Tak Diperhatikan Orang Tua, Duma Riris Simpan Dendam

Tuesday, 4 January 2011, 8:46 | Category : Luka Batin, Pemulihan
Tags : , , ,

Anda mungkin pernah mendengar nama Duma Riris Silalahi. Ia adalah  wakil dari Sumatera Utara dalam ajang Puteri Indonesia 2007. Pada ajang ini, wanita yang akrab dipanggil Duma ini menyabet gelar Runner Up 1 Putri Indonesia 2007. Wanita kelahiran Balige, 20 September 1983 tersebut adalah anak ketiga dari enam bersaudara, dan menjadi anak tengah ternyata memiliki derita tersendiri baginya.

“Anak tengah itu biasanya tidak diperhatikan,” tutur Duma kepada Solusi Life. “Mungkin yang paling diperhatikan itu anak pertama atau akhir. Tapi ngga bisa disalahin juga, karena kita enam bersaudara, jadi mungkin mereka ngga bisa ngebagi kasih sayang mereka sama. Walaupun kalau ditanya mereka akan menjawab, ‘Sama kok, kita sayang semuanya.’ Cuman yang aku rasain itu sebagai anak tengah kurang diperhatikan. Sampai belajar membaca saja, mama atau papa ngga pernah ngajarin, tapi bisa sendiri. Positifnya aku jadi anak yang mandiri. Kalau adik aku harus diajarin, aku mengerjakan PR sesusah apapun, kalau aku masih bisa sendiri, aku ngga akan minta tolong.”

Selain kurang diperhatikan, yang lebih menyakitkan lagi bagi Duma, ia merasa dibedakan dari kakak-kakaknya.

“Kadang dibedain dengan kakakku yang paling besar, Mungkin dia dibelikan dua baju, aku cuma satu. Atau aku turunan dari dia, misalnya dia udah gede, terus bajunya dikasih ke aku. Dia dibelikan yang baru. Yang kayak gitu, sebagai anak kecil akan kritis. Pada saat itu aku berpikir, ‘Kok mama-papa kaya gitu sih? Aku dikasih yang sisa-sisa… Kenapa sih aku ngga diperhatiin? Kenapa sih kalau pembagian sesuatu aku selalu yang paling sedikit..?’ Hal itu menimbulkan dendam aja sama orang tua aku. Benci banget, sampe itu yang diinget terus sama aku. Kadang-kadang aku nangis diem-diem, walaupun sebenernya aku masih sayang sama mereka.”

Rasa sakit hati ini dirasakan Duma sejak ia masih kecil hingga bertumbuh remaja. Tapi suatu hari, saat Duma duduk di bangku SMA langkahnya menuntun dirinya kepada sebuah perubahan hidup.

“Saat itu aku SMA dan ketemu dengan sebuah persekutuan. Aku minta ijin sama orangtua kalau aku mau ikutan disitu. Waktu itu kebaktiannya setiap hari Jumat. Saat itu aku suka dengan ayat yang berbunyi, ‘Serahkanlah segala kekuatiranmu, sebab Dia yang memelihara kamu.’ Setiap kali aku kuatir tidak dikasih yang sepantasnya, aku cuma mikir kalau aku punya Tuhan. Di SMA ini aku bisa benar-benar ngga dendam lagi. Aku juga benar-benar minta maaf sama Tuhan. Begitu aku mulai hidup baru aku, aku sudah ngga dendam lagi. Benar-benar ajaib, aku ngga benci lagi tapi malah sayang. Dari biasanya aku nuntut, ‘Bajunya beliin juga dong..!’ Hati aku jadi lapang gitu, ‘Udah, ngga apa-apa sama kakak aja.’ Itu ngga pura-pura, tapi benar-benar datang dari hati.”

Apa sebenarnya yang menjadi dasar perubahan sikap hati Duma ini?

“Disitu (persekutuan) aku benar-benar ngerti kalau orang Kristen itu harus menerima Yesus secara pribadi. Kalau dulu aku Kristen, ya Kristen.. Dan aku ngga tahu Kristen itu apa sih sebenarnya. Untuk masuk sorga itu sebenarnya harus gimana sih? Itu ngga pernah diajarin. Disitu (persekutuan) aku bertumbuh. Aku jadi orang yang lebih baik. Pribadinya juga lebih baik, sehingga bisa mengampuni dan hidupku jadi lebih bahagia serta lebih bersyukur,” demikian Duma menutup kesaksiannya. (Kisah ini sudah ditayangkan 28 Desember 2010 dalam acara Solusi Life di O’Channel)

Sumber Kesaksian:

Duma Riris Silalahi (jawaban.com)

Gila Judi, Pengen Cepat Kaya

Wednesday, 29 June 2011, 2:55 | Category : Okultisme, Pemulihan
Tags : , , , , , , , ,

Yang dikerjakannya setiap hari hanyalah makan, minum dan mabuk sehingga keluarganya memandang rendah dia. Itulah kehidupan Yohanes Handri, hingga suatu hari ia tidak bisa terima lagi penghinaan dari keluarganya dan ingin membuktikan bahwa dirinya sekalipun “nakal” juga bisa sukses.

“Siapa bilang kalau orang yang nakal itu ngga bisa berhasil,” demikian ujar Handri.

Sayangnya, jalan kesuksesan yang dipilih Handri adalah jalan pintas. Dukun dan berjudi adalah caranya mencari kekayaan. Memang dalam waktu singkat ia berhasil mendapatkan uang yang banyak, namun tidak ada seorangpun yang tahu dari mana asal kekayaannya.

Ketika ia menemukan wanita yang ia cintai, ia berhenti berjudi dan menikahi wanita tersebut. Namun itu tidak berlangsung lama. Dua tahun setelah pernikahannya, ia kembali berjudi, bahkan kali ini ia melakukan terang-terangan di depan istrinya.

“Susah ya menghilangkan kebiasaan itu,” ujar Handri, “Saya ngomong sama istri saya kalau saya mau cari uang lebih dan uang paling gampang itu dari perjudian. Saya mau buktikan kalau saya bisa kaya karena judi.”

Itulah obsesi Handri, ingin menjadi kaya karena judi. Namun pada kenyataannya, jalan yang harus ditempuhnya tidak semulus harapannya. Kekalahan demi kekalahan harus ia terima. Namun kekalahan tidak membuatnya jera.

Handri mengeluarkan jurus pamungkasnya, ia kembali ke dukun. Tapi kali ini ia tidak sendiri, ia juga menyeret istrinya masuk dalam dunia kelam tersebut. Sekalipun tidak suka, istri Handri akhirnya mengikuti kemauan suaminya.

“Ngapain kita kesini?” demikian tanya istrinya yang merasakan tidak damai sejahtera di tempat dukun itu. Namun Handri lebih tertarik dengan perkataan sang Dukun.

“Waduh, istri kamu bawa rejeki. Mukanya kaya bulan. Kalau kamu mau menang, istri kamu harus dibawa kemana-mana.”

Seperti kerbau di cucuk hidungnya, Handri mengikuti perkataan dukun itu. Kini istrinya dipaksa ikut ke tempat perjudian. Ia tidak peduli sekalipun harus membohongi sang ibu mertua ketika menitipkan kedua anaknya.

“Pas kebetulan saya bawa istri, pas menang. Hal itu membuat saya yakin sekali kalau dia itu bawa rejeki. Jadi kemana-mana saya bawa dia mulai saat itu.”

Dalam waktu singkat, Handri berhasil mengumpulkan kekayaan seperti tekad yang pernah ia buat. Namun dibalik keberhasilannya itu, kehidupan rumah tangganya tidaklah harmonis. Ia sering kali bertengkar dengan istri karena banyak hal, mulai dari masalah anak-anak yang diperlakukan kasar oleh Handri hingga masalah istrinya yang sudah tidak mau lagi di ajak ke tempat berjudi.

Judi adalah tempat pelarian  bagi Handri, ia sudah tidak peduli lagi dengan kondisi keluarganya. Apa lagi ketika ia kembali mengalami kekalahan demi kekalahan. Satu persatu hartanya ia jual untuk menutupi hutang-hutangnya.

“Bukannya kesuksesan yang saya raih tapi kehancuran dalam rumah tangga saya,” demikian pengakuan Handri.

Harta terakhir yang tertinggal adalah rumah, Handri pun tak segan menjualnya. Ia beralasan akan menggunakan uang penjualan rumah itu untuk modal usaha, nyatanya ia gunakan untuk modal berjudi.

“Pertama sejuta, lalu naik lagi ke dua juta. Dua naik ke empat, empat naik ke delapan, delapan naik ke enam belas. Terus berlipat-lipat, terakhir saya kesal saya pasang dua puluh lima juta. Tetap ngga dapat.”

