadapan dengan orang-orang di luar sana yang mungkin merasa takut dan jijik dengan keberadaan saya,” kisah Marthin.
Namun di tengah keletihan batinnya, Marthin mencoba untuk menemukan kedamaian yang abadi. “Satu hal yang dia berikan kepada saya, kini kita tahu sekarang… Bahwa segala sesuatu yang terjadi, itu adalah campur tangan Tuhan untuk mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi Dia. Sungguh luar biasa perkataan dari nas itu yang menggembirakan saya, menguatkan saya. Sehingga tadinya saya merasa tidak berguna lagi dengan apa yang saya alami. Tetapi ketika saya menemukan kata peneguhan ini, saya merasa berarti. Saya masih berarti di mata Tuhan.”
Saat itu Marthin mulai menemukan sebuah harapan baru dalam hidupnya. Bahkan sang istri, mulai membuat Marthin merasa semakin berharga.
“Yang saya rasakan ketika berada dengan dia… Apa yang kami alami, apa yang kita lakukan pada masa-masa pacaran itulah yang terjadi. Seperti ketika dia menggandeng saya ketika kami berjalan,” kisah Marthin.
Tak hanya perhatian dari sang istri, sang anak yang waktu itu masih berusia 7 tahun pun menunjukkan kasih sayangnya. Kiki, selalu mengajak ayahnya untuk pergi keluar bersama. Tetapi Marthin yang menolak dengan mengatakan bahwa nanti teman-teman Kiki akan mengejek Kiki jika melihat keadaan ayahnya. Tetapi Kiki tak menyetujui perkataan ayahnya itu bahkan ia akan marah jika ada teman-temannya yang mengejeknya dan ayahnya.
Melihat itu, Marthin sangat senang dan mengucap syukur dengan keluarganya. “Saya tidak malu. Yang penting anak dan istri saya masih mau mengakui keberadaan saya walaupun keadaan saya sudah begini.”
Kiki sendiri berkata, “Kiki tak pernah malu dengan keadaan papa seperti itu. Karena papa itu seperti malaikat yang selalu membimbing Kiki dan sering mengajarkan yang terbaik buat Kiki.”
“Cinta saya sama suami saya seperti cinta kayak kami pacaran dulu. Sampai sekarang juga, masih tetap cinta. Tak berkurang, malahan, dulunya 100 persen sekarang menjadi 200 persen,” ujar Anitha, istri Marthin.
“Dokter dulu memvonis bahwa saya tidak ada harapan sama sekali. Namun, mukjizat Tuhan lain. Ketika manusia angkat tangan, Tuhan turun tangan. Jadi mustahil bagi manusia, bukan mustahil bagi Tuhan,” tutup Marthin Egeten. (Kisah ini ditayangkan 24 November 2009 dalam acara Solusi Life di O’Channel)