Pergaulan Bebas Karena Impoten


Video Kisah Nyata Kecanduan Seks dan Pornografi.
Alex meniduri begitu banyak wanita hanya untuk satu tujuan, yaitu membuktikan keperkasaannya sebagai seorang pria.

“Pertama kali saya berhubungan dengan wanita, saya sudah mulai merasa mengapa kok gagal. Kedua, tidak bisa. Ketiga lalu keempat… Makin hari melakukan saya semakin merasa ketakutan. Semakin bertanya-tanya apa yang terjadi di dalam kelemahan saya. Saya tidak bisa melakukan hubungan seksual membuat saya begitu terikat, begitu ketakutan, begitu membuat saya kecewa dengan diri saya sendiri. Sampai saya merasa hidup ini sudah tidak ada arti. Saya tidak bisa sekali-kali menikmati hubungan seksual dengan benar. Tidak bisa mencapai yang namanya klimaks,” Alex mengungkapkan rasa frustrasinya ketika menyadari bahwa kepriaannya sulit untuk berfungsi.

Alex KurniawanTak banyak yang tahu bahwa sejak kecil, Alex sudah mulai terikat dengan kebiasaan buruk yang pada akhirnya mendarah-daging dalam dirinya. Yaitu menonton film porno.

Dampak dari kebiasaan buruk tersebut, Alex berkisah, “Ketika kita melihat wanita yang cantik sedikit saja, kita ingin melakukan sesuatu. Dan kita melakukannya dengan onani. Dan kadang sehari bisa beberapa kali.”

Seiring pertumbuhannya ketidakharmonisan di antara kedua orang-tuanya menambah runyam dalam kehidupan Alex. Ia tidak betah di rumah dan ia lebih senang untuk menghabiskan waktunya dengan teman-teman di luar. “Benar-benar saya tidak betah di rumah.”

Untuk melampiaskan kekecewaannya, Alex terjun pada kehidupan yang begitu liar. Dunia malam, ekstasi, mabuk, dan seks senantiasa menghiasi hari-harinya. “Saya ingin membuktikan diri saja bahwa saya bisa melakukan hubungan seksual,” kisah Alex mengenai alasannya mengapa ia melakukan pergaulan bebas.

Tidak dapat menerima kenyataan yang sesungguhnya, Alex bahkan mengkonsumsi obat-obatan. “Akhirnya saya memakai obat kuat. Ketika saya minum, tidak ada sesuatu yang hebat terjadi pun tidak ada. Malahan, muka saya jadi merah, jadi panas, telinga rasanya terbakar. Detak jantung menjadi kencang. Tidak ada kepuasan yang saya temukan,” ungkap Alex.

Alex KurniawanHidup Alex sudah begitu hambar, ia bahkan melakukan pernikahan tanpa tujuan yang berarti. “Buat saya pernikahan itu tidak ada di dalam pikiran saya, yang ada ya punya anak saja. Saya menikah itu ya sudah tanpa cinta, jadi, saya malas untuk menatap mata istri saya. Timbul rasa kebencian dalam diri saya terhadapnya, tak tahu mengapa. Dengar suaranya saja saya benci,” ujar Alex mengenai rasa sebal dalam dirinya yang sebenarnya dikarenakan ketidaksanggupan dirinya membahagiakan istrinya.

Bahkan malam pertamanya saja yang seharusnya menjadi malam yang begitu indah, justru menjadi malam yang begitu dingin dan hambar. Hari demi hari, kehidupan rumah tangga mereka pun diwarnai kehidupan seks yang semakin dingin.

“Sampai-sampai saya lebih senang untuk bermain keluar. Karena jika dengan wanita lain saya yang dipuaskan, sedangkan bersama istri saya harus memuaskan dia. Dan saya tidak sanggup,” ungkap Alex.

Kemelut rumah tangga mereka pun semakin rumit. Demi menutupi kelemahannya, Alex justru semakin menyudutkan istrinya. Bagi Alex, kepuasan hanya mengenai fisik semata. Jiwanya pun kering, tak ada lagi kehangatan yang tersisa.

“Bicara cinta, saya pikir, saya sudah tidak ada lagi rasa cinta. Ketika saya masuk ke dunia hiburan malam, yang namanya cinta itu saya lupa. Saya kehilangan apa yang namanya cinta, yang ada hanyalah nafsu,” kisah Alex.

Liskania, istri Alex, juga berkisah, “Ada masalah sedikit saja, itu bisa membuat kami tidak saling berbicara sehari dua hari. Apalagi jika masuk kamar, bisa diam-diaman saja. Masing-masing balik badan sendiri-sendiri. Setelah menikah, ya berbeda, kadang kita berbicara itu tidak dihiraukan olehnya.”

Petualangan seksnya di luar rumah pun semakin liar dan menjadi-jadi. Dalam pikirannya yang ada hanya seks. Ia melakukannya pun tanpa pelindung. Ia berpikir mau mati karena penyakit ya, silahkan saja, yang penting ia bisa melakukannya.

Petualangan seksualnya demi mencapai kepuasan fisik hampir menyita seluruh fokus hidupnya. Bahkan bisnis yang selama ini ia jalani, ikut terenggut seperti kepriaannya.

“Bisnis gagal, hubungan seksual gagal, semua gagal. Itulah momen yang paling hancur, itulah titik yang paling parah yang tidak ada obatnya. Tak ada satu manusia pun yang bisa menolong saya. Disitulah titik yang paling frustrasi,” kisah Alex mengenai semua kegagalan yang ia alami.

Alex pun sudah merasakan titik terendah dalam hidupnya dimana ia merasa ia tidak bisa bangkit lagi.

Dan pada titik terendah dalam hidupnya tersebut, melalui ajakan seorang teman, Alex duduk dalam sebuah pertemuan yang menjadi penentu bagaimana ia menjalani akan masa depannya. Pada saat itulah, Alex dikejutkan dalam sebuah pengalaman spiritual yang membuatnya begitu terheran-heran.

Alex Kurniawan“Daripada saya bengong, saya tundukkan kepala berdoa Doa Bapa Kami. Tiba-tiba bayangan hitam berdiri besar di samping saya. Bahunya terangkat, kelihatan sangat sedih. Saya melihat dan bertanya-tanya. Ketika bayangan hitam itu datang dan mendekat, disitu saya baru disadarkan bahwa saya berdosa. Saya selama ini berpikir bahwa saya benar, ternyata saya baru disadarkan bahwa saya salah. Disitu saya bisa menangis sejadi-jadinya, saya tidak tahu bahwa air mata saya bisa ditahan,” ungkap Alex.

Penyesalan demi penyesalan menyelimuti Alex, linangan air mata pun menjadi saksinya. “Bayangan hitam itu memeluk saya menunjukkan kasihnya. Saya merasakan bahwa saya sudah hancur, tidak berdaya, tak ada artinya… Tetapi Tuhan menerima saya. Benar-benar saya datang dalam kondisi yang parah, yang secara manusia sudah tidak ada harapan, sudah tidak bisa bangkit lagi. Dan Tuhan pulihkan…,” kisah Alex bagaimana Tuhan menunjukkan kasih-Nya bagi Alex.

Saat ini Alex telah lepas dari krisis keperkasaannya sebagai seorang pria yang telah lama membelenggunya. Kehidupan seks Alex dan istrinya kini telah dipulihkan. Rumah tangganya pun menjadi harmonis.

“Jika dulu melakukan seks itu seperti menonton video porno yang saya tonton. Tetapi sekarang saya melihat bahwa itu adalah hubungan intim suami-istri adalah kemuliaan bagi Tuhan. Itu adalah sesuatu yang sangat indah yang hanya bisa dinikmati yang melakukannya bukan dengan dasar nafsu. Tetapi ketika kita memulainya dengan ucapan syukur untuk kemuliaan Tuhan, kita menikmati itu sangat luar biasa,” ungkap Alex mengenai bagaimana Tuhan memperbaharui kehidupan rumah tangganya.

Istri Alex pun berkisah, “Bagi saya dia adalah suami yang sempurna yang mengasihi anak-anaknya dan istrinya.” (Kisah ini sudah ditayangkan 12 November 2009 dalam acara Solusi Life di O’Channel).

Sumber Kesaksian:
Alex Kurniawan (jawaban.com)

Alex Kurniawan

Kisah Takluknya Nono Sang Pemburu Kebahagiaan


Video Kisah Nyata Kecanduan Narkoba & Seks

Hanya demi mendapatkan kesenangan dan pengakuan dari teman-temannya, Nono Tjokro merusak hidupnya dengan minuman keras. Ketika masih duduk di Sekolah Menengah Pertama (SMP), Nono berkenalan dengan minuman keras yang kemudian membawanya kepada narkoba, perkelahian dan juga seks bebas.

“Siapa sih laki-laki yang ngga bangga kalau kita punya nama? Kita dikenal…?” demikian ujar Nono mengungkapkan alasannya menjalani semua kebejatan itu.

