Pergaulan Bebas Karena Impoten
Video Kisah Nyata Kecanduan Seks dan Pornografi.
“Pertama kali saya berhubungan dengan wanita, saya sudah mulai merasa mengapa kok gagal. Kedua, tidak bisa. Ketiga lalu keempat… Makin hari melakukan saya semakin merasa ketakutan. Semakin bertanya-tanya apa yang terjadi di dalam kelemahan saya. Saya tidak bisa melakukan hubungan seksual membuat saya begitu terikat, begitu ketakutan, begitu membuat saya kecewa dengan diri saya sendiri. Sampai saya merasa hidup ini sudah tidak ada arti. Saya tidak bisa sekali-kali menikmati hubungan seksual dengan benar. Tidak bisa mencapai yang namanya klimaks,” Alex mengungkapkan rasa frustrasinya ketika menyadari bahwa kepriaannya sulit untuk berfungsi.
Tak banyak yang tahu bahwa sejak kecil, Alex sudah mulai terikat dengan kebiasaan buruk yang pada akhirnya mendarah-daging dalam dirinya. Yaitu menonton film porno.
Dampak dari kebiasaan buruk tersebut, Alex berkisah, “Ketika kita melihat wanita yang cantik sedikit saja, kita ingin melakukan sesuatu. Dan kita melakukannya dengan onani. Dan kadang sehari bisa beberapa kali.”
Seiring pertumbuhannya ketidakharmonisan di antara kedua orang-tuanya menambah runyam dalam kehidupan Alex. Ia tidak betah di rumah dan ia lebih senang untuk menghabiskan waktunya dengan teman-teman di luar. “Benar-benar saya tidak betah di rumah.”
Untuk melampiaskan kekecewaannya, Alex terjun pada kehidupan yang begitu liar. Dunia malam, ekstasi, mabuk, dan seks senantiasa menghiasi hari-harinya. “Saya ingin membuktikan diri saja bahwa saya bisa melakukan hubungan seksual,” kisah Alex mengenai alasannya mengapa ia melakukan pergaulan bebas.
Tidak dapat menerima kenyataan yang sesungguhnya, Alex bahkan mengkonsumsi obat-obatan. “Akhirnya saya memakai obat kuat. Ketika saya minum, tidak ada sesuatu yang hebat terjadi pun tidak ada. Malahan, muka saya jadi merah, jadi panas, telinga rasanya terbakar. Detak jantung menjadi kencang. Tidak ada kepuasan yang saya temukan,” ungkap Alex.
Hidup Alex sudah begitu hambar, ia bahkan melakukan pernikahan tanpa tujuan yang berarti. “Buat saya pernikahan itu tidak ada di dalam pikiran saya, yang ada ya punya anak saja. Saya menikah itu ya sudah tanpa cinta, jadi, saya malas untuk menatap mata istri saya. Timbul rasa kebencian dalam diri saya terhadapnya, tak tahu mengapa. Dengar suaranya saja saya benci,” ujar Alex mengenai rasa sebal dalam dirinya yang sebenarnya dikarenakan ketidaksanggupan dirinya membahagiakan istrinya.
Bahkan malam pertamanya saja yang seharusnya menjadi malam yang begitu indah, justru menjadi malam yang begitu dingin dan hambar. Hari demi hari, kehidupan rumah tangga mereka pun diwarnai kehidupan seks yang semakin dingin.
“Sampai-sampai saya lebih senang untuk bermain keluar. Karena jika dengan wanita lain saya yang dipuaskan, sedangkan bersama istri saya harus memuaskan dia. Dan saya tidak sanggup,” ungkap Alex.
Kemelut rumah tangga mereka pun semakin rumit. Demi menutupi kelemahannya, Alex justru semakin menyudutkan istrinya. Bagi Alex, kepuasan hanya mengenai fisik semata. Jiwanya pun kering, tak ada lagi kehangatan yang tersisa.
“Bicara cinta, saya pikir, saya sudah tidak ada lagi rasa cinta. Ketika saya masuk ke dunia hiburan malam, yang namanya cinta itu saya lupa. Saya kehilangan apa yang namanya cinta, yang ada hanyalah nafsu,” kisah Alex.
Liskania, istri Alex, juga berkisah, “Ada masalah sedikit saja, itu bisa membuat kami tidak saling berbicara sehari dua hari. Apalagi jika masuk kamar, bisa diam-diaman saja. Masing-masing balik badan sendiri-sendiri. Setelah menikah, ya berbeda, kadang kita berbicara itu tidak dihiraukan olehnya.”
