<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kisah Nyata dan Kesaksian Kristen &#187; ketagihan judi</title>
	<atom:link href="http://kisahnyatakristen.kiosgeek.com/tag/ketagihan-judi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kisahnyatakristen.kiosgeek.com</link>
	<description>Sumber Kisah Nyata dan Kesaksian Kristen disertai video</description>
	<lastBuildDate>Tue, 22 Jun 2010 03:24:55 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.5.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>A Liang: Pertobatan Wanita Penjudi Berat</title>
		<link>http://kisahnyatakristen.kiosgeek.com/2009/11/04/a-liang-pertobatan-wanita-penjudi-berat/</link>
		<comments>http://kisahnyatakristen.kiosgeek.com/2009/11/04/a-liang-pertobatan-wanita-penjudi-berat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Nov 2009 01:48:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>The Oracle</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pertobatan]]></category>
		<category><![CDATA[Video Kisah Nyata]]></category>
		<category><![CDATA[berusaha keluar dari jeratan judi]]></category>
		<category><![CDATA[Gila Judi]]></category>
		<category><![CDATA[ibu rumah tangga gila judi]]></category>
		<category><![CDATA[ketagihan judi]]></category>
		<category><![CDATA[penjudi  yang bertobat]]></category>
		<category><![CDATA[pertobatan seorang penjudi]]></category>
		<category><![CDATA[wanita gila judi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kisahnyatakristen.kiosgeek.com/?p=1243</guid>
		<description><![CDATA[Video Kisah Nyata Pertobatan Wanita Penjudi
Puluhan juta rupiah ia hamburkan begitu saja, tak ada lagi yang lebih menggairahkan bagi A Liang selain judi.
&#8220;Jika malam-malam ketika suami tidur, saya tidak takut untuk pergi sendiri. Dalam seminggu itu bisa 4 atau 5 kali&#8230; Dan saya memegang banyak uang,&#8221; ungkap A Liang.
Bukan hanya uang, bahkan keluarganya pun ia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align: center;"><object width="400" height="309" data="http://www.jawaban.com/news/mediaplayer.swf" type="application/x-shockwave-flash"><param name="bgcolor" value="#FFFFFF" /><param name="flashvars" value="file=http://www.jawaban.com/news/userfile/videofile/543520d0ea254705adafe8681f415345.flv.xml&amp;caption=false&amp;autostart=false&amp;logo=http://www.jawaban.com/news/logo.png&amp;usefullscreen=true&amp;backcolor=0xFFFFFF&amp;frontcolor=0x000000" /><param name="src" value="http://www.jawaban.com/news/mediaplayer.swf" /><param name="wmode" value="transparent" /></object><br />Video Kisah Nyata Pertobatan Wanita Penjudi</div>
<div><span style="font-size: small;">Puluhan juta rupiah ia hamburkan begitu saja, tak ada lagi yang lebih menggairahkan bagi A Liang selain judi.</span></div>
<p align="justify"><span style="font-size: small;">&#8220;Jika malam-malam ketika suami tidur, saya tidak takut untuk pergi sendiri. Dalam seminggu itu bisa 4 atau 5 kali&#8230; Dan saya memegang banyak uang,&#8221; ungkap A Liang.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-size: small;">Bukan hanya uang, bahkan keluarganya pun ia pertaruhkan demi judi yang dicintainya. &#8220;Saya sampai tidak bisa ngomong lagi. Dia bilang ‘Saya main bukan pakai uang kamu.&#8217; Udah bicara berapa kali dia tidak mau dengar, ya saya tidak bisa ngomong lagi,&#8221; kisah suami A Liang.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-size: small;">Kebiasaan buruk berjudi A Liang tersebut disebabkan karena traumatis masa lampaunya. Derita dan pahitnya hidup telah A Liang rasakan sejak ia kecil. Demi mencari uang, ia sudah bekerja semenjak masa kecilnya.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-size: small;">&#8220;Saya pernah dibawa oleh mama saya untuk jaga adik saya ke tempat main judinya. Mama saya judinya judi rumah tangga. Biar dikit-dikit ya, itu pun tetap sangat pengaruh untuk ekonomi. Kalau mama saya judi, menang, saya dapat makan enak. Kalau mama saya kalah berjudi, saya kena semprot, kena marah, kena pukul,&#8221; kisah A Liang mengenai kebiasaan buruk ibunya yang suka berjudi.