Berkelahi adalah salah satu cara untuk menunjukkan kejantanannya sehingga bisa mendapatkan penghormatan baik oleh kawan maupun lawan.

“Waktu itu saya sekolah di SMA 2. Ada seorang teman yang menelpon saya.”

“Eh..ada anak baru nih..”

“Emang kenapa?” Tanya Nono.

“Ngga..sombong aja..”

Hanya dengan alasan seperti itu, Nono tega menghajar orang lain yang tidak dikenalnya.

“Karenanya mereka tahu kalau saya suka berkelahi..”

Mabuk-mabukan dan berkelahi sudah menjadi hal biasa bagi Nono. Bahkan ketika ia bekerja di luar daerah kelakuannya pun semakin menjadi-jadi.

“Waktu saya mau ke kantor, saya harus konsumsi ganja dulu.. supaya saya merasa fit. Narkoba sudah menjadi seperti suplemen buat saya. Ketika saya sampai dikantor, saya duduk dan meminta rekan saya memutar lagu. Lalu saya denger lagu, sambil saya ngelinting di depan mereka!! Saya sudah tidak peduli dengan pendapat orang. Saya bertumbuh menjadi orang yang berpikir ‘Udah deh, kalau saya mau mati, mati aja..’ Yang saya tahu, saya cuma mau senang. Jadi kalau saya bisa konsumsi ganja, atau saya bisa konsumsi jenis narkoba yang lain itu berarti saya ngga bakalan sedih. Saya pasti senang dan saya harus senang.”

Kesenangan demi kesenangan terus dicari Nono, sampai akhirnya ia terjerumus dalam dunia malam.

“Saya mulai masuk di diskotik. Saya merasa ini tempat yang sangat mengasikkan banget. Sepertinya ini bisa lebih menyenangkan hati saya lagi. Waktu on dengan teman-teman, kami dugem sama-sama, saya sudah seperti penggembira. Saya bisa naik ke atas-atas speaker, saya bisa goyang di atas mejanya orang. Sudah seperti kita yang punya dunia. Disitulah awal-awal saya berkenalan dengan perempuan. Kalau orang bicara narkoba tanpa perempuan tanpa seks, itu omong kosong. Saya karaoke, saya berkenalan dengan perempuan, ditemani perempuan, begitu pulang pasti buntut-buntutnya seks. Dua hal yang sangat menyenangkan buat saya, adalah narkoba dan perempuan. Jadi sampai tahun 2001, bayangkan, hampir setiap hari kehidupan saya hanya seputar itu. Mabuk-mabukan, narkoba, perempuan, itu seperti sesuatu hal yang sudah mendarah daging dalam hidup saya.”

Tiada hari yang dilaluinya tanpa mabuk-mabukan dan narkoba. Demi kesenangan yang ia cari, Nono pun terus berpetualang dalam kehidupan liarnya. Hingga suatu hari, sesuatu terjadi dan meluluh-lantahkan semua harapannya.

“Sampai 2001 malam natal, akhirnya saya ditangkap. Hari itu adik-adik sedang bakar petasan di depan, lalu perintis masuk. Kebetulan saya lagi minum di belakang dan ada ganja di tangan saya. Saya pingin ke depan, karena saya liat rame di depan. Jadi saya sembunyikan bungkusan rokok itu di pinggir jalan, saya ngga sadar intel polisinya masuk. Empat orang polisi sudah langsung pegang saya,”demikian Nono bercerita tentang penangkapannya.

“Selamat malam pak, ini punya bapak?” Seorang polisi menunjukkan sebungkus rokok pada Nono.

“Ya.. benar. Itu punya saya.”

“Tangkap..”

Akhirnya Nono di gelandang ke Poltabes. Detik itu, ketakutan mulai menyusup di benak Nono.

“Waktu saya di borgol, waktu dalam perjalanan ke Poltabes, mulai ada ketakutan yang timbul dalam hati saya. Pada hal saya dulu orang yang tidak kenal rasa takut.”

Bagai jatuh tertimpa tangga, ketika Nono mendengar kabar yang membuatnya merasa seluruh masa depannya hancur.

“Satu kali, sewaktu saya masih di penjara, teman-teman dari kantor datang. Saya pikir ada apa? Ternyata mereka datang untuk mengantarkan surat pemecatan saya. Pemecatan saya, jujur sangat membuat saya kecewa. Saya ngga nyangka SK pemecatan saya itu datang di akhir-akhir masa hukuman saya. Saya hanya tahu pekerjaan ini adalah satu-satunya harapan buat saya. Jadi waktu saya tidak lagi memiliki pekerjaan ini, dan SK pemecatannya keluar, saya seperti kehilangan hal yang besar. Seperti saya kehilangan sesuatu yang benar-benar penting dalam hidup saya. Saya berpikir, kenapa di saat-saat seperti ini, tinggal tiga bulan lagi masa hukuman saya selesai, tetapi kok bukan hal yang baik yang datang, bukan hal yang menggembirakan, tetapi kok hal yang menyedihkan!”

Tidak bisa menerima kenyataan, Nono pun semakin larut dalam keputusasaannya. Perbuatan nekad pun akan dia lakukan.

“Saat itu saya sedang di kamar mandi, di sel, saya seperti antara ingin memotong urat nadi saya, tetapi seperti ada banyak suara yang berbicara dalam hati saya. Saya ngga tahu mau dengar suara yang mana. Tapi yang saya tahu, saya sudah ngga punya pengharapan. Pada waktu tangan saya yang memegang silet sudah di urat nadi, ada suara yang lain yang ngomong dalam hati saya. Suara itu kecil banget tetapi tegas. Suara itu hanya berkata ‘Bangun, jalan!’ Sewaktu saya dengar suara itu, saya hanya bisa nangis. Tetapi tangisan saya, seperti tangisan yang lain. Saya ngga tahu mengartikannya sebagai apa, tapi bagi saya seperti tangisan sukacita. Saya ngga bisa jelaskan kenapa saya batalkan untuk bunuh diri.”

Seakan mendapatkan kekuatan baru, Nono pun mengurungkan niatnya untuk bunuh diri. Sampai hari pembebasannya tiba, Nono memutuskan untuk kembali ke Ambon dan mengikuti suatu ibadah.

“Saya duduk dalam ibadah itu, setengah jam sampai 45 menit saya menikmatinya. Tetapi ada satu statement yang pendeta ini kemukakan yang sangat menarik di hati saya. Yang sangat menarik di pikiran saya. Statemennya seperti ini, ‘Bahwa yang paling payah dari mati konyol adalah orang yang hidupnya konyol.’ Waktu saya dengar kata-kata itu, sepertinya Tuhan sedang berkata kepada saya, ‘Kamu orang konyol.’ Kenapa saya berkata kalau Tuhan seperti bicara pada saya kalau saya orang konyol? Karena semua kehidupan yang pernah saya habiskan, semuanya konyol. Entah itu mabuk-mabukan, entah itu saya berkelahi dengan anaknya orang, entah itu saya menyakiti hati orang, entah itu saya merokok, entah itu narkoba, entah itu saya free seks dengan banyak perempuan, saya mulai mengerti semua itu konyol. Saya minta ampun pada Tuhan, saya ngomong dalam hati ‘Tuhan ampuni saya.’ Saya tahu persis ini saya. Dan saya tahu Tuhan tidak tinggalkan saya. Saya seperti merasakan Yesus sedang bersama-sama dengan saya. Yesus sedang memeluk saya, Yesus bilang, ‘Kamu ngga sendiri, kamu ngga dikucilkan, kamu ngga dibuang. Kalau kamu merasa kehilangan pengharapan, Saya punya pengharapan. Saya janjikan pengharapan itu buat kamu. Saya yang punya pengharapan.’ Waktu saya ada di posisi ini, saya merasa sangat nyaman. Saya hanya bisa menangis dan menangis dan menangis. Saya menikmati benar, bahwa Tuhan Yesus ada bersama-sama dengan saya. Saat itu saya tahu kalau Tuhan Yesus memberi saya kekuatan. Saya tahu kalau Tuhan Yesus sudah menyelamatkan hidup saya. Saya tahu kalau Tuhan Yesus akan memberikan masa depan yang luar biasa.”

Melalui satu pribadi, Nono kembali menemukan pengharapan baru. Ia pun merasakan kebahagiaan sejati yang selama ini ia cari.

“Jadi semua yang dulu saya pikir adalah hal-hal yang bagus, hal-hal yang prioritas kini ngga berarti buat saya. Waktu saya di titik orang ngga indahkan saya, dimana dunia buang saya, dimana manusia kucilkan saya, dimana saya ngga berarti buat orang, tapi saya tahu kalau Tuhan Yesus sangat mengasihi saya. Kenapa saya katakan begini? Karena ada sesuatu yang membuat saya bahagia. Kenapanya, saya ngga bisa jelasin. Tapi sekalipun saya kurang, sekalipun saya ngga punya apa-apa, tapi saya bisa bahagia. Kasih Yesus itu sangat memberikan suatu damai sejahtera yang luar biasa. Cuma Yesus yang bisa memulihkan separah apapun kehidupan kita dan yang memberikan jaminan masa depan yang cerah,” ucap Nono menutup kesaksiannya. (Kisah ini sudah ditayangkan pada 11 November 2009 dalam acara Solusi Life di O’Chanel).