Uang penjualan rumah pun habis tanpa sisa, ia memberanikan diri memberitahu istrinya. Tak pelak ia harus menerima omelan dari sang istri yang kesal. Tidak ada uang, bahkan untuk belanja makanan, terpaksa akhirnya ia beserta istri dan anak-anaknya makan dirumah mertuanya.

“Saya juga frustrasi sih, kehidupan yang seperti ini membuat saya frustrasi karena saya tidak bisa jadi kepala keluarga yang baik. Saat itu saya sangat malu sekali dengan mertua saya.”

Sembilan tahun Handri menjalani pernikahannya, namun ia tidak juga berubah. Istrinya yang dengan tekun berdoa sudah hampir putus harapan untuk melihat perubahan dalam hidup Handri. Tapi tidak dengan Tuhan.

“Saya menyervis tv di suatu ruangan, saat itu saya tidak merasa senang. Pikiran saya ngga karuan. Tiba-tiba saya mendengar suara yang berkata seperti ini: Akulah damai sejahtera, ikutlah Aku. Suara itu terngiang-ngiang di telinga saya.”

Suara itu tidak hanya sekali mendatangi Handri, suara itu terus mengusi hati nuraninya.

“Besok harinya, hari ketiga, suara itu datang lagi. Baru saya datang pada istri saya, dan saya bilang: Ayo ke gereja..! Istri saya bilang, ‘Ah kamu, orang seperti gini mau ke gereja.’ Benar saya mau ke gereja, sungguh-sungguh saya mau cari Tuhan. Saya sudah ngga karuan, saya bilang. Saya paksain istri saya untuk datang ke gereja.”

Akhirnya Handri dan istrinya datang ke gereja. Namun disana, ia masih diliputi oleh ketakutan yang luar biasa.

“Saya takut mati saat itu. Kalau saya mati gimana? Itu yang saya katakan dalam hati saya. Saya takut mati karena saya banyak dosa, selain itu saya belum bisa memberikan yang terbaik untuk istri dan anak-anak saya. Kalau saya mati saya masuk neraka, saya tidak punya pegangan.”

“Hamba Tuhan itu memanggil: ‘Siapa yang mau didoakan?’ Saya ngga ada niat untuk didoakan, tapi kaki saya melangkah ke depan. Setelah itu saya didoakan. Saat itu saya merasakan sukacita itu sangat penuh dalam hidup saya. Selama saya hidup, saya ngga pernah merasakan sukacita, ngga pernah saya senang. Saat itu saya tahu Tuhan sayang sama saya. Tuhan itu mencintai saya, dan saya mengambil keputusan untuk menyerahkan hidup saya pada Tuhan.”

Sejak perjumpaan pribadi dengan Tuhan itu, Handri menjadi pribadi yang berbeda. Kini ia menjadi seorang suami yang penuh kasih pada istrinya dan juga anak-anaknya. Kesuksesan pun ia dapatkan ketika ia mendapatkan pengenalan yang benar tentang siapa Tuhan dan Juru Selamatnya, yaitu Yesus Kristus.

“Hidup saya berubah, karena saya tahu Yesus adalah Tuhan, Yesus adalah Raja. Saya mau melayani Tuhan seumur hidup saya, dan saya tidak mau tinggalkan Dia karena Dia tidak pernah tinggalkan saya,” jelas Handri. (Kisah ini ditayangkan 16 Juni 2011 dalam acara Solusi di O’Channel).

Sumber Kesaksian:

Yohanes Handri (jawaban.com)

Menunggu Mukjizat Selama 10 Tahun

Wednesday, 29 June 2011, 2:50 | Category : Kategori Bebas
Tags : , , , ,

Mereka yang memasuki pernikahan dan hidup berumah tangga, cepat atau lambat pasti mendambakan buah hati. Hal yang sama juga dirasakan oleh Ellen dan Jantje yang melangsungkan pernikahan di tahun 1989. Namun setelah menjalani pernikahan selama tiga tahun, mereka tidak juga mendapatkan momongan.

“Kami inginnya ada seorang anak di rumah,” demikian ungkap Ellen, “tapi kok sampai saat ini belum punya.”

Mereka tidak hanya menunggu tanpa kepastian, Ellen dan Jantje mengunjungi dokter.

“Kami masing-masing periksa, dokter yang bagian laki-laki mengatakan bahwa saya tidak memiliki masalah. Saya bilang : wah, kalau begitu saya dalam posisi aman,” tutur Jantje.

Namun bagaimana dengan kondisi istrinya, Ellen?

“Waktu dokter itu melihat istri saya, dia menatap istri saya dan berkata kalau istri saya bermasalah.”

Ellen ternyata memiliki masalah pada indung telur bagian kirinya. Saat vonis dokter itu dinyatakan, hal ini menjadi pukulan yang berat bagi Ellen. Sebagai wanita, ia merasa tidak berharga.

“Rasanya saya tidak ada artinya bagi dia. Dia selalu menguatkan saya, dia bilang: udah, ngga papa kok,” ungkap Ellen.

Jantje sangat mengerti perasaan istrinya saat itu, ia terus menghibur dan menguatkan iman istrinya. Ia pun tidak menyerah, berbagai upaya medis mereka lalukan bersama namun tetap tidak membuahkan hasil.

“Mungkin sebagai laki-laki saya bisa tahan, tapi istri saya lebih banyak nangisnya kalau teman-teman lain sering becanda.”
Terluka, sedih dan merasa rendah diri, itulah yang dirasakan oleh Ellen. Tidak jarang ia juga berbohong dan berpura-pura sedang hamil untuk menepis cibiran dari teman dan saudara. Jantje terbukti lebih kuat dari Ellen, sambil berseloroh: “Kalau Tuhan beri anak, puji Tuhan. Tapi kalau sampai kami kakek nenek Tuhan tidak beri, kan masih ada panti jompo.”

Lelah berharap kepada dokter, Jantje dan Ellen memutuskan sebuah ide gila.

“Tiap kali kami pulang malam, saya lihat anak-anak dipinggir jalan, saya sering tawarkan : Mau jadi anak om ngga? Kalau kamu ikut sama om, om akan pelihara kamu.”

Tidak hanya itu, kadang mereka pulang malam dan mengikuti ibu-ibu yang terlihat berjalan sendirian sambil menggendong bayi.

“Kalau pulang malam, kalau ada ibu yang sedang menggendong seorang bayi sering saya bilang begini: Saya mau coba berhenti dulu, jangan-jangan dia buang. Karena saya sering baca koran,  ada orangtua yang membuang anaknya. Jadi kami putar mobil, ternyata tidak ada,” tutur Ellen sambil menahan air matanya.

Hingga suatu hari, Ellen dan Yantje didatangi seorang kerabat yang ingin memberikan anaknya pada mereka.

“Kerabat kami bawa anak yang maaf kata kepalanya penuh luka. Kami sudah ngurusin dia,” ungkap Ellen.

Jantje pun sangat bahagia dengan kehadiran anak itu, ia mencintai anak tersebut seperti darah dagingnya sendiri. Sayangnya,  kebahagiaannya tidak berlangsung lama. Setelah anak itu sehat dan sembuh dari sakitnya, mereka mengambilnya lagi. Jantje dan Ellen kembali terpukul karena mereka sangat mencintai anak itu.

“Waktu saya pulang, saya lihat anak itu tidak ada lagi di kamar. Keluarga takut karena mereka tahu kalau saya tahu pasti ngamuk.”
Begitu terpukulnya Jantje, emosinya tidak terkendali. Ia memutuskan menyendiri dalam kesedihannya.

“Saya keluar dari rumah dan marah-marah sepanjang jalan. Saya ingin duduk sendiri dan langsung menghadapkan wajah ke langit. Saya bilang: Tuhan! Engkau kan mengerti, saya kan rindu punya anak meskipun lewat apapun juga. Masakan Engkau setega itu,” tutur Jantje.

Sekalipun bertahun-tahun mereka lalui tanpa ada secercah harapan, Ellen dan Jantje tidak pernah melepaskan kepercayaan mereka kepada Tuhan. Janji Tuhan itulah yang mereka pegang dalam menantikan buah hati mereka.

“Percaya apa yang kami minta, Tuhan sudah jawab, itulah yang membuat saya kuat. Karena saya sudah meminta, istri saya sudah meminta, saya percaya  Allah akan buat yang terbaik.”

Tuhan akhirnya membuktikan bahwa Dia tidak pernah mengecewakan orang-orang yang berharap pada-Nya. Mukjizat terjadi, Ellen akhirnya hamil. Ketika melihat hasil test kehamilan, Jantje melompat-lompat kegirangan karena akhirnya harapannya terwujud.

Tetapi cobaan kembali menghampiri kehidupan Ellen dan Jantje. Saat usia kehamilan Ellen mencapai enam bulan, Ellen mengalami pendarahan. Dokter memberikan dua pilihan, pilih menyelamatkan sang jabang bayi atau ibunya. Diperhadapkan sebuah pilihan yang sulit, Jantje memilih sebuah alternatif lain, yaitu berdoa. Ia berseru kepada Tuhan memohon agar diselamatkan baik ibu maupun bayinya.