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-size: small;">Judi yang ibunya lakukan, terus menariknya dalam kepedihan hidup yang semakin dalam. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-size: small;">Sebenarnya A Liang berjanji bahwa ia tidak ingin seperti ibunya, &#8220;Saya melihat gitu, nanti kalau saya besar saya tidak boleh seperti mama. Saya harus menjagai anak-anak saya. Saya tidak boleh seperti mama saya. Anak-anak mama saya itu terlantar semua.&#8221;</span></p>
<p align="justify"><span style="font-size: small;">Tanpa A Liang sadari, ia telah menjadi sama seperti ibunya. Bahkan kecanduannya semakin menggila. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-size: small;">&#8220;Semuanya, fokus dan pikiran hanya ke judi. Sampai saya gak pergi kerja, pergi judi saja,&#8221; ungkap A Liang.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-size: small;">Hutang, perlahan dan pasti mulai membelenggu hidup A Liang. Ia pun berencana untuk memperbaiki nasibnya dengan pergi ke luar Negeri. Niat baik sang kakak untuk meminjamkan uang sebagai deposit ke bank justru menjadi titik awal kehancurannya. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-size: small;">&#8220;Tak ada rencana, saya ambil uang dari kakak saya itu yang dititipkan ke bank. Akhirnya&#8230; saya berani untuk pakai berjudi dan habis. Jadi saya kalah 40 juta, masih ada 40 juta, dan saya ingin menang lagi. Saya berpikir kalau saya tidak menang, paling, saya bunuh diri saja. Akhirnya&#8230; Saya bukannya kalah, tapi malah menang banyak. Saya pun ingin untuk main lagi. Pikirannya saya nanti bisa menang lagi, belum cukup untuk kembalikan uang kakak saya. Tetapi akhirnya uang itu&#8230; saya kalah lagi,&#8221; kisah A Liang mengenai bagaimana ia menghabiskan uang pinjaman kakaknya.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-size: small;">Ketakutan mulai menghantui A Liang. Melarikan diri ke sebuah tempat asing menjadi keputusannya guna menutupi rasa malu dan lari dari penagih hutang yang mencarinya.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-size: small;">&#8220;Saya tidak berani pulang ke rumah, saya meninggalkan anak saya. Tapi saya lari sambil main juga, ya berharap siapa tahu nanti masih bisa menang. Akhirnya saya pun tak menang, timbullah lagi niat bunuh diri lagi,&#8221; kisah A Liang. </span></p>
<p align="justify"><img title="A Liang - Pertobatan Wanita Penjudi Berat" src="http://www.jawaban.com/news/userfile/aliang.jpg" border="1" alt="A Liang - Pertobatan Wanita Penjudi Berat" width="100" height="100" align="right" /><span style="font-size: small;">&#8220;Rasanya hidup ini tak ada artinya. Bikin malu semua saudara. Bikin susah orang tua, bikin susah suami. Muka mau ditaruh dimana&#8230;? Lebih baik saya bunuh diri saja,&#8221; pikir A Liang.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-size: small;">Bagi A Liang, kematian menjadi satu-satunya jalan keluar dari semua kesalahan yang telah ia lakukan. Namun sebuah suara lembut, tiba-tiba terdengar dan menyadarkannya. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-size: small;">&#8220;Saya mengasihimu&#8230; Kata suara tersebut. Saya bilang, ‘Benar Tuhan, Kamu masih mengasihi saya?&#8217; Lalu saya bilang, ‘Yesus&#8230; banyak orang benci saya, banyak orang menghina saya, gara-gara kesalahan saya&#8230; Tapi Kamu masih bisa mengasihi saya.&#8217; Tuhan menyuruh saya pulang&#8230; ‘Pulang kepada suamimu, akan kubereskan semua hutang-hutangmu. Percaya saja.&#8217; Satu suara itu terus di telinga saya. Aku mengasihimu. Pulanglah&#8230; pada suamimu,&#8221; kisah A Liang bagaimana Tuhan berbicara langsung kepada dirinya untuk menjadi kuat dan kembali pada keluarganya.