Sumber kesaksian:

Nono Tjokro (jawaban.com)

Choky Sitohang Disembuhkan Dari Hepatitis


Video Kisah Nyata Sembuh dari Hepatitis

Siapa yang tidak mengenal presenter yang berpenampilan menarik dan sedang naik daun ini. Tanpa disangka-sangka Choky divonis dokter terkena penyakit Hepatitis (liver). Ia terkejut karena ia merasa bahwa ia adalah orang yang paling sehat. Tetapi ia malah jatuh sakit. Yang membuat ia kecewa adalah karena ia mengalami sakit pada saat ia sedang berkarir. Ia sedang mengejar cita-citanya untuk menjadi presenter terkenal.

Pada saat itu ia mulai flash back kehidupannya 2 tahun terakhir ini. Ia sibuk dengan pekerjaannya. Ia mencari uang dengan giat, sesudah itu ia menghabiskan waktu dengan hobi dan teman-temannya. Setelah lelah sampai dirumah ia langsung beristirahat. Ia lupa bahwa ia tidak pernah meluangkan waktunya untuk menyapa Tuhan. Ia tidak pernah bersaat teduh bahkan hari Minggu terkadang ia tidak ke gereja, dan Roh Kudus mulai mengingatkannya akan hal itu.

Pada saat ia sakit, ia harus dirawat di Rumah Sakit selama 21 hari. Padahal ia tidak mempunyai cukup uang untuk biaya Rumah Sakit. Dokter berkata bahwa ia harus tetap dirawat karena sakitnya cukup parah. Tetapi dokter berkata bila ada mukjizat maka Choky dapat keluar Rumah Sakit sesegera mungkin.

Pada hari ke delapan, Choky berangsur-angsur pulih. Akhirnya ia bisa keluar dari Rumah Sakit dan ia dapat membayar biaya Rumah Sakit. Tetapi Choky tidak dapat langsung dapat melakukan kegiatannya. Ia harus bed rest selama 3 bulan. Ia menjalaninya. Pada saat ia merasa sehat, perasaan takut itu datang. Ia merasa tidak bisa sukses. Tetapi pada saat itu Tuhan meyakinkan bahwa ia harus melakukan bagiannya dan Tuhan yang akan lakukan bagian-Nya.

Mulai saat itu ia kembali menulis CV untuk ia masukkan ke beberapa agensi. Ia mulai menghubungi teman-temannya dan mencari link untuk memberikan jalan ia menjadi presenter. Ia melakukan yang terbaik pada waktu di casting. Sampai pada akhirnya produsernya berkata bahwa ia adalah orang yang tepat untuk acara ini.

Ada saatnya ia hampir gagal dan ia ingin menyerah. Tetapi Tuhan jelas berkata jangan pernah menyerah, lakukan terus apa yang sedang dilakukan karena ia menuju keberhasilan. Ia mendapatkan satu ayat “Tetapi orang-orang yang menantikan Tuhan akan mendapat kekuatan baru, mereka seumpama rajawali yang naik terbang…”. Ada waktunya Tuhan memberikan kepercayaan dari yang kecil dampai yang besar. Dari perkara yang kecil, bila kita setia lalu Tuhan pasti akan mempercayakan hal yang besar.

Tuhan mengajarkan Choky untuk tetap optimis. Melakukan sesuatu yang baru dengan semanagt. Tuhan Yesus adalah sahabatnya. Walaupun banyak sahabatnya di dunia tetapi ia merasa bahwa Yesus adalah sahabat sejatinya. Pengharapan akan menimbulkan iman dan pada akhirnya akan menghasilakan satu solusi. Itulah hal yang ia percayai tentang kehidupannya bersama Tuhan Yesus. (Kisah ini ditayangkan 10 November 2009 dalam acara Solusi Life di O’Channel)

Sumber kesaksian:
Choky Sitohang (jawaban.com)

Diculik Dan Dibunuh, Namun Hidup Kembali


Video Kisah Nyata Penculikan

“Sebelum kejadian itu saya alami, saya bermimpi diculik oleh dua orang ke hutan. Tapi saya tidak tahu di hutan mana. Di situ saya dipukuli dan dibunuh. Saya sempat menceritakan mimpi saya itu ke seorang teman, tapi teman saya berkata bahwa hal itu hanyalah mimpi, tidak mungkin jadi kenyataan,” demikian Janni memulai kesaksiannya.

Justru sekitar satu bulan kemudian, mimpi Janni menjadi kenyataan. Hari itu Janni sedang berjalan-jalan di daerah Kota ketika tiba-tiba ada seseorang menepuk pundaknya. Ada enam orang pelaku yang membawanya masuk ke dalam taksi dan membawanya ke sebuah hutan. Di hutan tersebut, Janni diperlakukan secara tidak manusiawi.

“Saya dipukul, ditendang dan diancam. Mereka berkata, kamu harus temukan cara untuk bisa menebus nyawa kamu, supaya kamu bisa pulang dengan selamat. Maka saya menelepon abang saya. Saya bilang, ‘Bang saya diculik. Saya posisinya di hutan, saya tidak tahu hutan mana, saya diculik’.”

Hari itu kakak Janni sedang dalam perjalanan menggunakan sepeda motor. Selain mendapat telepon dari Janni, si penculik juga menghubunginya serta meminta uang tebusan sebesar 20 juta. Setiap setengah jam si penculik menghubungi kakak Janni dan terus menyampaikan ancaman akan membunuh Janni jika uang yang diminta tidak segera ditransfer. Pada hari itu juga kakak Janni langsung melaporkan kejadian tersebut ke polisi. Dan sewaktu masih di kantor Polisi, penculik itu kembali menelepon.

“Sebelum jam sembilan uang itu harus sudah ditransfer, kalau tidak adik kamu saya habisi,” demikian kakak Janni bercerita. “Saya sudah transfer sebagian, tapi saya harus mencari pinjaman dulu kepada teman-teman dan kerabat supaya bisa cukup.”

Namun pada akhirnya negosiasi dengan para penculik itu menghadapi jalan buntu karena para penculik itu mengetahui bahwa kakak Janni telah melapor ke Polisi..

“Pada saat itu saya tambah merasa tertekan, ketakutan saya lebih tinggi lagi. Mereka bilang, ‘Adik kamu sekarang saya bunuh’. Saya bilang, ‘Kenapa adik saya harus dibunuh? Saya sudah transfer uang yang diminta’. Mereka menjawab karena saya lapor polisi.”

Akibat negosiasi yang gagal, maka saat itupun Janni dipersiapkan untuk dibunuh.

“Ini makanan terarkhir kamu, makan! Lihat matahari, ini terakhir kali kamu lihat matahari dan makan. Hari ini kamu mati.”

Mereka menyeret Janni dan memukulinya sampai ia sekarat. Dan akhirnya, salah satu dari penculik itu menjerat lehernya untuk menghabisi nyawanya. Setelah dibunuh, tubuh Janni dibuang ke semak-semak.

“Hampir jam sebelas, si penculik menelepon, ‘Adik kamu sudah saya bunuh’. Saya tidak bisa apa-apa, hanya diam. Saat itu saya pasrah. Sambil air mata saya mengalir, saya berdoa, Tuhan saya berserah penuh pada-Mu. Jika adik saya masih hidup, kembalikan utuh dari kepala sampai ujung kaki”

Namun sebuah peristiwa spiritual dialami oleh Janni.

“Saat itu saya merasakan sudah mati. Bahkan roh saya melihat sendiri jenasah saya diseret ke semak-semak. Tapi pada saat itu saya melihat sebuah cahaya yang terang sekali. Yesus menampakkan diri dengan cahaya yang terangnya luar biasa. Tiba-tiba ada angin yang begitu kencang dan roh saya kembali ke tubuh saya.” Setelah sadar, Janni pun berlari keluar hutan untuk mencari pertolongan.

Sekitar jam 1 siang, kakak Janni pamit pulang dari kantor polisi. Namun seorang polisi menahannya, “Jangan! Jangan pulang dulu.” Dan sekitar lima belas menit kemudian, seorang polisi memberitahukan bahwa adiknya sudah ditemukan dan sekarang berada di rumah sakit.

“Pada saat itu, saya langsung mengucap syukur kepada Tuhan. Tuhan terima kasih, Tuhan Yesus saya sangat berterima kasih. Pada saat bertemu dengan Janni, saya langsung memeluknya dan terus mengucap syukur kepada Tuhan.” Demikian ungkap kakak Janni.