Petualangan seksnya di luar rumah pun semakin liar dan menjadi-jadi. Dalam pikirannya yang ada hanya seks. Ia melakukannya pun tanpa pelindung. Ia berpikir mau mati karena penyakit ya, silahkan saja, yang penting ia bisa melakukannya.
Petualangan seksualnya demi mencapai kepuasan fisik hampir menyita seluruh fokus hidupnya. Bahkan bisnis yang selama ini ia jalani, ikut terenggut seperti kepriaannya.
“Bisnis gagal, hubungan seksual gagal, semua gagal. Itulah momen yang paling hancur, itulah titik yang paling parah yang tidak ada obatnya. Tak ada satu manusia pun yang bisa menolong saya. Disitulah titik yang paling frustrasi,” kisah Alex mengenai semua kegagalan yang ia alami.
Alex pun sudah merasakan titik terendah dalam hidupnya dimana ia merasa ia tidak bisa bangkit lagi.
Dan pada titik terendah dalam hidupnya tersebut, melalui ajakan seorang teman, Alex duduk dalam sebuah pertemuan yang menjadi penentu bagaimana ia menjalani akan masa depannya. Pada saat itulah, Alex dikejutkan dalam sebuah pengalaman spiritual yang membuatnya begitu terheran-heran.
“Daripada saya bengong, saya tundukkan kepala berdoa Doa Bapa Kami. Tiba-tiba bayangan hitam berdiri besar di samping saya. Bahunya terangkat, kelihatan sangat sedih. Saya melihat dan bertanya-tanya. Ketika bayangan hitam itu datang dan mendekat, disitu saya baru disadarkan bahwa saya berdosa. Saya selama ini berpikir bahwa saya benar, ternyata saya baru disadarkan bahwa saya salah. Disitu saya bisa menangis sejadi-jadinya, saya tidak tahu bahwa air mata saya bisa ditahan,” ungkap Alex.
Penyesalan demi penyesalan menyelimuti Alex, linangan air mata pun menjadi saksinya. “Bayangan hitam itu memeluk saya menunjukkan kasihnya. Saya merasakan bahwa saya sudah hancur, tidak berdaya, tak ada artinya… Tetapi Tuhan menerima saya. Benar-benar saya datang dalam kondisi yang parah, yang secara manusia sudah tidak ada harapan, sudah tidak bisa bangkit lagi. Dan Tuhan pulihkan…,” kisah Alex bagaimana Tuhan menunjukkan kasih-Nya bagi Alex.
Saat ini Alex telah lepas dari krisis keperkasaannya sebagai seorang pria yang telah lama membelenggunya. Kehidupan seks Alex dan istrinya kini telah dipulihkan. Rumah tangganya pun menjadi harmonis.
“Jika dulu melakukan seks itu seperti menonton video porno yang saya tonton. Tetapi sekarang saya melihat bahwa itu adalah hubungan intim suami-istri adalah kemuliaan bagi Tuhan. Itu adalah sesuatu yang sangat indah yang hanya bisa dinikmati yang melakukannya bukan dengan dasar nafsu. Tetapi ketika kita memulainya dengan ucapan syukur untuk kemuliaan Tuhan, kita menikmati itu sangat luar biasa,” ungkap Alex mengenai bagaimana Tuhan memperbaharui kehidupan rumah tangganya.
Istri Alex pun berkisah, “Bagi saya dia adalah suami yang sempurna yang mengasihi anak-anaknya dan istrinya.” (Kisah ini sudah ditayangkan 12 November 2009 dalam acara Solusi Life di O’Channel).
Sumber Kesaksian:
Alex Kurniawan (jawaban.com)


“Saya mulai masuk di diskotik. Saya merasa ini tempat yang sangat mengasikkan banget. Sepertinya ini bisa lebih menyenangkan hati saya lagi. Waktu on dengan teman-teman, kami dugem sama-sama, saya sudah seperti penggembira. Saya bisa naik ke atas-atas speaker, saya bisa goyang di atas mejanya orang. Sudah seperti kita yang punya dunia. Disitulah awal-awal saya berkenalan dengan perempuan. Kalau orang bicara narkoba tanpa perempuan tanpa seks, itu omong kosong. Saya karaoke, saya berkenalan dengan perempuan, ditemani perempuan, begitu pulang pasti buntut-buntutnya seks. Dua hal yang sangat menyenangkan buat saya, adalah narkoba dan perempuan. Jadi sampai tahun 2001, bayangkan, hampir setiap hari kehidupan saya hanya seputar itu. Mabuk-mabukan, narkoba, perempuan, itu seperti sesuatu hal yang sudah mendarah daging dalam hidup saya.”