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-size: small;">Akhirnya A Liang pun percaya. Ia pun memberanikan diri menelepon suaminya.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-size: small;">&#8220;Saya takut untuk menelepon suami saya. Saya tidak berani, takut rasanya,&#8221; ungkap A Liang.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-size: small;">A Liang pun memberanikan melangkahkan kakinya ke rumah. Tetapi kenikmatan judi tidak semudah itu melepaskan A Liang. Hingga sebuah pernyataan dari sebuah buku yang A Liang baca, kembali menyadarkan A Liang atas semua kesalahannya.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-size: small;">&#8220;Saya baca Firman Tuhan dan saya temukan bahwa Tuhan itu mengasihi, mengasihi semua anak-anakNya. Tapi Tuhan tak mau dipermainkan, kata dalam Firman itu. Seringkali saya membaca Firman Tuhan itu, selalu tersentuh hati saya. Jadi, saya tidak mau main-main lagi sama Tuhan. Saya harus membereskan semuanya,&#8221; kisah A Liang.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-size: small;">Maka A Liang pun berusaha untuk tidak judi lagi. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-size: small;">&#8220;Semenjak tahun 2003 sampai sekarang, saya tidak bermain judi lagi. Judi, buntut, apapun saya tidak main judi lagi,&#8221; kisah A Liang.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-size: small;">A Liang telah terlepas dari judi yang mengikatnya selama bertahun-tahun. Satu demi satu hutangnya pun telah ia lunasi dan kebahagiaan telah kembali dalam keluarga ini. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-size: small;">&#8220;Kalau kepingin kaya, itu tidak salah. Tapi kalau pingin kaya dari berjudi, itu tidak mungkin,&#8221; ujar A Liang.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-size: small;">&#8220;Rumah tangga saya sudah mau hancur-hancur, Tuhan sudah pulihkan. Keuangan saya, Tuhan juga sudah pulihkan. Tak ada satu manusiapun bisa memberi saya damai sejahtera, hanya Tuhan Yesus,&#8221; tambah A Liang. <em>(Kisah ini ditayangkan 2 September 2009 dalam acara Solusi Life di O&#8217;Channel).<br />
</em></span></p>
<p align="justify"><span style="font-size: small;"><em><strong>Sumber Kesaksian:</strong><br />
A Liang (<a href="http://www.Jawaban.com" target="_blank">jawaban.com</a>)<br />
</em></span></p>
<p align="justify"><img title="A Liang - Pertobatan Wanita Penjudi Berat" src="http://www.jawaban.com/news/userfile/aliang1.jpg" border="1" alt="A Liang - Pertobatan Wanita Penjudi Berat" width="100" height="100" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kisahnyatakristen.kiosgeek.com/2009/11/04/a-liang-pertobatan-wanita-penjudi-berat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kalah Judi Aku Jadi Ingin Mati</title>
		<link>http://kisahnyatakristen.kiosgeek.com/2009/10/01/kalah-judi-aku-jadi-ingin-mati/</link>
		<comments>http://kisahnyatakristen.kiosgeek.com/2009/10/01/kalah-judi-aku-jadi-ingin-mati/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Oct 2009 01:22:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>The Oracle</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pertobatan]]></category>
		<category><![CDATA[Video Kisah Nyata]]></category>
		<category><![CDATA[gila harta]]></category>
		<category><![CDATA[Gila Judi]]></category>
		<category><![CDATA[gila kekayaan]]></category>
		<category><![CDATA[ketagihan judi]]></category>
		<category><![CDATA[pertobatan penjudi]]></category>
		<category><![CDATA[rumah tangga rusak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kisahnyatakristen.kiosgeek.com/?p=1208</guid>
		<description><![CDATA[Video Kisah Nyata Pertobatan Seorang Penjudi
Baginya lebih baik tidak makan dari pada tidak main judi. Judi sudah menjadi bagian dari kehidupan Petrus Edi Widjaya, bahkan lebih penting daripada kehidupan keluarganya sendiri.