Janni pun tak putus-putusnya mengucap syukur buat kebaikan Tuhan, “Kebaikan Tuhan yang saya alami tidak pernah saya bayangkan, saya bisa selamat dari maut. Saya bisa bertemu dengan abang saya, juga bisa bertemu dengan keluarga. Saya rasanya bangga bisa hidup kembali. Saya senantiasa mengucap syukur atas kebaikan Tuhan. Bahkan saya mengucap syukur atas segala hal yang Tuhan kerjakan. Tuhan itu luar biasa.” (Kisah ini sudah ditayangkan 09 November 2009 dalam acara Solusi Life di O’Channel).

Sumber kesaksian :

Janni (jawaban.com)

Istri Kejam yang Menyiksa Buah Hatinya Sendiri


Video Kisah Nyata Kepahitan & Luka Batin

Kebahagiaan Mui Ha hanya seumur jagung. Setelah anak pertamanya lahir, Mui ha berubah menjadi sosok wanita yang keras. Anaknya pun sering menjadi korban kemarahannya.

“trus anak 9 bulan aja kalo nangis saja saya pukul. Saya cubit. Dasar anak gak berguna, kalo tahu mah gw matiin saya bilang gitu. Udah saya marah-marah, saya lempar anaknya ke kasur,” ujar Mui Ha mengawali kesaksiannya.

Namun, keberingasan Mui Ha tidak cukup sampai disitu. Saat anaknya pertama semakin besar, sedikit kesalahan yang dibuatnya akan berakibat fatal.

“Saya tanya kenapa lis, bisa tumpah. Dia jawab gak tahu, tahu. Tanyain gak tahu, spontan saya angkat kemoceng, saya pukul dia. Saya bilang dasar anak gak berguna. Semua perkataan gak bener, saya ucapkan ke dia,”

Saat anaknya tidak mau mengaku, Mui Ha semakin ganas menyiksanya.

“Pertama, saya gigit kupingnya sampai berdarah. Walaupun dia sudah minta ampun, tetap aja dia saya pukul. Sambil pukul, sambil membayangi muka wajah mama saya”.

Sejak lahir, Mui ha tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. Kehadirannya selalu ditolak oleh ibu kandungnya.

“Kalau saya panggil dia mama, dia tidak pernah nyahutin. Kalau saya dekatin, dia selalu dorong. Saya gak pernah diberi kesempatan dekatin dia, apalagi kalau saya sakit panas atau apa, mama selalu bilang begini, “kamu sakit itu kamu sendiri yang mau. Mati aja, ga pa pa. Lo anak yang lebih. Kalau gw ga ngelahirin lo, ga suka begini,” Pas lahirin saya, mama terus sering sakit, kena musibah” kata Mui Ha sambil menahan tangis.

Beranjak remaja, hidup Mui Ha sedikit pun berubah. Seringkali dia dipersalahkan untuk hal yang tidak ia lakukan.

Suatu waktu, adik Mui Ha menangis karena menginginkan kue. Mendengar tangisan, kakak Mui Ha langsung mendatanginya dan menampar hingga pipinya berdarah. Tanpa terlihat iba, kakak Mui Ha menyuruh dirinya untuk mengkumur-kumur bibirnya yang berdarah dengan air garam agar darahnya berhenti. Ia pun menuruti perintah tersebut.

Penderitaan Mui belumlah selesai. Ketika ia membantu adiknya yang sedang terjerumus ke sungai, Mui Ha malah dimarahi oleh kakaknya sendiri yang tidak jauh dari situ. Bahkan saat mamanya sampai di tempat dimana dia dan saudarinya sedang bermain, ibu Mui Ha langsung marah-marah melihat kondisi adik Mui Ha yang penuh lumpur.

Tanpa basa-basi, sang ibu pun langsung menghajar dirinya. Tangisan dirinya, tidak membuat mamanya diam atau mengurangi pukulannya. Malah, saat dirinya minta ampun, malah kata-kata yang kurang pantas keluar dari mamanya sambil terus memukul dirinya yang sudah menderita.

Namun, siksaan yang diterima Mui Ha dari ibunya semakin hari semakin parah dan merajalela. Bahkan, di depan mata ayahnya, sang ibu tega memukul dirinya tanpa alasan.

“Memang saya mandi di sungai agak lamaan karena saya mencari ikan untuk lauk buat makan. Jadi mungkin karena kelamaan atau apa, saya juga tidak tahu. Saya udah naik dari sungai, saya masuk ke dapur tahu-tahu dari belakang mama tarik rambut saya, dijenggut langsung dipukul, dihajar dengan kayu sebesar batang senter sampai diri saya terkencing-kencing disitu. Papa yang melihat hal itu, hanya merangkul saya,” ujarnya. “Melihat diri saya dirangkul papa, mama malah bertambah kasar. Papa pun segera keluar dari situ dan tidak berapa lama kemudian datang membawa golok. Bukannya takut, malah perkataan mama semakin menyakitkan dan berkata kepada papa agar membawa saya pergi dari rumah mereka,” lanjut Mui Ha.

Kebencian Mui Ha terhadap ibunya sudah memuncak, sebuah tindakan gila menantang sang ibu siap ia lakukan.

“Saya bilang, “awas lho ma. Kalau saya sudah jadi orang kuat, saya akan bunuh mama di depan papa. Dan kalau mama mati, saya tidak akan tangisin mama.”

Mui Ha tidak pernah membayangkan bahwa hidupnya akan hancur di tangan ibunya sendiri. Hatinya tidak kuat menahan rasa sedih di dalam batinnya. Rasa sesal hadir di dunia ini pun menyelimuti dirinya. Tanpa sadar, masa lalunya itu pun terus mengikat dirinya sampai ia menikah dan mempunyai anak.

Perlakuan kasar Mui Ha terhadap salah seorang putrinya merupakan hasil masa lalu yang terus ia ingat. Elis, putri dari Mui Ha yang sering kali mendapat perlakuan kasar mengaku sedih atas tindakan masa lalu mamanya kepadanya ketika itu.

“Kok mama bisa begini? Kenapa Elis gak lahir di keluarga yang beda, jangan di keluarga yang seperti ini,” ungkap Elis sambil menahan tangis.

Dendam telah membuat Mui Ha menjadi sosok yang kejam sama seperti ibunya, namun hati kecilnya menjerit, ia tidak pernah mau hidup seperti ibunya.

“Saya gak bisa lepas kekerasan saya walaupun sebenarnya saya menyesal dengan apa saya lakukan. Selalu saya tonjok dada saya sendiri dan kepala saya, saya jedotin ke tembok. Gak bisa hilangin emosi, tetapi gak bisa. Saya merasa tidak menemukan jalan keluar untuk masalah saya ini,” kisah Mui Ha.

Tak ada yang mampu mengubah sifat keras Mui Ha, sampai suatu hari ia bertemu dengan seorang teman. Kepada wanita tersebut, Mui Ha menceritakan rahasia hidupnya. Dalam pembicaraan tersebut, temannya memberikan saran kepadanya agar dia bisa mengubah perilaku terhadap putrinya. Namun, itu tidaklah belum bisa mengubah sifatnya yang keras.

Dua hari kemudian, Mui Ha dibawa ke dalam sebuah pertemuan yang nantinya akan menjungkir balikkan hidupnya.

“Dari situ, saya dengar setiap khotbah yang disampaikan oleh hamba Tuhan yang berdiri di depan mimbar. Sampai ada satu ayat yang begitu me-rhema di hati saya yakni di Yohanes 3:16, Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Tetapi, ayat itu seperti bertolak belakang dengan kenyataanya saat ini. Di mata orang tua saya, saya bukanlah orang berharga; di mata suami, saya tidak berharga karena saya orang gila.”

Saat itu juga, Mui Ha ditantang untuk mengampuni ibunya. Bayang-bayang kekejaman sang ibu sangat melekat di ingatannya. Masih segar di ingatan Mui Ha, saat terakhir ibu menangis di sisinya. Tidak ada rasa iba yang ditunjukkannya kepada sang ibu ketika itu bahkan harapan akan kematian cepat dari ibunya itulah yang diinginkannya.

Kuasa Tuhan dalam pertemuan itu begitu kuat. Walaupun begitu, perjuangan Mui Ha melepaskan pengampuan kepada orang-orang terdekatnya tidaklah mudah.

“Pembimbing saya bilang, kamu bisa, kamu pasti bisa katanya. Kamu panggil Tuhan Yesus. Ya sudah saya panggil, Tuhan Yesus bantu saya Tuhan, sanggupkan saya untuk bisa mengampuni mama saya. Ketika saya berteriak Tuhan Yesus yang ketiga kalinya, saya melihat ada layar putih yang terbuka dan terdengar suara bisikan yang mengatakan bahwa saya pasti bisa mengampuni mama saya. Saya pun taat dengan suara Tuhan dan saat itu saya mengambil keputusan untuk mengampuni mama saya. Saya tahu saya telah ditebus oleh Tuhan dan hidup saya berharga di hadapan-Nya “

Kata-kata pengampunan itu telah mencabut setiap akar pahit dari hati Mui Ha. Satu pengakuan tulus keluar dari hatinya.