“Akhirnya suster datang dan berkata: Ibunya selamat, anaknya pun juga selamat,” ungkap Jantje bahagia.

Saat usia kandungan Ellen menginjak delapan bulan, ia harus menjalani operasi Caesar.

“Pada saat melahirkan, ari-arinya itu sudah hancur, memang sudah biru. Anak saya lahir itu mukjizat, karena secara manusia, dokter bilang ini anak makan pakai apa. Puji Tuhan, dia keluar beratnya bisa sampai 3,2 kg.”

Sepuluh tahun, Ellen dan Jantje melalui berbagai pergumulan dan penantian hingga akhirnya lahir buah hati mereka yang mereka beri nama Johanes Clever Buss.

“Tuhan itu luar biasa bagi saya. Tanpa kita sadari, pada saat kita mengalami masalah, Tuhan itu ada. Kalau kita mau bersabar, kita percaya, kita berdoa, pasti Tuhan akan berikan yang terbaik bagi kita,” demikian ungkap Ellen.

“Apapun yang kita alami dalam hidup kita, mungkin saat kita menanti jawaban doa, setahun, lima tahun ataukah sepuluh tahun, atau bahkan lebih, kita harus percaya bahwa janji dan rencana Tuhan itu tidak pernah gagal,” tutur Jantje penuh sukacita. (Kisah ini ditayangkan 21 Juni 2011 dalam acara Solusi di O’Channel).

Sumber Kesaksian:

Ellen & Jantje Haurissa (jawaban.com)

Advent Bangun: Tuhan Saya Itu Karate

Tuesday, 28 June 2011, 4:07 | Category : Kisah Pertobatan Artis
Tags : , , ,

Telah menjadi tekadnya, hidup dan matinya akan ia berikan bagi kecintaannya terhadap bela diri. Menjadi juara karate selama dua belas tahun berturut-turut, adalah bukti bahwa Advent Bangun sangat serius menekuni olahraga tersebut. Bahkan keahliannya dalam bidang bela diri ini membawanya melanglang buana dalam dunia film laga, dirinya mencatat telah membintangi 60 film.

“Dulu.. Tuhan saya itu karate,” demikian ungkap pria yang bernama lengkap Thomas Advent Bangun ini.

Awal ketertarikan Advent kepada karate bermula dari pengalaman traumatis yang menghantuinya.

Suatu malam, Advent Bangun pulang bersama dengan kakak perempuannya melewati sebuah bioskop. Di pinggir bioskop itu banyak anak-anak muda yang sedang berkumpul sambil minum-minuman keras.

“Mereka lihat kakak saya, dipikir perempuan nakal. Karena diganggu, saya lawan. Saya langsung dipukulin sama sekitar 30an orang. Saya dihajar sama 30 orang itu, rasanya seperti slow motion semua. Sampai ada yang ambil pisau, saya mau ditikam tapi saya bisa loncat ke belakang seperti salto gitu.” Advent bangun yang tidak berdaya di hajar oleh massa terus meronta, dan ketika bisa lepas dari mereka ia segera lari sekencang mungkin. Kejadian itu menyisakan rasa sakit dan dendam di hati Advent.

Hingga ia suatu saat ia melihat sebuah latihan karate, dimana mereka dengan tangan kosong mampu menghancurkan es balok dan papan, timbul keyakinan dalam hatinya, “Kalau saya latihan seperti itu, 100 orang juga bisa dibabat.”

Ia pun mendaftar untuk ikut latihan karate itu. Dendam dan rasa sakit dihatinya, membuat dirinya berlatih ekstra keras, “Kalau orang latihan sejam, saya dua jam. Kalau yang lain latihan dua jam, saya empat jam. Saya ngga mau kalah sama orang, saya harus the best..!”

Dendam dalam hati Advent, dilampiaskannya sewaktu bertarung. Jika belum membuat lawan babak belur, ia belum merasakan kepuasan. Sakit hati yang begitu dalam itu dikarenakan apa yang ia alami sewaktu kecil. Saat itu, kakak kecilnya menganiayanya dengan begitu kejam.

“Saya ditarik ke sungai, sungainya dangkal, dan saya di injak-injak disitu. Saya banyak minum air waktu itu, sudah hampir mati, tapi untung ada orang yang lihat. ‘Woi.. itu Advent Bangun mau dibunuh sama abangnya!!’ Semua orang datang dan akhirnya abang saya lari.”

Setiap pertandingan, menjadi ajang pelampiasan dendam baginya. Satu hal yang ia inginkan, juara. Advent tidak mau membagi posisi puncak di dunia karate dengan siapapun.

“Begitu dimulai, kaki kanan saya itu seperti punya mata. Begitu jaraknya sesuai, dia otomatis keluar. Waktu itu saya seperti marah. Setiap saya bisa melampiaskannya, saya merasa puas. Puas banget! Dan orang semakin takut sama saya, sampai saya dapat gelar ‘dokter gigi’ karena saya hobinya bikin gigi rontok.”

Begitu dikuasai oleh amarah dan dendamnya, sifat keras Advent Bangun ini terbawa dalam kehidupan rumah tangganya.

“Sesudah menikah, saya kaget karena saya mengenal dia tidak cukup lama. Hanya selama enam bulan. Selama saya mengenal itu, saya lihat dia bisa sabar menunggu saya pulang kantor. Ternyata tidak sepenuhnya seperti itu. (Sesudah menikah) waktu pergi ke mall atau ke super market, rupanya dia menunggu saya kelamaan. Saya dateng, dia langsung marah, dan langsung banting pintu,” ungkap istri Advent, Louis Sulingga.

Bukan hanya tidak sabar, Advent ternyata juga pria pencemburu. Jika istrinya pulang tidak tepat waktu, maka sang istri akan menerima luapan amarahnya. Louis sempat merasa menyesal telah menikahi pria yang ditolak oleh kedua orangtuanya tersebut.

“Saya merasa kok rumah tangga saya seperti ini. Saya berdoa, ‘Tuhan tolong saya, kalau semua ini terjadi karena kesalahan saya, karena dosa-dosa saya, saya minta ampun. Saya mau bertobat, saya mau kembali sama Tuhan. Tuhan Yesus tolong saya. Pulihkan rumah tangga saya, buka jalan bagi hidup saya,’” demikian Louis kembali berharap pada Tuhan agar dapat memulihkan kehidupan rumah tangganya.

Menghadapi Advent yang temperamental dan keras, Louis seperti tidak berdaya. Apalagi ketika Advent tidak senang dengan gereja yang dikunjungi oleh Louis.

“Kalau kamu kegereja itu lagi, awas kamu! Saya hajar kamu! Apa itu, lompat-lompat, nyanyi-nyanyi, muji-muji! Gereja apaan itu! Sesat itu!” demikian Advent mencerca istrinya. Karena istrinya memilih gereja yang tidak sesuai dengan keinginan hatinya, Advent tidak mau sekamar lagi dengannya selama satu tahun.

“Jijik.. marah..” Advent menceritakan perasaannya kala itu.

Louis hanya bisa berlari ke kamarnya dan menangis kepada Tuhan. Ia memohon kepada Tuhan agar terus diberikan kekuatan untuk mengasihi Advent. Cintanya pada Tuhan, mengalahkan rasa takut Louis kepada Advent, entah mendapat kekuatan dari mana, Louis membuat keputusan yang sangat berani. Ia mengatakan dengan jujur kepada Advent bahwa dirinya ingin dibabtis selam.

“Itu mau meledak rasanya,” ungkap Advent. Wajahnya memerah, dan dia hanya bisa menatap istrinya sambil menahan amarah. Namun sungguh ajaib, yang terlontar dari mulutnya adalah, “Ya udah, aku anterin kamu.”

Benar, seperti yang dikatakannya. Advent mengatarkan istrinya untuk dibabtis selam. Saat mengikuti ibadah sebelum acara pembabtisan itu, sesuatu terjadi dalam hidup Advent.

“Hamba Tuhan itu mengkotbahkan tentang kuduslah kamu sebab aku kudus. Ada dua ayat, yaitu 1 Petrus 1:16 dan Ibrani 12:14, Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan. Firman itu keras, seperti saya kena tendangan di dada saya. Kedua firman itu membuat saya menangis, saya terlalu banyak marah, dendam, benci pada semua orang. Jadi disitu saya seperti tertemplak, seperti ditampar..”

Advent yang malu menangis di depan orang lain, berseru kepada Tuhan di balik sebuah tiang gereja itu. Dia benar-benar menyadari bahwa dirinya memerlukan Tuhan untuk mengubah hidupnya. Sepulangnya dari pembabtisan istrinya, dia bicara empat mata dengan Louis, “Mah, saya mau pelepasan dan saya mau dibabtis.”