&#8220;Saat itu, saya lebih baik ngga makan dari pada ngga judi. Judi itu sudah menjadi bagian hidup saya. Jadi kalau tidak berjudi itu seperti ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><embed src="http://www.jawaban.com/news/mediaplayer.swf" bgcolor="#FFFFFF" type="application/x-shockwave-flash" wmode="transparent" width="400" height="309" flashvars="file=http://www.jawaban.com/news/userfile/videofile/ff3b712b894687fe1a9dece65dbf726a.flv.xml&#038;caption=false&#038;autostart=false&#038;logo=http://www.jawaban.com/news/logo.png&#038;usefullscreen=true&#038;backcolor=0xFFFFFF&#038;frontcolor=0x000000"></embed><br />Video Kisah Nyata Pertobatan Seorang Penjudi</p>
<p align="justify"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Baginya lebih baik tidak makan dari pada tidak main judi. Judi sudah menjadi bagian dari kehidupan Petrus Edi Widjaya, bahkan lebih penting daripada kehidupan keluarganya sendiri.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">&#8220;Saat itu, saya lebih baik ngga makan dari pada ngga judi. Judi itu sudah menjadi bagian hidup saya. Jadi kalau tidak berjudi itu seperti ada yang kurang. Judi yang saya lakukan bukan hanya main kartu. Segala permainan yang bisa dijudikan, saya judikan. Waktu itu karena judi sana-sini dilarang, akhirnya saya sama teman-teman duduk di pinggir jalan raya, kita hitung bajaj yang lewat dalam </span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">lima</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"> menit ada berapa. Hitung ganjil genap, jadi contohnya 7 yang lewat dalam </span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">lima</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"> menit, yang kalah harus bayar. Saya bisa habis jutaan dengan judi seperti itu,&#8221; demikian tutur Edi sambil tertawa.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Tidak berhenti disitu, obsesi Edi untuk bisa cepat kaya dengan judi membuatnya berani menipu orang-orang ketika berjudi. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"><img src="http://www.jawaban.com/news/userfile/060509-ATS-4.jpg" alt="" width="100" height="100" align="right" />&#8220;Saya mulai akal-akalan, ngerjain orang main judi di billiard. Kalau saya liat orang yang ngga begitu bisa main, saya tawarin, ‘Pak, ayo main sama saya pak..&#8217; Dan sewaktu main saya pura-pura tidak begitu bisa main. Pukulan pura-pura salah sini, salah </span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">sana</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">. Akhirnya bapak itu tergoda juga, dan masuk dalam perangkap saya, sehingga akhirnya mau taruhan. Saya permainkan terus, saya buat angkanya seolah-olah orang itu kalahnya, kalah tipis. Saya buat orang itu penasaran, sehingga saya bisa mendapatkan uang yang banyak dari judi billiard. Hal itu seringkali saya lakukan.&#8221;</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Uang adalah motivasi yang membutakan mata Edi sehingga dia berani melakukan segala cara demi mencapai kemenangan dalam berjudi. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">&#8220;Ketika saya main judi, ketika saya menang, dan saya memiliki banyak uang, sehingga dengan uang itu saya gampang sekali memerintah orang. Dengan uang saya menjadi lebih kuat dari orang lain. Karena saat itu saya berpikir semua orang bisa dibeli dengan uang. Jadi saya mau apa aja menjadi gampang, jika saya punya uang.&#8221;</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Obsesi Edi terhadap uang dan kekuasaan bersumber dari kepedihan yang dirasakanya sewaktu dia masih kanak-kanak. Konflik dalam keluarga besarnya, teriakan, hinaan dan cibiran dari lingkungan telah membentuknya menjadi seseorang yang menginginkan kekayaan secara instant dan mudah. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"><img src="http://www.jawaban.com/news/userfile/060509-ATS-9.jpg" alt="" width="100" height="100" align="left" />&#8220;Jadi didalam rumah dengan ukuran 10 X 20 dihuni oleh </span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">lima</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"> kepala keluarga. Sehingga setiap pagi, siang, sore bahkan malam selalu terdengar orang berteriak-teriak, dan mencaci maki. Siapapun bisa mencaci maki. Lingkungan tetangga-tetangga saya semuanya tahu, kalau di keluarga saya itu semuanya adalah orang yang sering bikin keributan, dan mereka sering mentertawakan, hal itu membuat saya semakin tertekan. Karena saya masih SMP dan tidak bisa berbuat banyak membuat saya hanya bisa nyimpen, nyimpen, dan nyimpen saja.