“Saya minta ampun sama Tuhan karena selama ini dendam sama mama, suami, saudara, sama anak. Saya gak tahu mengapa perasaan dendam itu begitu dalam dan berat, tetapi waktu saya pertama kali mengampuni mama, saya merasakan kelegaan,”

Hari itu juga, Mui Ha memberanikan diri memohon maaf kepada kedua anaknya. Tangisan dan pelukan diantara mereka menjadi sebuah awal hubungan yang baru di antara mereka. Anak-anak Mui Ha pun mengaku bahwa mereka sudah lama mengampuni setiap kelakuan dari dirinya.

Mui Ha yang telah bertahun-tahun menyiksa darah dagingnya sendiri kini telah berubah total menjadi seorang ibu yang penuh dengan kasih. Dirinya mengaku begitu mengucap syukur dengan perubahan yang sekarang dia alami di dalam Tuhan Yesus.

“Saya senang sekali, senang sekali dan selalu tidak pernah habis-habisnya selalu mengucap syukur,” ungkap Mui Ha menutup kesaksiannya. (Kisah ini ditayangkan 4 September 2009 dalam acara Solusi Life di O’Channel).

Sumber Kesaksian:
Phang Mui Ha (jawaban.com)

A Liang: Pertobatan Wanita Penjudi Berat


Video Kisah Nyata Pertobatan Wanita Penjudi
Puluhan juta rupiah ia hamburkan begitu saja, tak ada lagi yang lebih menggairahkan bagi A Liang selain judi.

“Jika malam-malam ketika suami tidur, saya tidak takut untuk pergi sendiri. Dalam seminggu itu bisa 4 atau 5 kali… Dan saya memegang banyak uang,” ungkap A Liang.

Bukan hanya uang, bahkan keluarganya pun ia pertaruhkan demi judi yang dicintainya. “Saya sampai tidak bisa ngomong lagi. Dia bilang ‘Saya main bukan pakai uang kamu.’ Udah bicara berapa kali dia tidak mau dengar, ya saya tidak bisa ngomong lagi,” kisah suami A Liang.

Kebiasaan buruk berjudi A Liang tersebut disebabkan karena traumatis masa lampaunya. Derita dan pahitnya hidup telah A Liang rasakan sejak ia kecil. Demi mencari uang, ia sudah bekerja semenjak masa kecilnya.

“Saya pernah dibawa oleh mama saya untuk jaga adik saya ke tempat main judinya. Mama saya judinya judi rumah tangga. Biar dikit-dikit ya, itu pun tetap sangat pengaruh untuk ekonomi. Kalau mama saya judi, menang, saya dapat makan enak. Kalau mama saya kalah berjudi, saya kena semprot, kena marah, kena pukul,” kisah A Liang mengenai kebiasaan buruk ibunya yang suka berjudi.

Judi yang ibunya lakukan, terus menariknya dalam kepedihan hidup yang semakin dalam.

Sebenarnya A Liang berjanji bahwa ia tidak ingin seperti ibunya, “Saya melihat gitu, nanti kalau saya besar saya tidak boleh seperti mama. Saya harus menjagai anak-anak saya. Saya tidak boleh seperti mama saya. Anak-anak mama saya itu terlantar semua.”

Tanpa A Liang sadari, ia telah menjadi sama seperti ibunya. Bahkan kecanduannya semakin menggila.

“Semuanya, fokus dan pikiran hanya ke judi. Sampai saya gak pergi kerja, pergi judi saja,” ungkap A Liang.

Hutang, perlahan dan pasti mulai membelenggu hidup A Liang. Ia pun berencana untuk memperbaiki nasibnya dengan pergi ke luar Negeri. Niat baik sang kakak untuk meminjamkan uang sebagai deposit ke bank justru menjadi titik awal kehancurannya.

“Tak ada rencana, saya ambil uang dari kakak saya itu yang dititipkan ke bank. Akhirnya… saya berani untuk pakai berjudi dan habis. Jadi saya kalah 40 juta, masih ada 40 juta, dan saya ingin menang lagi. Saya berpikir kalau saya tidak menang, paling, saya bunuh diri saja. Akhirnya… Saya bukannya kalah, tapi malah menang banyak. Saya pun ingin untuk main lagi. Pikirannya saya nanti bisa menang lagi, belum cukup untuk kembalikan uang kakak saya. Tetapi akhirnya uang itu… saya kalah lagi,” kisah A Liang mengenai bagaimana ia menghabiskan uang pinjaman kakaknya.

Ketakutan mulai menghantui A Liang. Melarikan diri ke sebuah tempat asing menjadi keputusannya guna menutupi rasa malu dan lari dari penagih hutang yang mencarinya.

“Saya tidak berani pulang ke rumah, saya meninggalkan anak saya. Tapi saya lari sambil main juga, ya berharap siapa tahu nanti masih bisa menang. Akhirnya saya pun tak menang, timbullah lagi niat bunuh diri lagi,” kisah A Liang.

A Liang - Pertobatan Wanita Penjudi Berat“Rasanya hidup ini tak ada artinya. Bikin malu semua saudara. Bikin susah orang tua, bikin susah suami. Muka mau ditaruh dimana…? Lebih baik saya bunuh diri saja,” pikir A Liang.

Bagi A Liang, kematian menjadi satu-satunya jalan keluar dari semua kesalahan yang telah ia lakukan. Namun sebuah suara lembut, tiba-tiba terdengar dan menyadarkannya.

“Saya mengasihimu… Kata suara tersebut. Saya bilang, ‘Benar Tuhan, Kamu masih mengasihi saya?’ Lalu saya bilang, ‘Yesus… banyak orang benci saya, banyak orang menghina saya, gara-gara kesalahan saya… Tapi Kamu masih bisa mengasihi saya.’ Tuhan menyuruh saya pulang… ‘Pulang kepada suamimu, akan kubereskan semua hutang-hutangmu. Percaya saja.’ Satu suara itu terus di telinga saya. Aku mengasihimu. Pulanglah… pada suamimu,” kisah A Liang bagaimana Tuhan berbicara langsung kepada dirinya untuk menjadi kuat dan kembali pada keluarganya.

Akhirnya A Liang pun percaya. Ia pun memberanikan diri menelepon suaminya.

“Saya takut untuk menelepon suami saya. Saya tidak berani, takut rasanya,” ungkap A Liang.

A Liang pun memberanikan melangkahkan kakinya ke rumah. Tetapi kenikmatan judi tidak semudah itu melepaskan A Liang. Hingga sebuah pernyataan dari sebuah buku yang A Liang baca, kembali menyadarkan A Liang atas semua kesalahannya.

“Saya baca Firman Tuhan dan saya temukan bahwa Tuhan itu mengasihi, mengasihi semua anak-anakNya. Tapi Tuhan tak mau dipermainkan, kata dalam Firman itu. Seringkali saya membaca Firman Tuhan itu, selalu tersentuh hati saya. Jadi, saya tidak mau main-main lagi sama Tuhan. Saya harus membereskan semuanya,” kisah A Liang.

Maka A Liang pun berusaha untuk tidak judi lagi.

“Semenjak tahun 2003 sampai sekarang, saya tidak bermain judi lagi. Judi, buntut, apapun saya tidak main judi lagi,” kisah A Liang.

A Liang telah terlepas dari judi yang mengikatnya selama bertahun-tahun. Satu demi satu hutangnya pun telah ia lunasi dan kebahagiaan telah kembali dalam keluarga ini.

“Kalau kepingin kaya, itu tidak salah. Tapi kalau pingin kaya dari berjudi, itu tidak mungkin,” ujar A Liang.

“Rumah tangga saya sudah mau hancur-hancur, Tuhan sudah pulihkan. Keuangan saya, Tuhan juga sudah pulihkan. Tak ada satu manusiapun bisa memberi saya damai sejahtera, hanya Tuhan Yesus,” tambah A Liang. (Kisah ini ditayangkan 2 September 2009 dalam acara Solusi Life di O’Channel).

Sumber Kesaksian:
A Liang (jawaban.com)

A Liang - Pertobatan Wanita Penjudi Berat

Kematian Ibu Membuat Aku Tidak Waras


Video Kisah Nyata Sakit Jiwa disembuhkan.

Semenjak masa mudanya, Dorkas sangat tergantung pada orangtuanya, terutama ibunya. Bahkan ketika ia sudah menikah dan memiliki anak, ia masih tinggal bersama ibunya dan bergantung pada ibunya.