Namun setelah memutuskan untuk bertobat, proses yang harus dijalani Advent tidaklah mudah. Apa lagi saat ia diperingatkan oleh istrinya tentang kebanggaannya pada semua pialanya, hal itu membuat Advent berang. Tiga hari ia mendiamkan istrinya, Advent merenung dan matanya tertuju pada sebuah ayat.

“Saya lagi baca firman, Filipi 3:7-8, saya sangat kaget membaca firman itu: Semua ku anggap rugi setelah pengenalan akan Kristus. Semua ku anggap sampah. Yesus lebih mulia dari segala-galanya.”

Setelah perenungan yang dalam akan ayat tersebut, Advent sadar bahwa dirinya telah terikat dengan semua piala dan kesombongannya. Ia menyingkirkan semua piala-pialanya dan mengucapkan selamat tinggal kepada kesombongan. Sejak itu Thomas Advent Bangun memutuskan hubungan dengan dunia karate. Karate bukan lagi Tuhan dalam hidup Advent, dia memilih Yesus yang menjadi penguasa tunggal atas kehidupannya. (Kisah ini ditayangkan 22 Juni 2011 dalam acara Solusi Life di O’Channel).

Sumber Kesaksian:
Thomas Advent Bangun (jawaban.com)

Terjebak Dalam Dunia Seks Setelah Dilecehkan Pembantu

Tuesday, 28 June 2011, 3:37 | Category : Pertobatan, Seks Bebas
Tags : , , , ,


Video Kisah Nyata

Chatting porno dipilihnya untuk memenuhi hasrat seksnya daripada berhubungan intim dengan istri tercintanya.

“Kelas 4 SD saya pernah dilecehkan oleh pembantu. Tangan saya dipegang olehnya dan disuruh dimasukkan ke dalam bajunya. Saya merasakan kenikmatan pada saat itu. Hal itu dilakukan berulang-ulang dan bukannya saya takut, terkadang malah saya yang minta. Sampai akhirnya saya melakukan seks pertama kali dengan wanita penghibur. Di hari saya melakukan itu, malamnya saya tidak bisa tidur. Dan keesokan harinya saya pergi lagi untuk melakukan hal itu. Saya benar-benar terikat dengan seks,” ujar Surya mengawali kesaksiannya.

Surya yang pada awalnya merasa bersalah atas tindakannya itu menjadi kebal dan tidak lagi merasa bersalah. Dia merasa semua hal yang dilakukannya adalah suatu hal yang wajar dilakukan laki-laki. Surita Jap, istri Surya, sempat merasa jijik setiap kali berhubungan dengan suaminya karena tahu suaminya melakukan hal yang sama dengan wanita lain. Ia takut terkena penyakit tapi ia tidak memiliki pilihan lain selain tetap melayani suaminya. Setiap kali Surita menolak, Surya akan marah besar.

Sikap egois Surya semakin membuat rumah tangganya seperti neraka. Setiap hari pertengkaran demi pertengkaran seakan tidak pernah terlewatkan. Kata-kata cerai seringkali terlontar dari mulut Surya dan hal itu sangat melukai hati Surita. Betapa Surita merasa Surya sungguh tidak menghargai dirinya dengan melontarkan kata cerai segampang itu dari mulutnya. Namun Surita selalu memikirkan nasib anaknya. Surita bertekad akan tetap mempertahankan pernikahannya apapun yang terjadi.

“Saya yakin Tuhan tidak mungkin tidak menolong keuarga saya jika saya memiliki pengharapan kepada-Nya,” ungkap Surita.

Namun apa yang dirasakan Surita berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan Surya.

“Ketika saya melihat dia menangis, ketika saya kesal kepadanya, ada satu kepuasan tersendiri di dalam hati saya karena telah menyakiti dia,” ungkap Surya.

Suatu hari mereka mencoba peruntungan untuk hidup di negara lain dan berharap bahwa rumah tangga mereka akan semakin membaik. Namun semua itu hanyalah impian belaka.

“Hubungan saya dengan istri semakin memburuk karena waktu kami berhubungan intim, saya merasakan ia bersikap dingin kepada saya. Pada akhirnya saya merasa bahwa istri saya hanya melakukan ini sebatas kewajiban tanpa adanya keinginan dari dirinya sendiri,” ungkap Surya.

“Kata-kata cacian dan makian yang dilontarkan suami saya selalu terngiang-ngiang di pikiran saya. Sehingga saat kami berhubungan intim, saya benar-benar tidak dapat merasakan apa-apa sebagaimana seorang istri melayani seorang suami,” ungkat Surita.

Tak puas dilayani istrinya, Surya mencari alternatif lain untuk memuaskan hasrat seksnya. Ia mulai melakukan chatting porno. Surita tidak mengerti dengan aktivitas yang dilakukan Surya. Yang ia tahu bahwa suaminya berkenalan dengan wanita lain, Hal ini sunnguh membuat Surita merasa tertekan namun ia selalu berusaha tegar di depan Surya.

Sekalipun sering diperlakukan tidak baik, sebagai seorang istri Surita tetap menyayangi Surya. Beberapa tahun kemudian mereka kembali ke Indonesia. Saat itu Surya harus menghadapi tantangan yang lebih berat lagi. Ia idak mendapatkan pekerjaan meskipun sudah mencoba melamar ke sana-sini. Surya sudah benar-benar merasa putus asa, tidak tahu harus mencari bantuan kemana lagi. Surya pun kembali berkumpul dengan teman-teman lamanya ke tempat prostitusi tanpa sepengetahuan Surita.

Sempat terpikir oleh Surya untuk mati. Ia berpikir mungkin dengan cara itulah semua beban hidup itu bisa lepas dari dirinya. Tapi untuk segala dosa perzinahan yang dilakukannya, Surya tetap dapat menikmatinya meskipun di tengah himpitan hidup yang dihadapinya.

Di tengah keterpurukan Surya, istrinya memberikan semangat kepada Surya dengan mengajaknya bergabung ke sebuah komunitas rohani.

“Pada waktu mereka menaikkan nyanyian, saya merasakan damai sejahtera, sukacita, dan segala beban saya diangkat. Selama ini saya merasa sedang berada di titik terendah hidup saya, bamun saat itu saya benar-benar merasa sebagai seorang yang sudah melakukan dosa perzinahan seperti ini, saya yang memperlakukan istri saya dengan buruk namun Tuhan masih mau menjamah saya. Betapa Tuhan masih mau mengasihi saya padahal sesungguhnya saya benar-benar tidak layak untuk menerima kasih Tuhan,” ujar Surya.

Surya benar-benar merasakan jamahan tangan Tuhan. Surita menyambut gembira reformasi yang dialami suaminya. Surita yang selama ini merasa segala doanya tidak dijawab Tuhan baru menyadari bahwa sebenarnya selama ini Tuhan mendengarkan segala doa yang dipanjatkannya. Hanya saja waktu yang diinginkannya berbeda dengan waktu Tuhan.

Mukjizat terjadi dalam hidup Surya. Setelah pulang dari komunitas rohani itu, ia pun lepas dari dosa perzinahannya. Surya pun akhirnya meminta maaf kepada isri dan ayahnya atas perbuatan yang selama ini ia lakukan. Sebuah kehidupan baru pun dimulai dalam keluarga Surya.

“ketika dia mengutarakan permintaan maaf kepada saya, damai sejahtera it turun bagi keluarga kami. Selama ini suami saya tidak pernah mengucapkan kata maaf. Perbedaan suami saya yang dulu dan sekarang, saat ini dia sudah bisa mengontrol emosinya,” ujar Surita.

“Kalau dulu saya menganggap seks itu sebagai suatu kebutuhan yang harus dikejar. Hal itu semata-mata hanya untuk memuaskan saya. Saya tidak dapat hidup tanpa seks. Tapi saat ini saya merasa seks itu adalah sesuatu yang indah, sesuatu yang harus dilakukan untuk mengutarakan kasih kita kepada istri,” ujar Surya.

“Keluarga yang kami miliki sekarang, Tuhan sudah pulihkan seutuhnya. Hubungan anatara suami, isri dan anak-anak sunguh-sungguh dipulihkan Tuhan. Saya sungguh sangat bersyukur kepada Tuhan. Tuhan itu begitu baik untuk keluarga kami,” ujar Surita sambil tersenyum bahagia terpancar di wajahnya.

“Kasih Yesus membuat saya yakin bahwa saya tidak akan kembali lagi kepada kehidupan masa lalu saya yang buruk. Karena saya sudah melakukan berbagai macam cara untuk keluar dari dosa-dosa itu tetapi tidak bisa. Hanya kasih Yesuslah yang mampu mengubahkan saya sedemikian rupa,” ujar Surya menutup kesaksiannya. (Kisah ini ditayangkan 22 Juni 2011 dalam acara Solusi Life di O’Channel).