“Saat itu saya sedang di kamar mandi, di sel, saya seperti antara ingin memotong urat nadi saya, tetapi seperti ada banyak suara yang berbicara dalam hati saya. Saya ngga tahu mau dengar suara yang mana. Tapi yang saya tahu, saya sudah ngga punya pengharapan. Pada waktu tangan saya yang memegang silet sudah di urat nadi, ada suara yang lain yang ngomong dalam hati saya. Suara itu kecil banget tetapi tegas. Suara itu hanya berkata ‘Bangun, jalan!’ Sewaktu saya dengar suara itu, saya hanya bisa nangis. Tetapi tangisan saya, seperti tangisan yang lain. Saya ngga tahu mengartikannya sebagai apa, tapi bagi saya seperti tangisan sukacita. Saya ngga bisa jelaskan kenapa saya batalkan untuk bunuh diri.”
“Jadi semua yang dulu saya pikir adalah hal-hal yang bagus, hal-hal yang prioritas kini ngga berarti buat saya. Waktu saya di titik orang ngga indahkan saya, dimana dunia buang saya, dimana manusia kucilkan saya, dimana saya ngga berarti buat orang, tapi saya tahu kalau Tuhan Yesus sangat mengasihi saya. Kenapa saya katakan begini? Karena ada sesuatu yang membuat saya bahagia. Kenapanya, saya ngga bisa jelasin. Tapi sekalipun saya kurang, sekalipun saya ngga punya apa-apa, tapi saya bisa bahagia. Kasih Yesus itu sangat memberikan suatu damai sejahtera yang luar biasa. Cuma Yesus yang bisa memulihkan separah apapun kehidupan kita dan yang memberikan jaminan masa depan yang cerah,” ucap Nono menutup kesaksiannya. 
Pada saat itu ia mulai flash back kehidupannya 2 tahun terakhir ini. Ia sibuk dengan pekerjaannya. Ia mencari uang dengan giat, sesudah itu ia menghabiskan waktu dengan hobi dan teman-temannya. Setelah lelah sampai dirumah ia langsung beristirahat. Ia lupa bahwa ia tidak pernah meluangkan waktunya untuk menyapa Tuhan. Ia tidak pernah bersaat teduh bahkan hari Minggu terkadang ia tidak ke gereja, dan Roh Kudus mulai mengingatkannya akan hal itu.
Ada
“Saya dipukul, ditendang dan diancam. Mereka berkata, kamu harus temukan cara untuk bisa menebus nyawa kamu, supaya kamu bisa pulang dengan selamat. Maka saya menelepon abang saya. Saya bilang, ‘Bang saya diculik. Saya posisinya di hutan, saya tidak tahu hutan mana, saya diculik’.”
Namun pada akhirnya negosiasi dengan para penculik itu menghadapi jalan buntu karena para penculik itu mengetahui bahwa kakak Janni telah melapor ke Polisi..
“Saat itu saya merasakan sudah mati. Bahkan roh saya melihat sendiri jenasah saya diseret ke semak-semak. Tapi pada saat itu saya melihat sebuah cahaya yang terang sekali. Yesus menampakkan diri dengan cahaya yang terangnya luar biasa. Tiba-tiba ada angin yang begitu kencang dan roh saya kembali ke tubuh saya.”
Janni pun tak putus-putusnya mengucap syukur buat kebaikan Tuhan, “Kebaikan Tuhan yang saya alami tidak pernah saya bayangkan, saya bisa selamat dari maut. 
“Saya tanya kenapa lis, bisa tumpah. Dia jawab gak tahu, tahu. Tanyain gak tahu, spontan saya angkat kemoceng, saya pukul dia. Saya bilang dasar anak gak berguna. Semua perkataan gak bener, saya ucapkan ke dia,”
Penderitaan Mui belumlah selesai. Ketika ia membantu adiknya yang sedang terjerumus ke sungai, Mui Ha malah dimarahi oleh kakaknya sendiri yang tidak jauh dari situ. Bahkan saat mamanya sampai di tempat dimana dia dan saudarinya sedang bermain, ibu Mui Ha langsung marah-marah melihat kondisi adik Mui Ha
Saat itu juga, Mui Ha ditantang untuk mengampuni ibunya. Bayang-bayang kekejaman sang ibu sangat melekat di ingatannya. Masih segar di ingatan Mui Ha, saat terakhir ibu menangis di sisinya. Tidak ada rasa iba yang ditunjukkannya kepada sang ibu ketika itu bahkan harapan akan kematian cepat dari ibunya itulah yang diinginkannya.