&#8221;</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Bukan hanya rasa malu atas keluarganya yang membuat Edi merasa tertekan, tapi juga kata-kata yang sering dilontarkan kepadanya. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">&#8220;Mereka sering mengatakan kalau saya itu orang susah, orang miskin, orang yang tidak punya pengharapan, orang yang sudah terbuang. Bahkan saudara-saudara bapak saya yang diluar pun kalau datang ke tempat saya cuek-cuekan. Ngga pernah mau negur. Dan dimata mereka saya itu orang yang sudah tidak punya pengharapan, hal itulah yang tertanam dalam hidup saya. Karena hal tersebut saya berkata suatu saat saya akan balas, saya akan membuktikan kalau saya tidak seperti yang mereka katakan.&#8221;</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Keadaan rumah yang kacau membuat Edi tidak betah dirumah dan mencari hiburan diluar rumahnya. Tanpa disadarinya, langkah kakinya membawanya ke dalam dunia perjudian. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">&#8220;Saya ngga betah dirumah karena saya merasa lingkungan rumah seperti neraka. Jadi setiap pulang sekolah saya keluyuran untuk menghibur hati saya.<span> </span>Saya pergi ke tempat-tempat main game, tempat orang kumpul-kumpul, main judi, dan mereka ajari saya main judi. Tanpa saya sadari saya terjerumus ke dunia perjudian. Akhirnya saya belajar mencuri uang orangtua saya, saya ambil yang ada di laci. Papa saya punya toko sepeda, saya jual barang-barangnya dengan murah untuk main judi. Awal-awalnya ngga ketahuan, tapi lama-lama ketahuan, saya dipukul habis, bahkan saya sempat di usir.&#8221;</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Kemarahan orangtuanya tidak bisa menghentikan kebiasaan Edi untuk bermain judi, bahkan kebiasaannya ini dibawanya terus hingga Edi masuk kedalam pernikahan. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"><img src="http://www.jawaban.com/news/userfile/060509-ATS-6.jpg" alt="" width="100" height="100" align="right" />&#8220;Saya seringkali rebut hanya karena masalah anak. Masalah kecil jadi besar. Akhirnya saya pergi judi, dari pada saya pulang kerumah, saya rebut, saling tidak bicara, saling diam-diaman. Saya merasa tidak ada damai dan sukacita. Padahal saya merasa sudah mencari uang dari pagi sampai sore, dan karena masalah kecil, masalah anak jadi rebut, ya udah.. saya pergi saja..&#8221;</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Judi dijadikan Edi sebagai pelarian atas masalah rumah tangganya. Semua tindakan Edi membuat istrinya sangat terluka, dan dia membalas perbuatan sang suami dengan melampiaskan kemarahannya kepada anaknya bahkan juga bersikap buruk terhadap pada mertuanya.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">&#8220;Karena dia ngga bisa melampiaskan kemarahannya kepada saya, dia melampiaskannya pada anak saya. <span> </span>Anak saya suka dipukul, suka diperlakukan tidak baik. Sementara saya sayang pada anak saya, saya ngga bisa lihat anak saya dimarahin jadi saya marahin lagi istri saya. Jadi saya sakiti dia, dan dia sakiti saya, dalam bentuk prilaku, dalam bentuk perbuatan.&#8221;</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Edi tidak pernah menyadari bahwa apa yang dilakukannya telah membuat hati istrinya terluka sangat dalam.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">&#8220;Saya ngga bisa melayani dia dengan baik, karena setiap kali berhubungan suami istri, hati saya merasa sangat sakit. Saya selalu mengingat bahwa dia sudah menghabiskan banyak harta, dan dia benar-benar sudah membuat hidup saya sangat susah. Saya benar-benar tidak bahagia, tapi suami saya tidak mengetahui hal itu. Saya pernah melukai tangan saya sendiri, dan darahnya saya oleskan ke tembok, karena saya pikir, jika suami saya melihatnya, suami saya akan takut. Takut kalau saya akan benar-benar akan bunuh diri. Ternyata itu tidak mengubahnya juga,&#8221; demikian isteri Edi, Acin bercerita sambil meneteskan air mata. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Semua usaha Acin untuk menyadarkan Edi dengan caranya sendiri berakhir sia-sia, bahkan Edi semakin menjadi-jadi dan keluarga itu mengalami keterpurukan. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">&#8220;Puncaknya sewaktu saya mulai main judi di kasino. Mobil saya gadaiin, saya pinjam uang sama orang-orang </span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">sana</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">. Dengan berharap menang uang banyak, tapi malah berakhir uang habis. Kekalahannya ratusan juta. Saking besarnya saya ngga ada jalan. Sudah ngga bisa bayar. Uang didompet tinggal seribu, tagihan sudah waktunya bayar, besok tukang tagih dating. Ketakutan dan kecemasan menjadi satu menekan saya. Hal itu membuat saya ngga kuat, akhirnya saya pikir saya habisin aja nyawa saya lah. Saya bawa mobil, saya mau tancap gas kenceng-kenceng di Gajah Mada, saya ceburin ke tengah-tengah kali, pasti begitu mobil saya masuk kekali dengan kaca tertutup, saya akan mati kehabisan nafas. Tapi <img src="http://www.jawaban.com/news/userfile/060509-ATS-7.jpg" alt="" width="100" height="100" align="left" />baru sampai di Sawah Besar mau belok ke Gajah Mada tiba-tiba saya mendengar suara, ‘kamu pergi ke gereja&#8230; kamu pergi ke gereja..&#8217; Saya sampai kaget, saya lihat ke belakang, kok ada suara, ‘kamu pergi ke gereja..&#8217; saya </span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">kan</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"> pergi sendiri. Tapi saya ngga keraskan hati, saya kasih tahu istri saya kalau saya mau ke gereja.&#8221;</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Saat itu juga, Edi menelepon istrinya. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">&#8220;Dia telepon saya, tapi dia tidak bilang tahu kalau dia coba mau bunuh diri. Dia bilang, ‘Mami, mulai hari minggu saya mau pergi kegereja.&#8217; Saya benar-benar terkejut waktu itu, karena saya tidak pernah menyangka. Saya seperti mendapatkan sesuatu yang sangat berharga, hingga saya menangis dan terharu,&#8221; demikian Acin menceritakan kejadian waktu itu. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Mulai saat itu Edi dan istrinya mulai kegereja dan belajar kebenaran firman Tuhan. Edi mulai berkomitmen untuk berhenti berjudi, dan dengan kuasa Tuhan, dia dimampukan berhenti total berjudi. Doa sepakat dengan istrinya bahkan membukakan pintu-pintu untuknya bisa membayar hutang-hutangnya. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">&#8220;Dan puji Tuhan, sampai saat ini saya masih dipercayakan oleh Tuhan Yesus untuk membuka usaha showroom mobil. Dan saya diberkati, diberikan anugrah empat orang anak, putra-putri yang begitu luar biasa cerdas, cantik, ganteng dan sehat. Juga Tuhan memberikan seorang istri yang begitu setia, yang selalu mendampingi saya, dan selalu mendoakan saya, dikala saya sulit, dikala saya sedih,<img src="http://www.jawaban.com/news/userfile/060509-ATS-8.jpg" alt="" width="100" height="100" align="right" /> saya percaya semua ini karena kebaikan Tuhan Yesus yang tinggal didalam keluarga saya.&#8221;</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Petrus Edi Widjaya dan keluarganya sudah membuktikan bahwa judi tidak memberikan damai sejatera, kebahagiaan dan sukacita yang didambakan, hanya Yesuslah satu-satunya jalan untuk mendapatkan semua itu. </span><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">(<em>Kisah ini ditayangkan 11 Agustus 2009 dalam acara Solusi life di O&#8217;Channel</em>)</span></p>
<address style="text-align: justify;"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Sumber Kesaksian:</span></strong></address>
<address style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Petrus Edi Widjaya (<a href="http://www.jawaban.com">jawaban.com</a>)<br />
</span></address>
<address style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"><img src="http://www.jawaban.com/news/userfile/060509-ATS-3.jpg" alt="" width="100" height="100" align="left" /></span></address>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kisahnyatakristen.kiosgeek.com/2009/10/01/kalah-judi-aku-jadi-ingin-mati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