Sumber Kesaksian:
Surya Atmadja (jawaban.com)

Dibalik Masa Kelam Joana Alexandra dan Raditya Oloan

Tuesday, 28 June 2011, 3:18 | Category : Narkoba, Seks Bebas
Tags : , , , , ,


Video Kisah Nyata

Wanita ini memasuki dunia entertain secara tidak sengaja, mulai dari dunia model, kesuksesannya terus menanjak merambah dunia sinetron bahkan hingga layar lebar. Namanya adalah Joana Alexandra, wanita kelahiran tahun 1987 ini begitu terbuai kesuksesan di awal karirnya.

“Dapat honor langsung beli obat-obatan,” demikian pengakuannya.

Setali tiga uang dengan Joana, Raditya Oloan, seorang disc jockey dan pemaian band juga terjerat oleh narkoba ketika masuk dalam hingat bingarnya dunia keartisan.

“Nge-band tanpa drugs rasanya kosong aja, kaya gitu,” ungkap Raditya.

Lalu apa jadinya ketika keduanya menjalin hubungan cinta?

“Dia udah tahu aku mulai make, akhirnya kita make bareng,” demikian pengakuan Joana, “kalau perlu barang mintanya sama dia, kalau dia punya barang dia nawarin. Jadi apa ya? Simbiosis mutualisme.”

Clubing, narkoba, seks bebas, semua itu mereka lakukan tanpa memikirkan akibatnya. Keluarga, pendidikan, karir, bahkan masa depan mereka tanpa terasa berada di ambang kehancuran.

“Polisi, jangan bergerak,” demikian seru seorang polisi.

Saat itu Joana dan Raditya bersama beberapa orang teman di grebek oleh pihak kepolisian.

“Di meja itu, saya ingat banget ada paketan beberapa gram, sama beberapa linting. Jadi kalau diperiksa, pasti ditangkep,” ujar Raditya.

Akhirnya mereka semua digelandang ke polsek Tangerang. Dengan berat hati, Joana dan Raditya menghubungi orangtua mereka untuk meminta bantuan. Rasa takut akan amarah dari orangtua jelas terbersit di hati mereka, namun apa daya, mereka kini sungguh butuh bantuan mereka, mereka hanya bisa tertunduk di hadapan orangtua yang telah melahirkan dan membesarkan mereka.

“Aku benar-benar melihat pengorbanan mereka, pasti rasanya malu banget  ketahuan ke polsek jemput anaknya yang kena narkoba,” tutur Joana.

Orangtua keduanya hanya bisa menangis saat datang ke polsek, tidak seperti yang mereka bayangkan, tidak satu kata cacian atau amarah yang terucap dari mereka. Orangtua mereka memberikan pengampunan bahkan menjamin mereka sehingga mereka tidak harus merasakan berada di balik jeruji penjara. Sayangnya, hal itu tidak membuat mereka sadar dan mengubah cara hidupnya dan membawa diri mereka kesebuah permasalahan yang baru.

“Aku baru saja promo film layar lebar aku, jadi yang kemarin-kemarin sibuk promo selain itu aku juga masih make banget, kemana-mana itu pasti teler, tiba-tiba harus diperhadapkan kalau aku hamil. Antara takut sama apa yang akan terjadi dengan karir aku, orangtua gimana, teman-teman gimana, pikiran-pikiran buruk langsung kepikir sama aku.”
Selama satu bulan Joana dan Raditya tidak bisa memutuskan harus melakukan apa. Sempat terbersit pilihan untuk aborsi, namun entah mengapa mereka masih tidak bisa memutuskan juga.

“Sebenarnya pertama-tama pemikiran saya ya aborsi, karena lingkungan saya banyak yang aborsi, jadi bagi saya itu suatu hal yang biasa. Tapi di hati saya tergerak untuk berkata: Jo, kalau kamu mau terusin, aku mau terusin,” terang Raditya.

“Ini benaran nih, bayinya mau dijadiin?” tanya Joana tidak percaya. “Benar-benar ngga kebayang nanti jadi seorang ibu, lalu punya baby, trus nanti apa yang harus dihadapin benar-benar ngga kebayang.”

Sekalipun takut, Raditya memberitahukan perihal kehamilan Joana itu kepada orangtuanya, demikian juga Joana, mereka berdua terbang ke Manado menemui orangtua Joana untuk mengakui perbuatan mereka. Sungguh diluar dugaan, kedua orangtua mereka tidak memperlihatkan amarah mereka sekalipun memang terluka, namun mereka mendukung keduanya untuk mengambil langkah selanjutnya.

“Oke pah, kita sudah putusin untuk terusin.”
”Kalau begitu papa dukung, papa akan ngomong sama mama. Kamu kasih clue, kamu besok dateng ya,” ungkap papa Raditya.

“Mulai menjauh dari rumah, papa saya melambaikan tangan, dadah. Disitu hati saya benar-benar hancur. Saya lihat mukanya tidak ceria, dia senyum, tapi saya lihat matanya sedih sekali.”

Tatapan sang ayah benar-benar menghancurkan hati Raditya. Lelah, bingung, sedih, semua perasaan itu bercampur baur di hati Raditya. Ia akhirnya memilih tidur tanpa mengucap sepatah katapun pada Joana.

“Saat saya tidur, saya terus terbayang dengan papa saya. Mungkin saya tidur sekitar 10 menit, hati saya seperti ada yang pukul. Saya bangun, saya langsung megap-megap nangis, dan saat nangis kata-kata yang pertama keluar adalah : Tuhan tolong saya, saya menyerahkan hidup saya seluruhnya untuk Engkau. Kami berdoa, setelah selesai, ada damai dan kekuatan baru dari situ.”

Januari 2007, akhirnya keduanya masuk dalam pernikahan. Keduanya masih muda, labil dan penuh ego. Mereka mencoba investasi dalam sebuah usaha dalam jumlah yang cukup besar, namun gagal. Namun masalah mereka bukan hanya itu, mereka masih tetap mengkonsumsi narkoba, bahkan Joana tidak lagi memikirkan janin dalam kandungannya. Beruntung, mereka menemukan sebuah komunitas yang mau menerima mereka apa adanya bahkan membimbing mereka untuk bisa keluar dari semua keterikatan itu.

“Beruntung saya berada di sebuah komunitas yang luar biasa, aku bersaksi dan didoain, dan puji Tuhan, itu sembuh.”

Dengan saling mengakui dosa, mereka sedang menelanjangi pekerjaan iblis. Dikomunitas ini juga, mereka mengikuti konseling. Hingga pada Oktober 2007, Surya anak pertama mereka lahir. Kelahiran Surya di ikuti oleh sebuah perubahan yang luar biasa. Joana bersih dari keterikatan narkoba. Disisi lain, ada pengorbanan lain yang harus ia lakukan.

“Dulu aku single terserah aku mau pulang jam berapa, mau ngapain aja. Sekarang apa yang mau aku lakuin harus mikirin suamilah, mikirin anaklah, mikirin rumah. Benar-benar rasanya aku dikasih tanggung jawab yang gede banget, sedangkan Radit prioritasnya masih pekerjaan dan pelayanannya dia,” tutur Joana.

Konflik antara suami istri pun mulai terjadi. Namun bagaimana Raditya menangani tuntutan dari istrinya?

“Saya sudah panas, saya sudah emosi, akhirnya saya bilang ke teman saya: I hate this women! Tapi saya ingat pas konseling, keluarga nomor dua setelah Tuhan, akhirnya walaupun saya kesal, saya kesana. Dia bbm, saya sudah mau jawab dengan kata-kata yang jelek, kata-kata yang menghina-hina, tapi saya merem, saya hapus, saya cuma bilang : I love you. Saya pulang, saat itu saya pikir, saya mengalah untuk menang.”
Raditya benar, dia mendapatkan kemenangan itu. Joana datang menghampirinya, duduk disampingnya dan berkata, “Dit, maafin aku ya?”

“Akhirnya, sejak saat itu hubungan keluarga kita ngga pernah crash.”

Fokus Raditya dan Joana saat ini sudah berubah. Tuhan, itulah yang menjadi prioritas hidup mereka. Hal itu mengubah seluruh kehidupan mereka. Kehidupan rohani mereka bertumbuh, keadaan ekonomi keluarga mereka pun mengikuti.

“Akhirnya saya memutuskan untuk ninggalin bisnis saya, padahal saya lagi hutang, saya tinggalin dan saya full melayani Tuhan. Tapi luar biasa, saya tidak keluar keringat untuk cari uang, tiba-tiba ada orang telephone yang order. Selama satu tahun seperti itu terus, sampai hutang saya lunas.”