Pada suatu hari, kejadian yang dapat mengubahkan ibunya pun terjadi. Karena ingin menjemur popok cucunya, sang nenek tertusuk paku berkarat dihalaman rumahnya. Dorkas segera membawa ibunya ke dokter untuk diperiksa. Ternyata ibunya terkena infeksi karena paku itu dan dinyatakan terkena tetanus. Kakinya mulai bengkak dan demam.

Karena infeksi yang sudah parah, akhirnya ibunya meninggal dunia. Ketika mendengar kabar memilukan itu, Dorkas tidak percaya, ia tidak dapat menerima hal itu. bahkan ia sampai pingsan.

Ia merasa ini adalah kesalahannya. Karena menjemur popok anaknya, dan tertusuk paku, ibunya jadi meninggal. Ia mulai menyalahkan keadaan. Suami dan pernikahannya pun ia jadikan alasan kematian ibunya.

Mulai saat itu Dorkas tidak bisa tidur dan tidak mau makan. Ia mengalami kegoncangan jiwa dan kelemahan fisik. Ada saat dimana tangan dan kakinya kram dan tidak bisa bergerak. Saat mulai normal lagi, Dorkas mulai berbicara sendiri. ia melupakan suami dan anaknya dan sering mendengar suara-suara yang menganggunya.

Suaminya membawa Dorkas ke dokter untuk mendapatkan berbagai pengobatan untuk kesembuhannya. Namun tak ada satupun yang membuahkan hasil. Dorkas semakin kacau dan tidak waras. Bahkan ia manganggap suaminya adalah musuh yang harus dibunuhnya.

Suatu hari, ia merencanakan pembunuhan terhadap suaminya. Ia ingin menusuk suaminya dengan pisau. Tetapi karena suaminya tahu bahwa istrinya sedang stress, ia pun dapat mengagalkan rencana istrinya itu. karena gagal, anaknya pun siap menjadi sasaran. Tetapi harus gagal lagi karena suaminya dapat mencegahnya.

Pada saat keadaan sedang normal, Dorkas teringat untuk berdoa. Tetapi doanya hanya untuk formalitas saja. Karena ia merasa bahwa Tuhan tidak sayang padanya. Ia ingin supaya ia matio saja. Justru pada saat ia berdoa, ia mendengar suara. Ia teringat satu ayat: “Allah turut bekerja dalam segala perkara, yang mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi-Nya”

Ia lalu menangis dan meminta ampun pada Tuhan atas apa yang sudah ia perbuat selama ini. saat itu ia mulai kembali semangat. Tuhan mengangkat Dorkas dan akan dibawa Tuhan untuk melayani disuatu tempay. Dorkas pun setuju akan hal itu.

Saat itu juga, Dorkas mulai berpikir hal-hal positif. Walaupun fisiknya belum sembuh tetapi jiwanya sudah sembuh. Perlahan tapi pasti, ia dipulihkan. Ia menyadari bahwa segala sesuatu diatur oleh Tuhan. Dorkaspun akhirnya dapat menerima kepergian mamanya.

Saat ia sudah dipulihkan, iapun melayani orang yang sakit jiwa. Tuhan memberikan mukjizat padanya dan menyembuhkan semua penyakit dalam hidupnya. (Kisah ini ditayangkan 2 September 2009 dalam acara Solusi Life di O’Channel).

Sumber Kesaksian:
Dorkas (jawaban.com)

Diintai Roh kematian Didera Ketakutan Tiada Henti

Wednesday, 4 November 2009, 4:22 | Category : Kesembuhan
Tags : , ,

“Saat itu saya sedang mempersiapkan buku untuk pelajaran esok hari. Namun ketika saya sampai di meja belajar, saya malah tidak tahu apa yang harus saya perbuat. Lalu tiba-tiba saya ambil buku, dan tanpa saya rencanakan sebelumnya tiba-tiba saja saya langsung menggambar wajah orang-orang yang seram tanpa dapat saya kendalikan. Dan setelah 2 atau 3 gambar kemudian, ada sebuah kekuatan lain yang turun atas tubuh saya. Saya lemas dan kehilangan kekuatan, jantung saya berdebar dengan sangat cepat, ada aliran panas yang terasa di dada dan merangkak naik sampai ke tengkuk. Saya benar-benar tidak punya kekuatan sama sekali. Kemudian ada pikiran lain yang masuk ke otak saya dan berkata, ‘Sebentar lagi kamu akan mati! Sebentar lagi kamu akan mati!’,” ujar Abraham membuka kesaksiannya.

Sumber suara itu memang tidak terdengar secara audibel kepada Abraham tapi suara itu sepertinya bicara langsung kepada Abraham. Sontak hal itu membuat Abraham ketakutan karena memang dia tidak pernah mengalami hal seperti itu sebelumnya.

Sejak berusia 14 tahun, Abraham terkena sebuah penyakit yang aneh. Seakan roh kematian akan mencabut nyawanya. Dengan kondisinya yang lemah, Abraham berusaha mencari pertolongan. Abraham berlari ke omanya, dan ia hanya mampu bicara dengan nafas yang terputus-putus, “Oma, tolong saya! Saya sakit! Saya mau mati!”.

Namun ternyata oma Abraham tidak tahu harus melakukan apa. Abraham pun dibawanya ke dukun. Sesampainya di sana, Abraham diberikan air yang telah dibacakan mantera sebelumnya. Sepulangnya dari dukun, bukannya menjadi lebih baik, keadaan Abraham menjadi semakin parah. Rasa panas di dadanya tidak mau hilang, jantung Abraham terus berdetak dengan sangat kencang dan ketakutan akan kematian begitu menghantui Abraham. Badannya juga menggigil kedinginan dan kekuatan sepertinya lenyap dari tubuhnya.

Sekalipun Abraham makan banyak sekali, ia tidak pernah merasa kenyang. Badannya pun tetap kurus dan sepertinya tidak punya tenaga. Parahnya lagi, Abraham merasakan otot di sekujur tubuhnya bergerak seperti detak jantung. Setiap saat selama 24 jam, Abraham merasakan ototnya terus bergerak, terkadang di pipi, badan, lalu berpindah ke kaki, terus saja berpindah-pindah.

Keadaan tubuhnya yang aneh benar-benar membuat Abraham ketakutan. Sekalipun Abraham berada di tengah-tengah orang banyak, ia tetap merasa ketakutan.

“Saya benar-benar merasa ketakutan. Saya takut dengan dunia kematian yang begitu hebat. Dan sepertinya tidak ada yang bisa menolong saya,” kisah Abraham.

Abraham pun menjadi depresi. Ia selalu teringat akan kata-kata bahwa sebentar lagi dirinya akan mati, ditambah lagi keadaan fisiknya yang terus saja terasa aneh. Abraham benar-benar tidak bisa berada di suatu tempat sendirian. Ia selalu saja mencari tempat dimana banyak orang sedang berkumpul sehingga ia bisa mendengar suara orang lain dan rasa takut yang dialaminya bisa sedikit ditahannya.

Ketika malam datang, hal itu menjadi masalah yang sangat besar bagi Abraham karena ia betul-betul takut untuk mati. Abraham benar-benar merasa belum siap untuk mati. Ketakutan Abraham tak terbendung lagi hingga Abraham akhirnya berhenti untuk sekolah.

“Saya tidak bisa konsentrasi dengan pelajaran di sekolah. Setiap kali sedang belajar, alam pikiran saya hanya dibawa kepada ketakutan, kematian, dan tidak pernah terbersit untuk memikirkan hal yang lain. Sampai akhirnya saya putus sekolah. Saya tidak mau sekolah lagi,” ujar Abraham menceritakan masa-masa terkelam dalam hidupnya.

Abraham terus mencari pertolongan dengan menemui kenalan pamannya untuk berdoa. Ketika didoakan oleh kenalan pamannya ini, Abraham merasakan dirinya kuat dan ada keberanian yang timbul di dalam dirinya. Tapi dalam perjalanan pulang, suara intimidasi akan kematian itu terus menekan pikiran Abraham dan pikirannya kembali dikuasai oleh ketakuan akan kematian itu. Dari hari ke hari, Abraham tidak melihat adanya perubahan pada dirinya.

“Suatu saat saya merasa tertekan karena saya tidak kunjung sembuh dan saya pun menangis menjerit, ‘TUHAN, kenapa penyakitku tidak sembuh-sembuh juga?!?!?!’ karena ketika saya berdoa bersama hamba Tuhan itu, saya merasa nyaman, tenang, sepertinya sembuh. Tapi setelah itu saya tidak bisa merasakan hal itu lagi. Saya hanya terus berpikir, bagaimana caranya agar saya bisa keluar dari keadaan ini, tapi saya tidak bisa,” ujar Abraham mengenai pergumulannya saat itu.

Dalam keadaan tertekan dan depresi, Abraham pergi ke tempat ayahnya yang telah lama berpisah dengannya. Namun tak pernah diduga oleh Abraham sebelumnya, sambutan sang ayah hanya membuatnya sedih.