Hari itu juga, Mui Ha memberanikan diri memohon maaf kepada kedua anaknya. Tangisan dan pelukan diantara mereka menjadi sebuah awal hubungan yang baru di antara mereka. Anak-anak Mui Ha pun mengaku bahwa mereka sudah lama mengampuni setiap kelakuan dari dirinya. 


Mulai saat itu Dorkas tidak bisa tidur dan tidak mau makan. Ia mengalami kegoncangan jiwa dan kelemahan fisik.
Pada saat keadaan sedang normal, Dorkas teringat untuk berdoa. Tetapi doanya hanya untuk formalitas saja. Karena ia merasa bahwa Tuhan tidak sayang padanya. Ia ingin supaya ia matio saja. Justru pada saat ia berdoa, ia mendengar suara. Ia teringat satu ayat: “Allah turut bekerja dalam segala perkara, yang mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi-Nya”
“Saya benar-benar merasa ketakutan. Saya takut dengan dunia kematian yang begitu hebat. Dan sepertinya tidak ada yang bisa menolong saya,” kisah Abraham.
Abraham terus mencari pertolongan dengan menemui kenalan pamannya untuk berdoa. Ketika didoakan oleh kenalan pamannya ini, Abraham merasakan dirinya kuat dan ada keberanian yang timbul di dalam dirinya. Tapi dalam perjalanan pulang, suara intimidasi akan kematian itu terus menekan pikiran Abraham dan pikirannya kembali dikuasai oleh ketakuan akan kematian itu. Dari hari ke hari, Abraham tidak melihat adanya perubahan pada dirinya.
Selama Abraham kembali ke bangku sekolah, perlakuan ayahnya kepada dirinya tetap saja kasar, selalu mengganggap dirinya sebagai anak yang tidak becus, berbeda dengan kakak-kakaknya yang lain. Abraham harus menerima makian demi makian dari ayahnya sendiri. Sebutan ‘anak sial’, ‘tidak tahu diuntung’ telah menjadi makanannya sehari-hari. Kata-kata kutukan senantiasa dilontarkan ayah Abraham kepada dirinya dan itu menimbulkan luka di hati Abraham.
Namun roh kematian itu tak pernah berhenti mengejar Abraham. Iblis datang menyerang Abraham dengan cara yang berbeda. Sebuah suara seperti gelombang radio masuk ke dalam telinga Abraham dan memegang dirinya, dan rasanya seperti roh Abraham ditarik keluar. Hal itu biasanya terjadi ketika Abraham sedang tidur. Ketika hal itu sedang terjadi menimpanya, Abraham hanya bisa mencoba berteriak, “Tuhan Yesus sudah tebus saya. Kamu tidak punya hak lagi atas tubuh saya,” dan roh Abraham pun kembali ke dalam tubuhnya.
Serangan yang biasa dialaminya mulai berkurang sampai akhirnya Abraham pun merasakan bahwa tubuhnya sudah benar-benar sehat. Ia pun bisa kembali hidup dengan normal dengan penyakit dan suara-suara intimidasi yang menghilang dari kehidupannya. 
“Waktu saya enak-enak belanja, anak buah saya datang, “ci, disuruh pulang” Saya tanya, “kenapa?” dia ngomong, “om kecelakaan”. Langsung saya datang ke UGD. Disitu sudah banyak orang, banyak teman-teman. Terus saya lihat Herwanto, ya kaget. Saya menjerit, “
“Saya mendengar suara gaduh di gang tersebut. Pada waktu saya nengok ada satu orang yang sedang terlentang dipukul dengan barbel oleh satu orang lain. Saat pukulan ketiga diarahkan ke wajah korban itu, saya langsung lari berniat untuk memberhentikan. Perkelahian pun terjadi. Barbel yang dipegang pelaku tersebut pun sempat lepas dari genggamannya, tetapi saya kalah. Tidak kehabisan akal, saya pun meninggalkan tempat dan berteriak minta tolong ke orang lain hingga membuat akhirnya pelaku itu pun kabur meninggalkan korban bersimbah darah.”
“Pas itu sakit banget. Kakinya suka goyang-goyang merasakan kesakitan.” ujar Reta, putri dari pasangan Herwanto-Ernika.” Aku rela menggantikan posisi papa di rumah sakit supaya aku aja yang sakit bukan papa,” lanjut Reta sambil mencucurkan air mata.
“Pekerjaan pun saya tetap bisa mengerjakan masalah-masalah. Saya bisa memberikan tanggapan, saran atau memberikan koreksi ketika terjadi kesalahan dalam pekerjaan ini,” aku Herwanto Wibowo. 