Ketika keduanya mengarahkan hidup mereka untuk menjadi semakin seperti Kristus, gaya hidup mereka berubah. Upaya mereka bukanlah mengubah gaya hidup mereka yang lama, namun fokus menjadi semakin seperti Kristus, dengan sendirinya kebiasaan buruk mereka lenyap, dan tampillah pribadi Raditya dan Joana yang baru, yang setiap hari menjadi semakin seperti Yesus Kristus. Jika mereka bisa berubah, Anda pun bisa. (Kisah ini ditayangkan 24 Juni 2011 dalam acara Solusi Life di O’Channel).

Sumber Kesaksian:

Joana Alexandra & Raditya Oloan (jawaban.com)

Esther Dapat Kemampuan Meramal Dari Roh Gaib

Tuesday, 28 June 2011, 3:12 | Category : Okultisme
Tags : , , , , , ,


Video Kisah Nyata

Membakar kemenyan dan melakukan ritual-ritual untuk memohon keselamatan sudah menjadi tradisi dalam keluarga Esther, bahkan bisa dikatakan sudah merupakan tradisi turun temurun sejak nenek moyang. Hal ini membuatnya akrab dengan suatu hal yang tidak lazim bagi anak-anak seumurnya, yaitu berteman dengan roh halus.

Hal ini diperparah oleh hubungannya yang tidak harmonis dengan sang ayah, Esther semakin menjauhkan diri dari keluarganya. Dapur adalah tempat favoritnya untuk menyendiri, disanalah ia menemui teman setianya.

“Kenapa mesti dapur? Karena disanalah saya merasa tenang. Jadi apa yang saya rasakan bisa saya cerita. Pertama hanya cerita-cerita, terus tiba-tiba ada yang balik ngomong sama saya. Saya ngga tahu suara dari mana, tapi saya tenang. Jadi kenapa saya tidak butuh seorang teman, karena apa yang saya dapat dari dia lebih dari yang saya dapat dari seorang teman.”

Bertahun-tahun Esther berteman dengan roh gaib itu, hingga suatu hari ia dan teman-temannya mengunjui seorang para normal.

“Kita dateng ke satu orang pinter, pertama sih kita cuma ngobrol-ngobrol, iseng-iseng, biasa anak-anak. Dia bukain kartunya, pas bagian saya, terus dia bilang begini: Kamu tidak perlu datang ke sini lagi karena kamu akan menggantikan posisi saya walaupun kartu hanya seperti ini.”

Saat ia pulang, suara itu menawarkan sesuatu yang membuat Esther harus membuat langkah berani.

“Dia tanya begini: Kamu mau lihat saya apa enggak? Karena setelah sekian lama kita kenal, kamu kok ngga mau lihat saya. Saya jawab saya mau. Dia bilang jika saya mau melihat dia, saya harus ijin dulu kepada orangtua saya.”

Esther dengan semangat mendatangi mamanya, akhirnya ia membuka rahasia yang selama ini ia simpan. Diceritakannya pada sang mama, bahwa sejak kecil ia sering mendengar dari roh halus. Kali ini roh itu mau menampakkan diri kepadanya, namun ia harus mendapat ijin dari orangtuanya.

“Ngga, kamu ngga boleh,” demikian tolak sang mama.

Sedih dan marah, itulah yang dirasakan Esther. Apa lagi sejak itu, suara itu seperti menghilang begitu saja.

“Saya merasa kalau saya ngga punya teman lagi,” ungkap Esther, “yang selama ini mendengar curhat saya cuma dia. Sejak itu, saya mulai kurang komunikasinya ( dengan roh halus itu).”

Memang roh tersebut seperti mulai jarang menemui Esther, namun ada sesuatu yang berbeda dialami Esther. Terkadang, saat sedang berkumpul dengan keluarga Esther yang sedang tertawa senang tiba-tiba seperti sesak nafas dan badannya terbungkuk-bungkuk seperti seorang nenek-nenek. Di sisi lain, Esther mulai memiliki kemampuan baru, yaitu meramal.

“Waktu itu, kami cuma main-main biasa. Tapi semua yang saya ucapin kok kejadian.”

Hari itu ia sadar bahwa apa yang diramalkan oleh orang pintar waktu itu benar. Menyadari kemampuannya itu dari roh halus yang menjadi temannya, Esther menjadi semakin rajin melakukan ritual. Namun kemampuan barunya itu merubah pribadi Esther.

“Saya menjadi cepat emosi, cepat marah. Apa yang saya omongin, orang itu harus nurut. Saat itu, apa yang saya mau bisa saya dapatkan, tapi saya ngga bisa merasakan damai dan sukacita.”

Hingga tiba di tahun 2003, suatu hari mamanya bertemu dengan seorang saudaranya. Ia menceritakan sesuatu yang tidak biasa. Saudaranya itu menceritakan tentang seorang pribadi bernama Yesus Kristus, dan dia pergi ke sebuah ibadah dimana ia merasakan hadirat Tuhan.

“Mama penasaran deh, hadirat Tuhan itu apa ya pa?”

“Tuhan Yesus?” demikian tanya Esther dalam hati, “Mama sama papa udah umur segini baru tanya siapa itu Tuhan Yesus? Sementara mama dan papa selama ini ngajarin saya tradisi-tradisi yang berlawanan dengan ajaran Tuhan Yesus. Saya merasa agak aneh, dan saya ingin menunjukkan kalau tidak ada Tuhan Yesus.”

Mereka sekeluarga pun memutuskan untuk bertemu dengan hamba Tuhan yang diceritakan oleh saudara mamanya itu. Disana hamba Tuhan itu membongkar dosa sang papa, pada hal mereka baru bertemu. Hamba Tuhan itu bahkan tahu bahwa Esther masih menjalin hubungan dengan roh-roh halus.

“Kalau kaya gitu doang sih aku juga bisa,” demikian ujar Esther ketus.

“Kalau begitu kita lihat besok, roh-roh yang ada pada kamu atau Tuhan Yesus yang lebih berkuasa,” demikian tantang hamba Tuhan itu.

Esther pun menerima tantangan tersebut, ia ingin membuktikan bahwa roh-roh yang selama ini menjadi temannya lebih nyata dari Tuhan Yesus. Harinya pun tiba, Esther hadir dalam ibadah tempat hamba Tuhan itu melayani.

“Dia berdoa, saya juga berdoa,” tutur Esther.
Namun sesuatu yang tidak pernah Esther bayangkan terjadi. Saat ia didoakan, ia seperti tidak berdaya. Ia pun meminta tolong pada roh yang selama ini membantunya, namun roh itu tidak juga menolongnya.

“Tiba-tiba ada suara, dia bilang seperti ini: Udahlah, sekarang kamu ikut saya aja. Kamu lepasin hidup kamu! Disitu saya mikir, maksudnya saya ngelepasin hidup saya dengan cara seperti apa? Terus saya bilang begini: Kalau memangnya Tuhan Yesus lebih hebat dari kamu, saya mau ikut Yesus saja kalau gitu.”

Keputusan itu mengubah hidup Esther selamanya. Ia akhirnya dilepaskan dari cengkeraman kuasa roh-roh jahat itu.

“Hamba Tuhan itu kemudian datang, dan bilang: sekarang kamu tenangin diri saja. Sekarang hati kamu sudah bersih, semua roh yang bukan dari Tuhan sudah dibersihin semua. Tuhan mau kasih roh yang baru sama kamu. Roh yang dari Tuhan Yesus, ini Roh yang akan memberikan kamu damai sejahtera. Keselamatan itu sekarang ada disini.”

Esther menerima sebuah Alkitab dari hamba Tuhan tersebut. Setibanya di rumah, ia kembali ingin menyakinkan dirinya bahwa Yesus itu benar-benar pribadi Tuhan yang hidup.

“Sesudah sampai di rumah, saya mau berdoa sama Tuhan Yesus. Saya bilang: Tuhan Yesus, Engkau Tuhan yang hidup kata orang-orang. Saya juga mau tahu kalau emangnya Tuhan itu ada, tolong pimpin saya, saya mau buka (Alkitab), Tuhan mau ngomong apa sama saya, karena saya ngga bisa dengar. Entah bagaimana, selesai berdoa tangan saya membuka Alkitab, waktu itu letak (ayatnya) disebelah kiri atas, tiba-tiba tulisan itu muncul lebih tebal dari tulisan yang lain. Ditulisnya: Tuhan mengampuni wanita peramal, dukun-dukun dan hal-hal yang berhubungan dengan roh jahat. Tuhan mau mengampuni dan mengasihi mereka. Buat saya hal itu memberikan ketenangan dan kedamaian. Tuhan ternyata Engkau mengampuni saya.”

Namun tidak semudah itu roh halus yang selama ini menemani Esther melepaskannya, suara itu datang kembali.