“Ayah saya tidak peduli bahwa saya sedang sakit dan dia tidak percaya sama saya. Dia hanya berpikir kalau memang sakit itu artinya terbaring dan tidak bisa bangun. Yang dia mau hanyalah saya kembali sekolah,” ucap Abraham dengan sedih.

Selama Abraham kembali ke bangku sekolah, perlakuan ayahnya kepada dirinya tetap saja kasar, selalu mengganggap dirinya sebagai anak yang tidak becus, berbeda dengan kakak-kakaknya yang lain. Abraham harus menerima makian demi makian dari ayahnya sendiri. Sebutan ‘anak sial’, ‘tidak tahu diuntung’ telah menjadi makanannya sehari-hari. Kata-kata kutukan senantiasa dilontarkan ayah Abraham kepada dirinya dan itu menimbulkan luka di hati Abraham.

Akhirnya Abraham menemukan seseorang yang dapat memberikan penghiburan kepada dirinya. Salah seorang teman sekolahnya senantiasa menghibur dan memberikan kata-kata penguatan bagi dirinya sampai akhirnya Abraham pun diajak ke sebuah pertemuan ibadah untuk anak-anak di sekolahnya. Itulah awal pertama Abraham tahu bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat bagi dirinya. Untuk pertama kali pula Abraham mulai belajar percaya dan menyerahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan Yesus.

“Ada perubahan yang saya rasakan dengan penyakit saya. Saya bisa menghadapi intimidasi dari iblis, saya bisa mengalahkan suara-suara kematian yang selalu bergema di pikiran saya, dan saya katakan, ‘Tuhan sudah menebus saya dan saya tidak akan mati tapi akan hidup!’ Dan penyakit saya mulai berkurang, debaran jantung saya yang cepat itu hilang, kemudian panas tubuh saya yang tinggi itu hilang,” kisah Abraham.

Namun roh kematian itu tak pernah berhenti mengejar Abraham. Iblis datang menyerang Abraham dengan cara yang berbeda. Sebuah suara seperti gelombang radio masuk ke dalam telinga Abraham dan memegang dirinya, dan rasanya seperti roh Abraham ditarik keluar. Hal itu biasanya terjadi ketika Abraham sedang tidur. Ketika hal itu sedang terjadi menimpanya, Abraham hanya bisa mencoba berteriak, “Tuhan Yesus sudah tebus saya. Kamu tidak punya hak lagi atas tubuh saya,” dan roh Abraham pun kembali ke dalam tubuhnya.

“Semenjak saat itu, saya mulai menggunakan nama Tuhan Yesus dengan lebih sungguh-sungguh lagi. Pada waktu yang lalu saya tidak pernah tahu akan kebenaran itu, saya tidak pernah tahu tentang nama Yesus yang sanggupo mengalahkan apa pun. Tapi semenjak saya mulai mengenal Yesus di pertemuan-pertemuan ibadah itu, saya mulai kuat. Saya mulai berani dan mampu melawan kelemahan dan penyakit yang datang menyerang saya,” ujar Abraham dengan muka berseri-seri.

Serangan yang biasa dialaminya mulai berkurang sampai akhirnya Abraham pun merasakan bahwa tubuhnya sudah benar-benar sehat. Ia pun bisa kembali hidup dengan normal dengan penyakit dan suara-suara intimidasi yang menghilang dari kehidupannya.

“Sekarang saya sudah hidup dalam anugerah Tuhan, tidak hidup dalam kutuk lagi. Saya hidup dalam berkat dan kasih Tuhan. Dengan sakit penyakit itu, Tuhan mengantar saya untuk mengenal Tuhan, mengenal Juruselamat dengan baik, mengenal Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Itu yang saya syukuri sampai hari ini,” ujar Abraham menutup kesaksiannya dengan penuh sukacita. (Kisah ini ditayangkan 1 September 2009 dalam acara Solusi Life di O’Channel).

Sumber Kesaksian:
Abraham Pellokila (jawaban.com)

Anugerah Tuhan Dibalik Peristiwa Tragis Sang Suami

Tanggal 4 Maret 2008 adalah tanggal yang akan selalu diingat oleh keluarga Herwanto Wibowo, khususnya Enrika. Pada tanggal tersebut, Herwanto, suami yang dicintainya hampir meninggal karena tindakan brutal yang dilakukan oleh seseorang yang tidak dikenal.

“Waktu saya enak-enak belanja, anak buah saya datang, “ci, disuruh pulang” Saya tanya, “kenapa?” dia ngomong, “om kecelakaan”. Langsung saya datang ke UGD. Disitu sudah banyak orang, banyak teman-teman. Terus saya lihat Herwanto, ya kaget. Saya menjerit, “Ada apa?” Langsung saya nangis. Terus saya ditarik oleh Satpam, tidak boleh dekat-dekat. Pada waktu itu kondisi Herwanto sudah berdarah-darah. Kedua kupingnya hampir putus seperti digigit tikus,” ujar Ernika mengawali kesaksiannya.

Sungguh sebuah kengerian yang tidak pernah Enrika bayangkan. Kepedihan menguasai dirinya.

Sementara itu, melihat kondisi yang semakin parah Herwanto pun dipindahkan ke rumah sakit lain untuk dapat segera menjalani operasi.

“Sebelum keluar aja, dokter udah bilang bahwa rongga matanya tuh pecah. Matanya ini buta sebelah kiri,” ujar Enrika. “Pada waktu itu, bapak sudah tidak sadar. Ada memar di sebelah kiri kepalanya. Tengkoraknya pun kelihatan terbuka,” ungkap dr.Linda, dokter yang memeriksa Herwanto.

Tanda tanya besar tentang apa yang terjadi pun menghantui pikiran Enrika. Hingga temannya pun membawa seorang saksi yang mengetahui kejadian sebenarnya. Namanya Salimin.

“Saya mendengar suara gaduh di gang tersebut. Pada waktu saya nengok ada satu orang yang sedang terlentang dipukul dengan barbel oleh satu orang lain. Saat pukulan ketiga diarahkan ke wajah korban itu, saya langsung lari berniat untuk memberhentikan. Perkelahian pun terjadi. Barbel yang dipegang pelaku tersebut pun sempat lepas dari genggamannya, tetapi saya kalah. Tidak kehabisan akal, saya pun meninggalkan tempat dan berteriak minta tolong ke orang lain hingga membuat akhirnya pelaku itu pun kabur meninggalkan korban bersimbah darah.”

Darah itu sudah terlanjur mengalir, Enrika hanya bisa terdiam memandang suaminya yang terbujur lemas, tak sadarkan diri.

“Saya tidak pernah merasakan suatu kesedihan. Suatu masalah yang besar. Jadi, happy gitu. Suami saya baik, bertanggung jawab, sayang sama anak-anak. Anak-anak juga baik-baik, tidak ada yang macam-macam,” cerita Enrika.

Indahnya sebuah keluarga dalam kenangan-kenangan manis telah mereka lalui berasama. Namun, kenangan-kenangan itu terancam lenyap dan tidak akan terulang kembali.

“Pas itu sakit banget. Kakinya suka goyang-goyang merasakan kesakitan.” ujar Reta, putri dari pasangan Herwanto-Ernika.” Aku rela menggantikan posisi papa di rumah sakit supaya aku aja yang sakit bukan papa,” lanjut Reta sambil mencucurkan air mata.

Kematian tak segan-segan memilih korbannya. Hanya kepasrahan dan doa sajalah yang mampu Enrika lakukan.

Disaat Enrika membaca Alkitab, sebuah janji Tuhan Enrika dapatkan bahkan memberinya kekuatan. Firman itu berkata kuat kepadanya bahwa suami yang dicintainya, Herwanto tidak akan meninggal. Janji Firman Tuhan itu pun diterima Ernika dan memberikan kedamaian dalam dirinya sehingga ia pun dapat tidur dengan tenang pada malam itu.

Operasi demi operasi kembali harus dilakukan Herwanto, tetapi apakah kesembuhan menjadi milik Herwanto? Puji Tuhan..Herwanto sembuh walaupun menyisahkan beberapa sisa luka fisik dari peristiwa tersebut.

Pada saat dokter memeriksa kembali mata suaminya, Enrika mengisahkan bahwa ujian demi ujian yang diberikan oleh dokter berhasil dilakukan oleh Herwanto dengan baik. Bahkan sekarang ini kondisi suaminya masih tetap sama dengan kejadian sebelum mengalami kecelakaan, yakni tetap pintar dan memori-memorinya bersama keluarga tetap diingatnya.

Kenangan-kenangan manis di dalam keluarga pun dapat terulang kembali karena kesembuhan dan pemulihan yang Herwanto alami.

“Sekarang, pelan-pelan papa sudah bisa kembali kerja. Sudah bisa bercanda-canda kembali. Sudah seperti semula lah,” tutur Reta dengan rona wajah bahagia.