“Tiba-tiba ada suara bilang begini: Tuhan mana yang kamu sembah?! Saya bilang Tuhan Yesus. Tuhan mana yang kamu sembah! Tiga kali suara itu semakin lama semakin kencang. Dan suara itu adalah suara yang selama ini saya dengar, lalu saya berkata: Saya percaya Yesus. Lalu suara itu hilang. Di hati ini tiba-tiba muncul suara yang berkata: Aku mengasihi engkau. Itu amazing banget deh! Sesuatu yang ngga pernah saya dengar, bahkan dari orangtua saya jarang saya mendengar kata-kata itu. Suara itu membuat saya tenang, membuat saya damai. Beda dengan suara yang sebelumnya saya dengar, begitu keras, begitu emosi, ada rasa arogan yang egois dari kata-katanya. Tapi ini suaranya lembut, dan tenang. Disitu saya merasa aneh, apa ini suara Tuhan? Disitu saya merasa damai dan sukacita. Itu pertama kalinya saya dengar suara Tuhan.”

Perjumpaan Esther dengan Tuhan bukan hanya merubah hidupnya, namun juga merubah seluruh keluarganya. Kini seluruh keluarganya telah mengenal Yesus sebagai Tuhan dan juru selamat.

“Setelah mengenal Yesus saya merasa damai. Saya sama papa sudah tidak ribut lagi. Kalau dulu saya bantu orang dari apa yang saya dengar (dari roh halus), sekarang saya bisa kasih solusi sesuai dengan apa yang Tuhan mau. Bagi saya Yesus adalah penolong dalam kehidupan saya. Yesus yang sudah selamatkan saya, Dia tujuan hidup saya,” demikian Esther menutup kesaksiannya.

Tradisi keluarga tanpa sadar bisa membuka celah untuk roh jahat masuk dalam kehidupan keluarga, untuk itu penting sekali orangtua mencermati tradisi dan apa yang diajarkan kepada anak-anaknya. Hal yang lebih penting lagi, adalah membawa anak-anak mengenal Yesus sebagai Tuhan sejak dini, sehingga mereka bisa bertumbuh menjadi pribadi yang takut akan Tuhan dan hidup dalam rencana-Nya. (Kisah ini ditayangkan 27 Juni 2011 dalam acara Solusi Life di O’Channel).

Sumber Kesaksian:

Esther Shinta Samali (jawaban.com)

Kekayaan Hancurkan Cinta Andy dan Hui Ming

Tuesday, 4 January 2011, 8:42 | Category : Pengampunan, Pertobatan
Tags : , , ,

Bagaimana cara bertemunya dua insan yang saling mencintai kadang tidak dapat di duga. Contohnya Andy, ia jatuh cinta dengan seorang gadis di Taiwan dan berhasil memboyongnya pulang ke Indonesia.

Wu Hui Ming, gadis Taiwan tersebut kini telah menjadi istrinya. Tapi ternyata cinta Andy hanya sebatas asmara saja, sebagai seorang suami ia tidak memiliki tanggung jawab. Saat sang istri yang tengah hamil bekerja keras mencari uang dengan berjualan pakaian batik, Andy malah menggunakan uang bahkan perhiasan istrinya untuk taruhan ketika main badminton.

Tidak hanya itu, Andy yang menganggur tidak mau saat diajak untuk memulai sebuah usaha baru.

“Saya sih tadinya ngga setuju, ngapain sih jualan panci. Tapi ya, karena papa juga marah, ya saya jalankan sambil males-malesan.”

Tapi berkat dukungan sang istri, Andy berhasil dalam usahanya. Hanya dalam waktu kurang dari 15 tahun, Andy sudah berlimpah dengan harta.  Penghasilannya per bulan mencapai 130 hingga 150 juta membuatnya mampu mengirim anak-anaknya bersekolah di luar negeri. Tapi semua keberhasilan itu membuat Andy besar kepala dan lupa diri, bahkan ia tega mengorbankan perasaan istrinya. Dengan uang hasil kerja kerasnya itu ia merasa memiliki hak untuk melakukan apa saja, termasuk menikmati kehidupan malam.

“Sampai pagi baru pulang, kadang pulangnya mabok-mabok gitu,” ucap Hui Ming. “Sering saya ingin pisah dari dia, pingin cerai.”

Bukan hanya istrinya yang menderita karena ulah Andy, anak-anaknya walaupun bergelimang dengan harta ternyata juga tidak merasakan kebahagiaan. Anak-anaknya yang berada di luar negeri ternyata juga mengkonsumsi minuman keras dan rokok. Hui Ming begitu kaget melihat semua itu saat ia mengunjungi anaknya.

“Kenapa kamu bisa jadi begini?”

“Mama kira uang yang mama kasih tiap bulan bisa bikin bahagia? Bukan itu ma, yang aku butuhin itu perhatian dari mama dan papa..” ungkap anak perempuan Andy.

Keadaan bertambah buruk ketika Andy memutuskan untuk berhenti bekerja, dengan dalih mencukup kebutuhan keuangan keluarga, Andy berjudi. Tapi kenyataannya bukan menghasilkan uang, ia malah kalah judi milyaran rupiah.

Hui Ming yang sudah tidak tahan dengan ulah Andy akhirnya memutuskan akan bunuh diri untuk mengakhiri semua penderitaannya.

“Saya sudah beli obat tikus,” tapi di saat kritis itu tiba-tiba Hui Ming teringat pesan seorang teman yang memintanya untuk berdoa pada Tuhan jika menghadapi masalah. Ia pun berdoa dan berseru kepada Tuhan, dan saat itu Tuhan berbicara secara langsung padanya.

“Saya mendengar suara Tuhan, ‘Suamimu dan anak-anakmu masih membutuhkan kamu. Kamu adalah orang yang penting. Tugasmu belum selesai.’”

Akhirnya Hui Ming pun mengurungkan niatnya bunuh diri. Untuk membantu suaminya melunasi hutang, ia merelakan semua perhiasannya, rumah, tanah dan mobil dijual untuk melunasi hutang, tapi semua itu masih belum cukup. Andy pun mencoba meminjam uang pada adik-adiknya. Tapi, sekalipun Andy telah memohon-mohon, bantuan tak juga di berikan. Bahkan mereka memandang rendah dirinya. Hingga suatu hari seorang teman datang membawa kabar baik kepadanya.

“Dia sepertinya bisa lihat keadaan saya yang letih lesu dan berbeban berat yang butuh pertolongan,” demikian tutur Andy.

Temannya itu membawa Andy untuk mengenal Yesus Kristus yang telah mati dan menebus dosa-dosanya. Namun baru saja Andy mengenal Kristus, sebuah penyakit menyerangnya dan membuatnya terbaring di rumah sakit. Bahkan dokter memberikan vonis, penyakit paru-paru yang diidapnya itu akan segera merengut nyawanya. Dalam kondisinya yang tidak berdaya itu, Hui Ming yang selama ini ia kecewakan, merawatnya dengan penuh kasih dan kesabaran.

“Dia melayani saya dengan mulut diam, hal itu membuat saya hancur hati. Saya pikir ini adalah waktu yang paling tepat untuk minta ampun sama istri.” Hari itu, diranjang rumah sakit tempat Andy terbaring, ia mengaku pada sang istri bahwa ia pernah selingkuh.

Hui Ming sangat kaget dan terluka menghadapi kenyataan itu, namun ia mengingat kasih Tuhan yang telah mati menebus dosanya, “Saya harus maafin dia, sebab Tuhan juga telah memaafkan saya.”

Hui Ming mengusap kepala Andy dengan penuh kasih sayang dan mengatakan bahwa ia mengampuninya. Hal ini membuat Andy seperti mendapat siraman air dari sorga. “Saya peluk dia, dan disitu terjadi pemulihan yang dasyat sekali,” ungkap Andy. “Setelah saya mengerti semua ini, saya katakan pada anak istri saya bahwa kita lebih kaya dari siapapun yang ada di dunia ini.”

Kini Andy telah diubahkan Tuhan menjadi seorang suami dan ayah yang sangat bertanggung jawab kepada keluarganya. “Setelah kami mengenal pribadi Yesus ini, kehidupan kami tidak pernah tidak merasa damai. Damai dan sukacita. Ketika kita mau datang kepada Dia, Dia dapat memberikan harapan hidup yang benar-benar nyata.” (Kisah ini ditayangkan 30 Desember 2010 dalam acara Solusi Life di O’Channel)

Sumber Kesaksian:

Andy Surya & Wu Hui Ming (jawaban.com)

Hans, Bintang Film Laga Yang Terpuruk Karena Judi

Sunday, 31 October 2010, 20:46 | Category : Pertobatan
Tags : , , , , ,


Video Kisah Nyata Gila Judi

Kecintaannya pada ilmu bela diri mengantarkan Hans Wanaghi masuk kedunia film laga. Hal ini awalnya hanyalah sebuah mimpi baginya yang hanyalah anak dari daerah dan keluarga sederhana.

“Dari nonton-nonton film ini (film laga), timbul keinginan, ‘Saya kan punya kemampuan bela diri, kenapa ngga sekalian aja jadi pemainnya.’ Tapi hanya sebatas impian, karena saya merasa saya di daerah.”

Impian itu terus bertumbuh di hati Hans, hingga suatu hari sebuah kejadian membuat masa depannya seakan telah hancur.

“Papa saya meninggal, perekonomian keluarga kami hancur. Disitu timbul tekad, suatu hari nanti saya harus merubah keadaan perekonomian keluarga.”

Hans yang akhirnya melanjutkan SMA-nya di Jakarta semakin memperkuat tekadnya untuk menjadi populer dan sukses. Apa lagi ketika ia menyaksikan beberapa teman sekolahnya yang berhasil menjadi artis, impiannya mulai menyala kembali. Suatu hari pintu kesempatan terbuka baginya, ia pun menyambarnya.

“Pada saat itu pemilihan “Abang None Jakarta,” saya coba ikuti. Kebetulan saya mendapat predikat sebagai salah satu abang Jakarta di tahun 83. Disitu, ada salah satu none yang sudah sering ikut drama-drama di televisi. Saya diajak dan di casting lalu diterima. Karena saya baru, jadi dikasih peran figuran untuk coba dulu. Disitulah awal karir saya hingga ke layar lebar.”

Jalan menjadi seorang bintang sudah terbuka lebar di depan Hans. Tidak hanya ketenaran, uang pun mengalir dengan deras ke kantongnya. Namun hal tersebut membuatnya lupa diri dan jatuh dalam dunia seks bebas.

“Saat saya ditawarkan menjadi pemeran utama di sebuah film kolosal, disitulah saya baru merasa inilah dunia saya. Saya semakin populer dan terlena. Saya lagi istirahat shooting, tiba-tiba ada yang mengetok pintu. Pada saat itulah terjadi hubungan suami istri.”

Bergonta-ganti wanita adalah hal biasa bagi Hans, bahkan dirinya sama sekali tidak merasakan bahwa apa yang telah dilakukannya adalah sesuatu yang salah.

Hati Hans semakin melambung saat ia sudah berhasil mendirikan rumah produksi sendiri dan bisa membeli mobil dan rumah mewah. Namun harta telah membutakan mata hatinya, Hans malah terperosok dalam perjudian.

“Dipuncak kesuksesan saya itu, disitu tidak membuat saya bersyukur. Malah saya jatuh dalam perjudian. Memang awalnya membuahkan hasil, sepertinya gampang sekali. Selama masih ada uang ditangan, saya akan terus pergunakan untuk judi.”

Namun malang tak dapat ditolak, kekalahan membuat Hans kehilangan semua hartanya.

“Saya mengalami putus asa, saya sempat stag. Pada saat itu saya baru menyadari bahwa selama ini saya telah menyia-nyiakan apa yang saya miliki.”

Hans mencoba bangkit, ia mulai melamar pekerjaan ke berbagai tempat namun hal itu bukanlah sesuatu yang mudah. Penolakan demi penolakan ia terima. Hans akhirnya memulai usaha air minum gallon.

“Saya dulu direktur, namun kini saya angkat-angkat gallon sendiri. Saat itu sebenarnya hati kecil saya menangis.”

Sepertinya Tuhan tidak ingin membiarkan Hans terus meratapi nasibnya. Seorang teman datang dan mengajaknya untuk mengikuti sebuah camp khusus pria.

“Sesi demi sesi saya ikuti, hingga pada malam harinya ketika pembicara mengatakan bahwa segala sesuatu yang ada dalam hidup ini bukanlah milik kita, semua titipan dari Tuhan. Disitu hati saya mulai tersentuh, saya merasa kalau saya sendiri adalah milik Tuhan, masakah saya menyia-nyiakan hidup saya. Disitu saya merasa kelegaan, saya merasa Tuhan Yesus begitu baik. Saya yang tidak bisa bertanggung jawab terhadap berkat yang Tuhan berikan, tapi Tuhan tetap mengasihi saya. Masih mau menyadarkan saya, masih mau menerima saya kembali.”

Sejak saat itu, Hans mengambil keputusan untuk meninggalkan dosa-dosanya dan bersungguh-sungguh hidup untuk Tuhan.

“Saya baru menyadari bahwa saya ini bukan apa-apa. Popularitas dan materi yang pernah saya miliki ternyata tidak bisa membantu saya, tidak bisa mengangkat saya kembali. Hal itu membuat ambisi saya untuk kembali ke profesi saya yang dulu hilang. Jika saya bandingkan, saya kini jauh merasakan ketenangan. Kedamaian yang saya rasakan yang berasal dari Tuhan Yesus.” (Kisah ini ditayangkan 27 Oktober 2010 dalam acara Solusi Life di O’Channel).

Sumber Kesaksian:

Hans Wanaghi (jawaban.com)

Saksikan kisah selengkapnya dalam video dibawah ini:

Gigolo Bertobat Karena Kematian Anak

Friday, 24 September 2010, 0:17 | Category : Pertobatan
Tags : , ,

Video Kisah Nyata Petualangan Seorang Gigolo

Cinta akan uang terbukti merupakan akar segala kejahatan. Harrys Silitonga adalah buktinya, sekalipun sudah berprofesi sebagai penyanyi di kapal pesiar dia masih menjalani kehidupan sebagai seorang gigolo.

“Bule, Chinese, Korea, Jepang… Saya mencicipi semua.” Demikian tutur Harrys.

Bagi Harrys, asalkan dia sudah mencukupi kebutuhan materi anak dan istrinya hal tersebut sudah cukup. Menurutnya, dengan cara itu mereka merasakan kebahagiaan.

“Semuanya saya cukupkan. Dari anak agar sekolah, mainan untuk anak-anak saya, jadi semuanya saya cukupi supaya mereka bahagia.”

Sewaktu turun dari kapal, sikap manis Harrys yang ditunjukkannya melalui telephone menghilang. Kepada istrinya, ia bersikap sangat kasar. Bahkan dengan beraninya Harrys membawa pulang wanita selingkuhannya, hal ini tentu sangat menyakiti hati istrinya, Claudia.

“Siapa sih orang di dunia yang hatinya tidak sakit teriris melihat pasangan hidupnya bersama wanita lain? Mungkin ia sebagai wanita hanya bisa terdiam, tetapi hati nuraninya pasti menjerit,” ungkap Claudia.

Hingga suatu hari, salah satu anaknya sakit, bahkan di vonis menderita kanker ginjal getah bening. Anaknya, Anggi kian hari kondisinya kian memburuk. Bahkan kemo terapi dan operasi tidak membawa perubahan bagi Anggi.

Suatu saat seorang hamba Tuhan berbicara kepada Harrys bahwa ada dalam Firman Tuhan, ketika bapak berbuat dosa, anak bisa kena akibatnya (Bilangan 14:18).

“Minta ampunlah sama Tuhan, atas perbuatan dosa bapak itu,” nasihat hamba Tuhan itu.

Tidak hanya hamba Tuhan itu, bahkan dalam sakitnya, Anggi sempat menyampaikan dorongan untuk bertobat kepada Harrys.

“Iya, papa bertobat,” demikian Anggi mengiatkan ayahnya. “Pa, jangan bertobat bohong-bohongan. Bertobat itu harus sesungguhnya, Pa”.

Namun sayangnya sang anak kesayangan itu tidak tertolong lagi. Diusianya yang kesebelas, Anggi menghembuskan nafasnya yang terakhir. Harrys dan istrinya sangat terpukul. Bahkan Claudia sempat mengalami stres berat selama tiga bulan. Tetapi kematian Anggi tidaklah sia-sia, Harrys bertobat dengan sungguh-sungguh.

“Saya terus menyesal, saya bayangkan semua yang telah saya lakukan. Setelah saya tahu semua Firman Tuhan ini, komitmen di dalam diri saya, jika bisa… Biarlah saya terus berada di dalam jalan kebenaran,” kisah Harrys.

Pertobatan Harrys berhasil melalui ujian demi ujian, dia berhasil lepas dari minuman keras, bahkan dirinya mendedikasikan dirinya untuk menjadi penyanyi rohani.

“Yesus datang bukan untuk orang benar, Yesus datang untuk orang jahat seperti saya. Saya bersyukur sekali mempunyai Yesus, Tuhan kita. Yesus mengatakan bahwa Dialah Jalan, Kebenaran, dan Hidup. Tak ada seorangpun dapat datang kepada Bapa kalau tidak melalui Yesus. Jadi saya bersyukur, oleh kematian Anggi saya bisa bertobat. Jangan seperti saya, dihajar dulu baru datang kepada Yesus,” demikian Harrys memberikan nasihat. (Kesaksian ini ditayangkan 22 September 2010 dalam acara Solusi Life di O’Channel).

Sumber kesaksian:
Harrys Silitonga (jawaban.com)