“Pekerjaan pun saya tetap bisa mengerjakan masalah-masalah. Saya bisa memberikan tanggapan, saran atau memberikan koreksi ketika terjadi kesalahan dalam pekerjaan ini,” aku Herwanto Wibowo.

Seluruh keluarga mengucap syukur atas pekerjaan Tuhan dalam peristiwa yang di mata manusia sepertinya sungguh mustahil.

“Ini adalah anugerah dari Tuhan Yesus yang menolong saya,” ujar Herwanto. “Disini saya melihat bahwa Tuhan Yesus tidak pernah mengecewakan pengharapan yang saya miliki,” ujar Enrika menutup kesaksiannya. (Kisah ini ditayangkan 28 Agustus 2009 dalam acara Solusi Life di O’Channel).

Sumber Kesaksian:
Enrika (jawaban.com)

Overdosis Karena Kepahitan Pada Ayah

Perlakuan kasar sang ayah kepada ibunya menjadi peristiwa yang tak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya. Hampir setiap hari, Stephen harus menyaksikan pertengkaran kedua orang-tuanya.

“Lebih sering papa tidak berada di rumah, tapi pergi keluar dengan teman-temannya… Mabuk-mabukan dan kebanyakan ia habiskan uangnya untuk bermain judi. Dalam keadaan mabuk, ya, yang ada juga ia malah menyakiti mama. Menyakiti kita semua yang ada di rumah,” kisah Stephen mengenai kekejaman ayahnya di keluarga mereka.

Tanpa alasan yang jelas, tak jarang pukulan keras itu mendarat di tubuh Stephen. Hingga kebencian pada sang ayah berakar dalam hatinya.

“Suatu waktu ayah pulang dalam keadaan mabuk dan tanpa alasan apa-apa ia marah-marah, seperti mengutuk saya mengatakan ‘Kamu anak yang tidak berguna,’ lalu ayah menempeleng saya dengan keras. Dan saya hanya bisa menangis saja. Saya tidak mengerti kenapa ayah saya sejahat itu. Sampai saya pernah bilang bahwa suatu hari nanti saya tidak mau mengakui dia sebagai ayah saya,” Stephen melanjutkan kisahnya.

Perlakuan yang baik tak pernah ia terima, membuat hatinya semakin perih. Bagai buah simalakama, keputusan yang pahit pun harus ia ambil sewaktu ibunya memutuskan untuk pergi.

“Perasaan saya waktu mama pergi itu… Saya tidak mau kehilangan mama saya. Cuma sebagai anak, saya juga pengen agar mama itu senang. Punya kehidupan yang baik… selagi saya juga pada waktu itu tidak bisa memberikan apa-apa untuk dia,” ungkap Stephen ketika mamanya memutuskan pergi dari rumah keluarga mereka.

Stephen yang terpuruk dalam kesendiriannya merasakan menemukan teman-teman yang menerima dirinya. Namun kehidupannya tak semakin membaik.

Stephen berkisah, “Tentunya ketika bermain dengan teman, memakai ‘barang’ juga. Yang saya cari itu, suatu kebersamaan itu sendiri. Rasanya ada hal yang mengisi di kekosongan yang ada pada diri saya. Tetapi setelah itu… Ya kembali lagi. Rasa sedih itu datang. Rasa sepi… Hidup saya tuh sama sekali tidak menyenangkan, jadi, tak ada enak-enaknya.”

Dalam kesepiannya, di sebuah stasiun kereta Stephen menemukan apa yang selama ini ia cari.

“Tanpa sengaja saya melihat seorang bapak dengan anaknya. Walaupun hal yang mereka lakukan itu adalah hal sederhana, seperti, sang ayah kasih tahu kepada anaknya suara kereta api itu bagaimana… Tetapi bagi saya itu adalah pemandangan yang indah sekali. Karena saya tak pernah dapatkan yang seperti itu. Itu sangat mengena sekali dan tak pernah saya lupakan. Jika bisa diulang, saya ingin hidup saya setidaknya lebih manis. Saya ingin punya orang tua yang normal saja, yang bisa pergi jalan-jalan bersama, ngobrol bersama. Saya sempat kecewa dengan Tuhan…”

Rasa sepi yang membunuhnya membuat hidupnya hampa dan putus asa. Bahkan kekecewaan Stephen pun bertambah saat ia lulus SMA. Ia ingin sekali untuk melanjutkan pendidikannya dengan berkuliah. Tetapi ketika ia menyampaikan niatnya kepada tantenya. Tantenya malah mengatakan bahwa itu adalah hal yang sia-sia karena nanti ia pun bisa saja akan seperti ayahnya yaitu menjadi orang yang tak berguna.

Stephen Victor“Ya saya menjadi semakin malu, gak tahu mau ngapain lagi,” kisah Stephen.

Masa depannya seakan menjadi punah. Bagi Stephen, ia seperti tak memiliki harapan lagi. Sampai tindakan nekat ia lakukan.

“Suatu hari kebetulan saya sedang bermain di rumah temen saya. Sampai akhirnya kami sepakat untuk ngeganja. Akhirnya setelah ganja kami nyabu juga. Dan kami memakainya itu terlalu banyak. Sampai akhirnya sewaktu sedang duduk-duduk begitu, saya merasakan sesuatu yang aneh. Nafas saya mulai sesak, badan saya dingin semua. Tidak karu-karuanlah rasanya. Hingga saya tiba-tiba tidak bisa merasakan kaki saya. Dan lama-lama semakin menjalar-menjalar sampai ke leher. Tak bisa merasakan apa-apa lagi. Seperti tidak punya badan saja. Saya meminta tolong pada teman saya, mereka pikir kalau saya ini sedang becanda. Sampai akhirnya teman saya benar-benar sadar bahwa saya benar-benar dalam keadaan sekarat,” kisah Stephen bagaimana ia sudah mau nyaris dalam kondisi overdosis.

Temannya, Ryan, yang adalah anak pemilik rumah itu berlari ke ibunya yang sedang berkumpul dengan teman-temannya. “Ma, tolongin Stephen Ma…” Lalu ibu Ryan dan teman-temannya mendoakan Stephen.

Stephen VictorStephen sendiri dalam keadaan seperti itu merasakan bahwa ia dibawa ke dalam suatu suasana dimana ia melihat tubuh penuh kemuliaan yang begitu besar. Ia melihat jempol raksasa dan ia berpikir tubuh siapakah itu. Tapi ia tidak bisa melihat siapa-siapa.

Pada saat itu ia berpikir bahwa apa yang ia lihat itu adalah Tuhan, karena Tuhan sangat besar sekali.

“Disitu saya menangis, ‘Tuhan, saya tidak mau mati dulu. Aku masih ingin hidup. Jika Tuhan masih mau tolong aku, tolongin aku, Tuhan. Jika Tuhan masih kasih kesempatan aku hidup, yang jelek-jelek aku mau untuk tinggalkan.’ – Setelah aku bilang seperti itu, tiba-tiba, aku seperti berada di sebuah taman yang indah. Dan disitu aku melihat diri aku berubah menjadi anak-anak. Aku melihat diri aku lari-lari, dan aku bermain-main dengan satu orang dewasa… Dia gendong aku. Saat itu aku merasa senang sekali. Belum pernah aku merasakan rasa senang seperti pada saat itu.”

Keinginan Stephen untuk mengenal pada sosok pria dalam penglihatannya itu, membawanya ke dalam suatu pertemuan yang mengubahnya.

“Belum ia jawab apa-apa, baru meluk aku saja, aku sudah menangis disitu. Menangis sejadi-jadinya yang benar-benar aku tidak bisa tahan lagi,” kisah Stephen.

Melalui sesosok seorang pria yang memiliki wibawa seperti seorang ayah, pria dalam pertemuan itu melakuan rekonsiliasi antara Stephen dengan ayah kandungnya sebagai wakil dari ayah kandungnya. Pertemuan itu adalah pertemuan titik balik dalam hidup Stephen dimana ia mengalami rekonsiliasi dalam hatinya sendiri terhadap ayah kandungnya.

Perubahan demi perubahan terjadi dalam hidup Stephen. Saat ini ia sedang melanjutkan studi di sebuah perguruan tinggi. Kasih Tuhan kian nyata ia rasakan.

“Sekalipun saya menghadapi berbagai macam masalah, tetapi saya itu bisa menghadapinya. Jika dulu, perbedaannya, saya tidak bisa menghadapinya. Tuhan Yesus itu memang Tuhan yang sangat hebat, sangat luar biasa. Di dalam Dia, Ia menerima seutuh-utuhnya diriku. Aku juga menemukan semangat hidup. Buat aku Tuhan Yesus itu… Papa yang hebat!” kisah Stephen mengenai perubahan hidupnya mengenal Kristus. (Kisah ini ditayangkan 27 Agustus 2009 dalam acara Solusi Life di O’Channel).

Sumber Kesaksian:
Stephen Victor (jawaban.com)

Stephen Victor